
Di tengah semangat hijrah, sekolah Islam menunjukkan taringnya: tak lagi dipandang sebelah mata, tapi justru memimpin dalam mutu, disiplin, dan prestasi.
Oleh: Ulul Albab; Akademisi, Pendidik, Ketua ICMI Jawa Timur
Tagar.co – Sejak dulu saya meyakini bahwa sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Islam seharusnya lebih baik daripada sekolah-sekolah negeri. Bukan karena label agama, melainkan karena nilai, kedisiplinan, dan integritas yang menyatu dalam sistem pembelajaran mereka.
Tentu, untuk mencapai prestasi seperti itu diperlukan komitmen dan kerja keras yang tidak biasa. Saya sendiri disekolahkan oleh orang tua di lembaga pendidikan Islam, dari jenjang ibtidaiyah hingga aliyah. Itu pun di lingkungan pesantren.
Baca juga: Awas, Jangan Terlewat 1 Muharam 1447
Anak-anak saya pun saya sekolahkan di lembaga pendidikan Islam, yakni Al-Hikmah Surabaya, dari TK hingga SMA. Baru setelah itu mereka melanjutkan ke perguruan tinggi negeri papan atas: Universitas Brawijaya, UGM, dan ITS. Semua dimulai dari sekolah Islam.
Karena itu, saat mendengar kabar bahwa Jakarta Islamic School (JISc) mencetak 27 siswanya yang diterima di Universitas Indonesia (UI), saya tidak kaget. Saya hanya berkata dalam hati, “Akhirnya momentum itu datang juga.”
Meski sesungguhnya di Jawa Timur hal semacam itu sudah saya saksikan: lulusan sekolah Islam seperti Al-Hikmah Surabaya, LPI Amanatul Ummat di Pacet Mojokerto, Tzkiyah di Batu Malang, dan lainnya.
Bukan Sekadar Sekolah Agama
Kembali ke JISc, sekolah ini tahun ini mencetak sejarah istimewa: mengalahkan sejumlah sekolah negeri unggulan di Ibu Kota, yang selama ini dipuja karena menjadi langganan kampus-kampus top seperti UI, FK UGM, atau ITB. Tapi kali ini, sekolah Islam tampil sebagai juara: JISc.
Sebagian siswa mereka diterima di UI lewat jalur Talent Scouting, ada pula yang melalui SNBT, PPKB, bahkan SIMAK KKI. Mereka menembus fakultas-fakultas bergengsi, termasuk Kedokteran UI.
JISc memang sekolah Islam. Tapi bukan sekadar sekolah agama. Ia menggabungkan tiga kurikulum sekaligus: kurikulum nasional, kurikulum internasional (Edexcel), dan tahfiz Al-Qur’an. Kombinasi yang padat. Tapi hasilnya luar biasa.
Kuncinya, menurut pendirinya, adalah satu: thinking skills. Anak-anak dilatih untuk berpikir kritis, kreatif, dan solutif. Mereka tidak hanya menghafal dan patuh, tapi juga aktif dan adaptif.
Saya percaya. Sebab saya tahu rasanya membimbing anak-anak menjalani pendidikan Islam yang integratif. Rasanya seperti membesarkan tunas yang tumbuh ke dua arah sekaligus: akar ke bumi, pucuk ke langit.
Kebangkitan Sekolah Islam
JISc hanyalah satu contoh. Tapi semoga menjadi inspirasi. Karena kita masih sering merasa rendah diri saat berbicara soal sekolah Islam. Seolah-olah sekolah Islam itu pilihan cadangan, atau sekadar tempat “menyelamatkan akhlak”. Padahal tidak! Sekolah Islam justru bisa menjadi pusat keunggulan.
Apa yang dilakukan JISc bisa direplikasi, dengan penyesuaian konteks lokal. Yang penting, ubah dahulu pola pikirnya. Bahwa Islam tidak bertentangan dengan prestasi. Agama tidak menjegal nalar. Dan sekolah Islam bukan menara gading. Melainkan rumah masa depan. Itulah semangat pendidikan yang memadukan imtaq dan iptek secara harmonis.
Hadiah Tahun Baru Islam
Karena itu, kabar ini bukan semata-mata prestasi JISc. Tapi kabar baik bagi kita semua. Bahwa pendidikan Islam bisa bersaing. Bisa menang. Bahkan bisa memimpin.
Tentu saja kabar baik ini layak kita apresiasi, terlebih di momen Tahun Baru Islam. Di tengah suasana refleksi hijriah, berita ini seolah menjadi hadiah terindah dan api semangat yang menyala-nyala untuk seluruh lembaga pendidikan Islam di Indonesia.
ICMI, sebagai bagian dari komitmen kebangkitan umat, tidak hanya senang dan bangga. Kami akan terus hadir, mendorong, dan mendampingi. Dengan segala daya dan strategi, agar lembaga pendidikan Islam melesat maju. Bukan hanya karena kekuatan imtaq-nya, tapi juga karena keunggulan iptek-nya. Bukan hanya unggul dalam moral, tapi juga dalam inovasi.
Semoga semangat ini menjadi energi umat dalam menapaki Tahun Baru Islam. Tahun hijrah. Tahun bangkit. Tahun pendidikan Islam Indonesia benar-benar naik kelas—di dunia dan di akhirat. Amin. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












