Feature

Dari Krembung, Kisah Keteladanan Ibrahim dan Hajar Digaungkan Kembali

29
×

Dari Krembung, Kisah Keteladanan Ibrahim dan Hajar Digaungkan Kembali

Sebarkan artikel ini
Anggota KPU Kabupaten Sidoarjo Ahmad Nidhom S.Pd khotbah di Jemaah PCM Krembung (Tagar.co/Mahyuddin Syaifulloh)

Di tengah gema takbir yang menggema di lapangan Krembung, khutbah Iduladha mengajak jemaah menyelami kembali ujian-ujian Nabi Ibrahim dan Hajar—bahwa keajaiban tidak lahir dari diam, tapi dari ikhtiar penuh iman.

Sidoarjo – Gema takbir mengalun khidmat di langit pagi Desa Krembung, Kabupaten Sidoarjo, Jumat (6/6/2025). Jemaah mulai berdatangan ke lapangan desa untuk mengikuti Salat Iduladha 1446 yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembung, Sidoarjo, Jawa Timur.

Sejak sebelum pukul 06.00 WIB, para remaja tampak sibuk mengatur barisan kendaraan. Sepeda motor tertata rapi di sisi utara lapangan, sementara mobil diarahkan ke sisi selatan. Beberapa panitia juga sigap mengarahkan jemaah untuk mengisi shaf terdepan terlebih dahulu.

Baca juga: Nepotisme Mengorbankan Rakyat: Khotbah Busyro Muqoddas di Sidoarjo

Bertindak sebagai imam dan khatib adalah Ahmad Nidhom, S.Pd., anggota KPU Kabupaten Sidoarjo Divisi Hukum dan Pengawasan. Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa setiap manusia pasti diuji oleh Allah, apalagi para nabi dan ulama. Namun, dari mereka umat Islam bisa belajar tentang bagaimana menghadapi ujian dengan keimanan dan keteguhan.

“Nabi Ibrahim selalu diuji. Diuji oleh para raja, diuji oleh bapaknya yang membuat berhala dan menyuruhnya untuk menjual. Tapi Nabi Ibrahim tidak membantah, hanya menjalani. Akhirnya berhala itu pun tidak jadi dijual,” ungkap Nidhom.

Ia melanjutkan, Nabi Ibrahim juga diuji oleh raja yang bengis. Beliau menghancurkan patung-patung yang disembah kaumnya dan dijatuhi hukuman dibakar. Ujian tak berhenti di situ. Setelah menikah dengan Sarah, Nabi Ibrahim belum juga dikaruniai anak. Lalu Sarah meminta Ibrahim menikahi Hajar, dari pernikahan itu lahirlah Ismail.

“Ujian berikutnya adalah ketika Allah memerintahkan Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di padang pasir. Ibrahim menjalankan perintah itu. Hajar pun bertanya, ‘Apakah ini perintah Allah?’ Ketika Ibrahim menjawab, ‘Ya,’ maka Hajar dengan ikhlas berkata, ‘Kalau begitu tinggalkan saja, insyaallah Allah tidak akan meninggalkanku,’” tutur Nidhom.

Di tengah padang pasir tanpa air dan tanaman, bekal Hajar habis, air susu pun berhenti mengalir. Demi menyelamatkan sang anak, ia berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah, berikhtiar mencari air.

“Ini adalah perjalanan pertama mencari kehidupan. Ketika tangisan Ismail berhenti saat Hajar di Marwah, ia mengira anaknya telah tiada. Tapi begitu turun, ia melihat keajaiban terjadi—dari hentakan kaki Ismail, muncul mata air yang kemudian dikumpulkan Hajar. Itulah air Zamzam,” kisahnya.

Nidhom menekankan bahwa keajaiban itu tidak datang dari diam, tetapi dari ikhtiar yang terus menerus.

“Keajaiban akan datang jika kita terus bergerak. Tidak ada rekayasa dalam ikhtiar Hajar. Dari sanalah kemudian muncul tanaman-tanaman, hingga hadir peradaban di tanah gersang itu,” tandasnya.

Khutbah yang menyentuh itu menjadi pengingat bahwa setiap ujian kehidupan dapat dihadapi dengan iman, ikhtiar, dan prasangka baik kepada Allah. Sementara di luar arena salat, panitia kurban juga mulai bersiap menyambut penyembelihan hewan keesokan harinya. (#)

Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni