
Hari Arafah disebut sebagai waktu terbaik untuk berdoa. Tapi kapan waktu paling mustajab bagi Muslim Indonesia? Ikuti waktu wukuf atau waktu lokal?
Oleh: Ulul Albab; Ketua Litbang DPP Amphuri; Ketua ICMI Orwil Jawa Timur; Akademisi Unitomo
Tagar.co – Hari ini, 9 Zulhijah 1446 atau 5 Juni 2025, adalah Hari Arafah—salah satu hari paling agung dalam Islam. Bukan hanya menjadi inti dari ibadah haji melalui wukuf di Padang Arafah, tetapi juga menjadi momentum spiritual yang bisa dirasakan oleh seluruh umat Islam di penjuru dunia, termasuk di Indonesia.
Rasulullah Saw. bersabda, “Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah.” (H.R. Tirmizi)
Baca juga: Jangan Lewatkan Puasa Arafah 9 Zulhijah: ‘Lailatulqadar’ Versi Siang Hari
Doa pada Hari Arafah dipercaya sebagai salah satu doa yang paling mustajab sepanjang tahun. Maka tak heran, setiap kali tanggal 9 Zulhijah tiba, banyak umat Islam bertanya: kapan waktu terbaik untuk berdoa pada Hari Arafah, terutama bagi kita yang tidak sedang berhaji?
Mengikuti Waktu Wukuf di Arafah atau Waktu Lokal?
Dalam praktiknya, terdapat dua pendekatan di kalangan ulama dan masyarakat dalam menentukan waktu terbaik berdoa di Hari Arafah:
1. Mengikuti Waktu Wukuf di Arafah
Wukuf di Arafah dilakukan mulai waktu Zuhur hingga Magrib waktu setempat di Makkah. Jika dikonversikan ke Waktu Indonesia Barat (WIB), waktu tersebut berkisar antara pukul 16.00 hingga 22.00 WIB.
Pendekatan ini berlandaskan pandangan bahwa kemuliaan Hari Arafah berpuncak pada saat wukuf, sehingga waktu itulah yang diyakini sebagai saat paling mustajab untuk berdoa, meskipun kita tidak berada di sana secara fisik.
2. Mengikuti Waktu Lokal (9 Zulhijah di Indonesia)
Sebagian ulama dan masyarakat berpegang pada pandangan bahwa keutamaan Hari Arafah bisa diraih selama siang hari tanggal 9 Zulhijah di wilayah masing-masing. Oleh karena itu, berdoa dari pagi hingga petang di waktu lokal juga sangat dianjurkan, terutama pada waktu Duha, setelah Zuhur, dan menjelang Magrib.
Rekomendasi Praktis: Gabungkan Keduanya
Daripada terjebak dalam perdebatan, umat Islam di Indonesia dapat mengambil pendekatan yang bijak: memperbanyak doa sepanjang hari Arafah (berdasarkan waktu lokal) dan memaksimalkan doa pada saat wukuf berlangsung (pukul 16.00–22.00 WIB).
Ini adalah bentuk ikhtiar spiritual yang insya Allah tidak akan sia-sia. Bukankah Rasulullah Saw. sendiri mencontohkan agar kita bersungguh-sungguh dalam berdoa dan memohon pada saat-saat yang mustajab?
Puasa Arafah: Amalan Istimewa bagi yang Tidak Berhaji
Bagi yang tidak melaksanakan haji, Rasulullah Saw. juga menganjurkan berpuasa pada Hari Arafah. Beliau bersabda:
“Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah, menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (H.R. Muslim)
Selain berpuasa, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak:
-
Zikir dan istigfar
-
Tahlil, tahmid, dan takbir
-
Doa untuk keluarga, guru, bangsa, dan seluruh umat Islam
-
Sedekah dan berbagai kebaikan sosial
Hadirkan Arafah di Hati Kita
Meskipun secara fisik kita jauh dari Padang Arafah, bukan berarti kita tak bisa “hadir” secara spiritual. Dengan niat yang tulus, hati yang khusyuk, dan lisan yang basah oleh doa, kita semua bisa menjadi bagian dari gelombang rahmat yang Allah curahkan pada hari yang mulia ini.
Mari kita sambut Hari Arafah dengan penuh kesungguhan. Jadikan sore hingga malam hari, antara pukul 16.00 hingga 22.00 WIB, sebagai waktu khusus untuk berdoa, bertafakur, dan bermunajat.
Semoga Allah Swt. menerima doa-doa kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita suatu hari nanti untuk merasakan langsung wukuf di Padang Arafah. Allahua‘lambisawab. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












