Feature

Jatuh Bangun Nabila: Dari Gagal Berkali-kali hingga Raih 35 Penghargaan

35
×

Jatuh Bangun Nabila: Dari Gagal Berkali-kali hingga Raih 35 Penghargaan

Sebarkan artikel ini
Nabila Eka Agustin dan Yusuf Ali Putro di Workshop Literasi “Antara Ilmiah dan Imajinasi” yang digelar Smamsatu, Senin (26/5/25)

Nabila Eka Agustin berbagi kisah menyentuh: puluhan kali kalah, sempat menangis di dinas pendidikan, hingga akhirnya meraih 35 piala nasional. Rahasianya? Pantang menyerah, fokus target, dan patuh pada pembina.

Tagar.co — Senin, 26 Mei 2025, langit mendung menyelimuti SMA Muhammadiyah 1 Gresik (Smamsatu). Namun, suasana di Aula lantai 2 justru penuh energi. Ratusan siswa SMA Muhammadiyah 1 Smasatu dan SMP se-Gresik berkumpul dalam Workshop Literasi “Antara Ilmiah dan Imajinasi” yang digelar bekerja sama dengan Perpustakaan Teras Mentari.

Baca berita terkait: Penulis Hebat, Pembaca Hebat: Inspirasi Alumnus Smamsatu dari Guru Legendaris Pak Zimam

Di antara para narasumber yang hadir, satu sosok menarik perhatian: Nabila Eka Agustin, Mahasiswi Semester IV Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Airlangga. Sosoknya sederhana, tetapi prestasinya mencengangkan: 35 piala tingkat nasional yang diraihnya selama sekolah.

Namun siapa sangka, di balik sederet prestasi itu, perjalanan Nabila penuh luka, jatuh, dan air mata.

Jatuh Berkali-kali, Nangis di Dinas

“Masih semangat ya? Senyum dong! Kalau senyum itu kelihatan cantik, kelihatan ganteng,” ucapnya menyapa para peserta.

Nabila mulai bercerita, perlahan, jujur, tanpa ditutupi. “Untuk menjadi Nabila yang sekarang itu melalui proses yang sangat panjang. Dulu aku juga duduk seperti kalian, siswa SMP yang mendengarkan materi di depan, bahkan aku nggak nyangka sekarang bisa seperti ini,” tutur Juara 1 Duta Pelajar Putri SMA Awards 2022 yang diadakan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

Baca Juga:  Siswi Kelas X Smamsatu Ikuti PKDA, Fokus Ilmu dan Akhlak

Ketika masih di SMP Negeri 1 Balongpanggang Gresik, ia dikenal sebagai siswa yang rajin ikut lomba. Tapi jangan bayangkan ia selalu menang. Faktanya, ia berkali-kali kalah. “SMP kelas 7 ikut lomba karya tulis ilmiah, nangis di dinas. Kenapa? Menang ya, Mbak? Juara satu ya, Mbak? Enggak! Nangisnya karena kalah. Kakak-kakak kelas itu bawa piala semuanya, tapi aku sendirian kalah. Padahal sudah menyiapkan, tapi kalah,” kenang Nabila dengan mata berbinar.

Bukan cuma sekali, Nabila mengalami kekalahan di banyak bidang: lomba puisi, esai, pidato. Ia bahkan sempat meragukan diri sendiri. “Sampai kelas 7 itu mikir-mikir: apa aku nggak passion ya di lomba?”

Dua siswa SMP (kiri) dalam ice breaking yang diadakan panitia. (Zada Kanza Makhfiya Mohammad)

Mengejar Lomba Apapun, sampai Memasak pun Ikut

Titik baliknya datang dari arahan sang pembina, Yusuf Ali Putro, sang mentor menulisnya. “Pak Yusuf bilang, kalau mau ikut lomba, jangan hanya ikut-ikutan, harus punya target: juara satu. Kalau punya target juara satu, usahanya harus lebih keras lagi,” ungkapnya Nabila.

Sejak itu, ia mulai serius menata strategi. Sepekan, ia menargetkan mengikuti minimal 2–3 lomba nasional. Tak peduli bidangnya apa, ia terjun saja. “Entah itu lomba menulis, orasi, apa pun aku ikuti. Sampai lomba memasak pun tak ikuti. Nggak peduli itu bidangnya apa passion-nya di mana. Pokoknya ikut semuanya!” katanya sambil tersenyum.

Baca Juga:  Smamsatu Gresik Buka Akses Studi Global ke 10 Negara

Yang terpenting, menurut Nabila, adalah mau mendengarkan pembina. “Kadang anak-anak tuh males ikut arahan pembina, padahal mereka tahu kekurangan kita, tahu kriteria lomba. Jadi kalau ikut kompetisi, ikuti semia arahan pembina. Jangan pernah takut gagal.”

Kalimat yang selalu ia pegang teguh: “Gagal sekali, gagal dua kali, sampai kegagalan itu bosan sama kamu.”

Muncul Kemenangan, Satu demi Satu

Usahanya mulai membuahkan hasil saat ia naik ke kelas 8. “Ikut lomba karya tulis ilmiah lagi, dan berhasil juara satu. Dari situ mulai muncul kemenangan demi kemenangan. Harapan satu di lomba menulis, juara satu di KTI (karya tulis ilmiah), terus berlanjut sampai sekarang bisa mengumpulkan 35 piala nasional,” ujar Juara II Lomba Nasional Menulis Surat untuk Kartini yang diadakan Kominfo RI.

Ia tidak hanya menyampaikan kemenangannya dengan angka-angka. Ia juga menekankan betapa mental pantang menyerah adalah bekal utama. Baginya, setiap kekalahan adalah batu loncatan, bukan tanda untuk berhenti.

Testimoni Guru

Bu Yulis, guru pendamping Nabila saat di SMP Negeri 1 Balungpanggang, memberikan kesaksian menyentuh. Dia bersama Yusuf di SMP Negeri 1 Balungpanggang, membersamai Nabila mulai dari awal gulung-gulung sampai sekarang.

Baca Juga:  Menko Pangan Kunjungi Smamsatu Gresik: Pantas Saja Jadi SMA Terbaik, Siswanya Keren

“Nabila itu anak yang nggak pernah bilang ‘nggak bisa’. Selalu mau berusaha, selalu mau mencoba. Kalau disuruh apa saja, selalu langsung usaha, nggak ada kata ‘nggak bisa’. Bahkan kalau disuruh hafalan pun, walau mungkin nggak harus bisa sempurna, dia selalu langsung effort, selalu langsung kerja. Itu mungkin salah satu semangat dan keinginan yang bikin dia berhasil,” tuturnya. (#)

Pesan untuk Generasi Muda

Nabila lalu menegaskan pesannya kepada adik-adik kelasnya: jangan takut gagal, terus mencoba, dan hargai arahan pembina. Karena di balik setiap piala dan piagam, ada usaha keras, air mata, dan semangat pantang menyerah yang membentuk karakter.

“Kalau aku bisa, kalian pasti juga bisa,” tutupnya sambil tersenyum.

Dan hari itu, di bawah langit mendung, siswa-siswa Smamsatu dan SMP se-Gresik pulang membawa satu pesan penting: bahkan kegagalan pun, kalau dikejar terus, suatu saat akan menyerah dan memberi jalan untuk menang.

Jurnalis Zada Kanza Makhfiya Mohammad Penyunting Mohammad Nurfatoni