
Smamda Sidoarjo bikin kagum Mendikdasmen Abdul Mu’ti. Ribuan prestasi dalam setahun, bangun asrama 23 miliar tanpa dana pemerintah, dan tampilkan sinergi kuat sekolah-guru-orang tua.
Tagar.co – Mendikdasmen, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. mengaku takjub dengan ribuan prestasi yang berhasil diraih siswa-siswi SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo hanya dalam kurun waktu satu tahun.
Hal itu ia sampaikan saat memberi motivasi dalam acara tasyakuran kelulusan siswa kelas XII angkatan ke-46 yang digelar di Auditorium K.H. A.R. Fachrudin, Sabtu (10/5/2025).
Hari itu menjadi momen tak terlupakan bagi ratusan siswa Smamda. Mereka tidak hanya merayakan kelulusan, tetapi juga mendapatkan wejangan langsung dari seorang menteri yang menyaksikan sendiri kemajuan pesat sekolah mereka.
Baca juga: Ribuan Prestasi dan Lompatan Inovasi Smamda di Tahun Ajaran 2024–2025
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti memberikan ucapan selamat sekaligus apresiasi mendalam. Ia mengaku bangga menyaksikan prestasi luar biasa para siswa yang menurutnya menjadi bukti bahwa Smamda layak disebut sebagai outstanding school, istilah yang sebelumnya juga disampaikan oleh Sekretaris PWM Jawa Timur.
“Ini menunjukkan posisi Smamda yang masuk dalam kategori Muhammadiyah Outstanding School,” ujar Mu’ti.
Sebagai bukti nyata kemajuan sekolah, Mu’ti menyebutkan salah satunya adalah pembangunan gedung asrama Smamda Dormitory yang baru saja dia resmikan. Menurut pengakuan kepala sekolah, pembangunan asrama tersebut menelan biaya sebesar Rp23 miliar tanpa satu rupiah pun berasal dari bantuan pemerintah.
“Selalu ada yang baru di Smamda,” kata Mu’ti, mengenang bahwa setahun lalu dirinya masih meletakkan batu pertama pembangunan gedung tersebut.
Abdul Mu’ti juga memberikan apresiasi kepada para guru, kepala sekolah, dan orang tua siswa atas sinergi dalam mendidik generasi muda sesuai bakat dan minatnya. Ia menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak lepas dari kerja sama empat pilar: sekolah, orang tua, masyarakat, dan media massa.
“Keberhasilan pendidikan, salah satu penentunya adalah kolaborasi antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan media massa,” ucapnya.
Sebagai Mendikdasmen, Mu’ti juga menegaskan arah kebijakan Kemendikdasmen yang mendorong guru agar menjalankan lima peran strategis (5M): menyiapkan, mengajar, menilai, membimbing, dan meningkatkan kompetensi. Menurutnya, dua yang terakhir sering diabaikan dan justru paling krusial.
“Ada sebuah reduksi peran guru yang ditempatkan hanya sebagai fasilitator pembelajaran,” katanya.
Padahal, lanjutnya, guru harus hadir sebagai teladan, motivator, dan mentor. Ia menyayangkan jika guru hanya sibuk dengan proses belajar teknis, tetapi lupa untuk hadir secara emosional dan spiritual bagi murid-muridnya.
Dalam konteks ini, ia mendorong guru untuk juga menjadi pembimbing dan konselor, meskipun bukan berlatar belakang bimbingan konseling (BK). Guru harus mampu menjadi teman curhat dan jembatan antara murid dan orang tua.
Lebih jauh, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya peningkatan kompetensi berkelanjutan. Ia menyebutnya dengan istilah teacher for learning, yang memiliki dua makna: guru mengajar agar murid belajar, dan guru yang terus belajar dalam proses mengajar itu sendiri.
“Guru dalam mengajar itu juga bagian dari proses dia belajar,” tegasnya.
Pesan-pesan ini menjadi refleksi penting dalam tasyakuran Smamda—bukan sekadar perayaan, tetapi juga perenungan tentang masa depan pendidikan dan peran guru sebagai pilar transformasi bangsa. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni












