Feature

Uhamka Temukan Omega-3 dari Mikroalga Mangrove, Siap Saingi Minyak Ikan

61
×

Uhamka Temukan Omega-3 dari Mikroalga Mangrove, Siap Saingi Minyak Ikan

Sebarkan artikel ini
diskusi ilmiah bertajuk “Building a Sustainable World: The Biotech Contribution” yang digelar pada Senin, 22 April 2025

Riset dosen Uhamka ungkap mikroalga mangrove sebagai sumber omega-3 yang unik dan ramah lingkungan. Temuan ini berpotensi besar untuk industri kesehatan, kosmetik, hingga pangan berkelanjutan.

Jakarta – Di tengah geliat riset bioteknologi yang terus berkembang, Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka) tampil memukau dengan terobosannya.

Dalam diskusi ilmiah bertajuk “Building a Sustainable World: The Biotech Contribution” yang digelar pada Senin, 22 April 2025, Uhamka memperkenalkan potensi mikroalga dari ekosistem mangrove sebagai sumber omega-3 yang unik dan menjanjikan.

Berlokasi di Laboratorium FKIP Uhamka, acara ini tak hanya menjadi ruang akademik biasa. Di balik layar mikroskop dan percakapan ilmiah, terpatri misi besar: mengangkat kekayaan hayati Indonesia ke panggung inovasi global. Salah satu sorotan utama datang dari Andri Hutari, dosen Pendidikan Biologi Uhamka yang tengah menempuh studi doktoral di TU Berlin, Jerman.

Baca juga: Lebih dari Setengah Miliar Rupiah ZIS Disalurkan Lazismu Kebayoran Baru

Andri, dengan risetnya yang telah melahirkan paten, memaparkan karakter khas mikroalga mangrove yang mampu menghasilkan omega-3 berkualitas tinggi. “Mikroalga yang berasal dari perairan hutan mangrove ini memiliki karakteristik istimewa dalam menghasilkan omega-3,” ujarnya.

Baca Juga:  Ketua PWM Sulsel dan Rektor Unismuh Serukan Kebersamaan dan Sportivitas Nasional di Olympicad

Omega-3 dari mikroalga ini, lanjutnya, berpeluang besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku dalam industri suplemen, kosmetik, hingga menjadi alternatif minyak ikan yang lebih ramah lingkungan.

Lebih dari sekadar presentasi, Andri menantang peserta untuk memikirkan masa depan riset ini. “Bagaimana agar hasil riset ini tidak hanya berhenti di laboratorium?” tanyanya, mengundang diskusi hangat seputar hilirisasi riset. Ia menekankan bahwa sebuah inovasi akan bermakna bila memiliki orisinalitas, daya saing pasar, serta kepatuhan pada regulasi.

Diskusi ini tidak hanya membahas sains, tetapi juga membongkar tantangan nyata dalam menjembatani dunia riset dengan dunia industri. Andri pun membuka peluang kolaborasi dengan para pelaku usaha agar hasil riset mikroalga ini bisa benar-benar sampai ke tangan konsumen.

Wakil Dekan I FKIP Uhamka, Dr. Ika Yatri, turut menyampaikan pandangannya. Ia mengapresiasi kegiatan ini sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas ekosistem akademik. “Kegiatan akademik yang mampu menghindari ‘banalitas intelektual’—yakni stagnasi pemikiran—adalah sangat penting,” ungkapnya. Ia berharap, kajian seperti ini dapat memicu tumbuhnya budaya berpikir kritis dan inovatif di lingkungan kampus.

Baca Juga:  Haedar Nashir: Penguasaan Iptek Harus Dituntun Akhlak

Senada dengan itu, Kaprodi Pendidikan Biologi, Dr. Rizkia Suciati, menegaskan pentingnya penguatan kapasitas dosen. “Kajian ini menjadi langkah konkret untuk menyelaraskan riset dosen dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu cepat,” ujarnya.

Apa yang dilakukan oleh Uhamka menjadi contoh bagaimana institusi pendidikan tinggi bisa memainkan peran strategis dalam memanfaatkan potensi lokal untuk menjawab tantangan global. Ekosistem mangrove Indonesia, yang selama ini lebih dikenal sebagai penyangga pesisir, kini mulai dilihat sebagai lumbung inovasi bioindustri.

Dengan semangat kolaborasi lintas disiplin, Uhamka menunjukkan bahwa kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tapi juga menjadi inkubator inovasi yang dapat mengguncang industri. “Temuan ini membuka pintu besar bagi kemitraan antara dunia akademik dan sektor industri,” tutup Andri, penuh optimisme.

Diskusi diakhiri dengan komitmen bersama: membawa mikroalga mangrove dari laboratorium menuju lini produksi—menuju dunia yang lebih sehat, berkelanjutan, dan berbasis pada kekayaan alam negeri sendiri. (#)

Jurnalis Hendra Apriyadi Penyunting Mohammad Nurfatoni