
Kajian Ahad Pagi PCM Wringinanom mengungkap bagaimana manusia yang bangkrut karena kezalimannya. Juga penjelasan asal-usul istilah halalbihalal.
Tagar.co – Suasana Idulfitri masih menyelimuti. Pagi itu, halaman SD Muhammadiyah 1 Wringinanom (SD Muwri) tampak padat dengan sepeda motor yang berjajar rapi.
Memasuki lorong halaman dalam, di sebelah kanan berjajar bapak-bapak berseragam biru dengan logo Muhammadiyah. Mereka adalah jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wringinanom, Gresik, Jawa Timur.
Di sebelah kiri, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) berjajar dengan gamis berlogo Aisyiyah merah hati. Jemaah kajian pun saling bersalaman dengan rapi pada acara kajian Ahad pagi tersebut, Ahad (12/4/2025).
Setelah pembawa acara mempersilakan ketua PCM untuk menyampaikan sambutan, acara berlanjut dengan tausiah. Kali ini, PCM Wringinanom menghadirkan Ustaz Ali Mansur Kastam.
Sambil duduk di kursi, di hadapan jemaah yang duduk lesehan, ia mengawali dengan memberikan semangat dan kabar gembira. Yaitu setelah menjalankan puasa dan ibadah di bulan Ramadan, mereka menjadi manusia yang suci seperti dilahirkan kembali. “Hanya nama kita saja yang tetap, tidak berganti nama,” ujarnya.
Pimpinan Pondok Pesantren Yayasan Taman Pendidikan (YTP) Roudhotul Ilmiah ini selanjutnya memberikan pertanyaan, “Sudahkah ibadah kita diterima oleh Allah?”
“Apakah hanya sekadar ibadah ritual saja?” sambungnya. “Sudah percayakah diri bahwa ibadah yang kita lakukan pasti diterima?”
Selanjutnya, ia bertanya, “Bagaimana bacaan Al-Qur’an kita pada bulan Ramadan? Sudah khatam berapa kali? Apakah setelah Ramadan bisa mempertahankan?”
Pertanyaan selanjutnya, “Bagaimana sedekahnya? Jangan sampai seperti Qabil yang sedekahnya hangus termakan api, tidak Allah terima!”
Ibadah kepada Allah
Ia lantas menegaskan, banyak ibadah yang seolah-olah baik di mata manusia, tetapi tidak di sisi Allah. Kemudian ia mencontohkan sahabat yang ikut berjuang perang di jalan Allah tapi akhirnya terlempar ke neraka.
“Ia ditanya oleh Allah, ‘Apa tujuanmu ikut perang?’ Sahabat tersebut pun menjawab, ‘Karena Allah.’ Allah membalas jawabannya dengan ‘Kadzabta, kamu bohong,’ sampai tiga kali. ‘Kamu ikut perang supaya mendapat julukan ksatria dan pemberani oleh manusia.’ Akhirnya, malaikat menangkapnya dan Allah melemparkannya ke neraka.”
“Ada ahli Al-Qur’an, Islam, dan ilmu. Di dunia, ilmu itu untuk apa?” Ia menjawab, “Aku selalu berdakwah dan mengadakan kajian, sampai mati saya mengaji.”
“Allah pun berkata: ‘Kadzabta, kamu bohong,’ sampai tiga kali. ‘Kamu mengaji ingin mendapatkan pujian semiliar umat,'” ujarnya. Akhirnya, ia tertangkap malaikat dan terlempar ke neraka.

Manusia Bangkrut
“Ada orang beribadah karena Allah pun tidak diterima karena tidak sesuai syariat. Contohnya kurban disembelih setelah hari raya. Tetapi, ada sahabat yang ditemui Nabi menyembelih sebelum subuh. Nabi pun menjawab, ‘Itu bukan kurban,'” paparnya.
Oleh karena itu, ia meminta jemaah perbanyak memohon kepada Allah supaya Allah menerima ibadah mereka. “Ibadah Ramadan yang banyak itu untuk panjenengan atau untuk tetangga? Jika untuk diri sendiri, Alhamdulillah. Jika untuk teman, maka hati-hatilah, jangan sampai kita menjadi manusia bangkrut,” tegasnya.
Ia menjelaskan, “Tahukah kalian orang yang bangkrut itu? Yaitu amalnya banyak, tetapi diambil dan diberikan kepada orang yang dia zalimi. Bahkan, jika amalnya sudah habis diberikan, dosa orang yang dia zalimi diberikan kepada orang tersebut.”
“Makanya, Nabi Muhammad menyatakan, barang siapa yang pernah melakukan kezaliman pada orang lain, maka selesaikan hari ini dan halalkanlah.”
Asal Kata Halalbihalal
“Istilah halalbihalal itu dari Indonesia, khususnya orang Jawa yang sangat kreatif. Maksudnya mengungkapkan kesalahan kepada orang yang bersangkutan untuk memaafkan. Sehingga disebut halalun bi halal,” ungkapnya.
Selanjutnya, bagaimana hukumnya “Hukumnya wajib jika punya salah, siapa pun maka wajib minta maaf. Berbuat kezaliman kepada Allah mudah untuk meminta maaf hanya dengan bertobat, tetapi kepada manusia harus saling meminta maaf,” jelasnya.
Waktunya kapan? “Sebelum kiamat datang. Sebelum dirham dan emas tidak berlaku. Begitu juga cara menyelesaikan utang jika orangnya sudah tidak ditemukan jejaknya, fatwa ulama menyedekahkan untuk masjid atas nama orang tersebut,” urainya.
“Begitu juga jika sudah minta maaf tetapi tidak memaafkan, maka panjenengan sudah mempunyai sifat seperti Allah, yaitu pemaaf. Semoga di hari ini kita semuanya saling memaafkan,” tutupnya.
Acara ditutup dengan ramah tamah dan saling bersalaman, selanjutnya makan bersama dengan menu lontong soto Lamongan yang tersedia 600 cup, buah semangka, melon, kue, kacang rebus, es teh, dan es blewah. (#)
Jurnalis Kusmiani Penyunting Sayyidah Nuriyah












