Kultum Ramadan

Kultum Ramadan: Disiplin dan Tertib, Ciri Muslim Sejati

82
×

Kultum Ramadan: Disiplin dan Tertib, Ciri Muslim Sejati

Sebarkan artikel ini
Aji Damanuri

Islam mengajarkan kedisiplinan dan ketertiban dalam seluruh aspek kehidupan. Dua sikap ini bukan hanya mencerminkan akhlak mulia, tetapi juga kunci kemajuan umat dan keberkahan hidup.

Kultum Ramadan (Seri 26); Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Ketua Dewan Pengawas Syariah Lazismu Tulungagung.

Tagar.co Disiplin dan Tertib: Ciri Muslim Sejati tepat untuk menjadi bahan Kultum Ramadan kali ini. Baca selengkapnya:

اَلْـحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang telah menciptakan manusia dengan akal dan kemampuan untuk mengatur hidupnya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, para sahabat, dan seluruh umat beliau yang setia mengikuti ajarannya.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kedisiplinan dan ketertiban sering kali menjadi persoalan yang sulit dikendalikan. Padahal, bagi umat Islam, seluruh ritual ibadah mahdah menuntut kedisiplinan dan ketertiban. Seharusnya hal ini sudah terlatih dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pada kenyataannya, sering ditemukan kontradiksi antara pelaksanaan ibadah dengan perilaku keseharian, terutama dalam hal kedisiplinan dan ketertiban.

Baca juga: Kultum Ramadan: Sombong, Warisan Iblis yang Harus Dijauhi

Oleh karena itu, dalam kesempatan kultum singkat ini, mari kita renungkan pentingnya menjadi pribadi yang disiplin dan tertib—dua ciri utama manusia modern. Sayangnya, banyak masyarakat yang justru kurang disiplin dan tidak tertib. Bagaimana pandangan Islam tentang hal ini? Dan bagaimana caranya menjadi muslim yang disiplin dan tertib?

Baca Juga:  Lebaran tanpa Manhaj, Hari Ini Buka Puasa Besok Salat Idulfitri

Konsep kedisiplinan dan ketertiban tercermin dalam Al-Qur’an Surah As-Saf 4:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (As-Saff: 4)

Ayat ini menegaskan bahwa dalam perjuangan, baik di jalan Allah maupun dalam kehidupan, kita dituntut untuk bersikap tertib dan disiplin sebagai bentuk keteraturan.

Rasulullah Saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan sungguh-sungguh.”

Meskipun secara lahiriah hadis ini menekankan pentingnya kesungguhan, tetapi maknanya bisa kita kaitkan dengan kedisiplinan dan ketertiban. Keduanya adalah bentuk kesungguhan dalam melaksanakan suatu amanah.

Dalam berdakwah, kita membentuk barisan melalui organisasi yang tersusun secara rapi agar mampu menjadi penggerak kemajuan umat dan bangsa. Dalam dunia kerja pun, disiplin dan kerapian sangat dibutuhkan agar produktivitas tetap terjaga. Dalam kehidupan sehari-hari, seperti antre, berkendara dengan tertib di jalan raya—semuanya bukan hanya tampak indah dipandang, tetapi juga menciptakan kedamaian dan keselamatan.

Disiplin dan tertib adalah bagian dari akhlak mulia. Hidup yang teratur mendatangkan ketenangan hati dan keberkahan. Ini adalah ciri khas ajaran Islam. Seperti disebutkan di awal, seluruh ibadah kita mengajarkan dan menuntut disiplin dan tertib—ada waktu yang harus ditepati, ada syarat dan rukun yang harus dipenuhi dengan urutan yang benar. Maka, sungguh ironis jika umat Islam justru tidak mampu bersikap disiplin dan tertib.

Baca Juga:  Perempuan Super Itu Mitos: Kartini Tidak Pernah Mengajarkannya

Ketidaktertiban dan ketidakdisiplinan sering kali muncul karena kurangnya kesadaran akan tanggung jawab, baik secara personal maupun sosial. Banyak manusia lupa bahwa ia memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Walaupun memiliki iman, banyak di antara kita yang terpengaruh oleh lingkungan yang buruk. Padahal, seharusnya kita yang memengaruhi lingkungan, bukan sebaliknya. Lingkungan yang tidak tertib akan memengaruhi perilaku seseorang. Rasulullah Saw. bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mengikuti agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.” (H.R. Tirmidzi)

Ketika kita belum cukup kuat untuk memengaruhi orang lain, maka pilihlah teman dan lingkungan yang baik, yang memiliki tradisi kedisiplinan dan ketertiban. Energi positif akan menular, demikian pula sebaliknya.

Kedisiplinan dan ketertiban harus diajarkan dan dididik sejak dini, baik dalam lingkup kecil seperti keluarga, maupun dalam lingkup yang lebih luas. Tanpa pendidikan dan pembinaan karakter yang baik, seseorang akan sulit menjadi pribadi yang disiplin dan tertib.

Beberapa strategi yang dapat kita lakukan untuk menjadi muslim yang disiplin dan tertib antara lain:

  1. Membuat perencanaan yang baik.
    Sebelum melakukan sesuatu, buatlah perencanaan. Perencanaan yang baik menuntun kita untuk bersikap tertib. Seperti ibadah yang tersusun berdasarkan syarat dan rukun, begitu juga aktivitas lain seharusnya tertib dan disiplin agar tidak ada pekerjaan yang tertunda atau menumpuk.

  2. Menjaga waktu.
    Waktu adalah anugerah Allah yang sangat berharga. Namun, banyak dari kita yang menyia-nyiakannya. Rasulullah Saw. bersabda:

    نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ” Dua nikmat yang sering dilalaikan oleh banyak manusia: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

  3. Mengikuti aturan yang berlaku.
    Dalam Islam, kita memiliki Al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman hidup. Mengikuti aturan adalah bentuk kedisiplinan dan ketertiban. Allah Swt. berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 59:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kalian.”

  4. Membiasakan diri dengan kebiasaan baik.
    Islam memberikan insentif berupa pahala dan surga bagi hamba yang tertib: salat tepat waktu, bekerja tepat waktu, menepati janji, dan sebagainya. Kebiasaan baik dibentuk dari rutinitas harian, bukan hanya dari teori etika. Maka, biasakanlah dari keluarga dan sejak usia dini.

Baca Juga:  Menyambut Tamu Agung dengan Cinta

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Marilah kita menjadi muslim yang disiplin dan tertib. Dengan membuat perencanaan, menjaga waktu, mematuhi aturan, dan membiasakan diri dalam kebaikan, kita akan menjadi pribadi yang tertib dan membawa keberkahan dalam hidup.

Semoga Allah Swt. memberi kita kekuatan untuk istiqamah dalam disiplin dan ketertiban dalam segala hal. Amin yarabalalamin. (#)

Nasrumminallah wafathunqarib. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni