Kultum Ramadan

Membongkar Topeng Hiperealitas: Jalan Menuju Takwa

27
×

Membongkar Topeng Hiperealitas: Jalan Menuju Takwa

Sebarkan artikel ini
Kultum Ramadan Aji Damanuri

Di era pencitraan dan standar palsu, Islam mengajak kita kembali ke hakikat. Ceramah ini mengajak Anda menumbuhkan takwa dan kanaah di tengah godaan hiperealitas zaman.

Kultum Ramadan (Seri 25); Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Ketua Dewan Pengawas Syariah Lazismu Tulungagung.

Tagar.co Membongkar Topeng Hiperealitas: Jalan Menuju Takwa tepat untuk menjadi bahan Kultum Ramadan kali ini. Baca selengkapnya:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang telah menciptakan manusia dengan segala kelemahan dan keterbatasannya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang senantiasa mengikuti ajaran beliau.

Pada kesempatan ini, mari kita renungkan tentang konsep hiperealitas dalam psikologi, yaitu ketika seseorang membayangkan dirinya melebihi kenyataannya dengan memakai pakaian bermerek, kosmetik mahal, mobil mewah, dan lain-lain. Seolah-olah dia menjadi seperti yang dibayangkan—merasa paling ganteng, paling cantik, paling kuat, dan sebagainya.

Lalu, bagaimana Islam memandang sikap hiperealitas ini? Dan bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim yang bertakwa seharusnya?

Islam mengajarkan kepada kita agar hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Konsep kesederhanaan dalam Al-Qur’an termaktub dalam Surah Al-A‘raf 31:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.

Ayat ini mengajarkan bahwa kita boleh menikmati rezeki yang diberikan Allah, tetapi harus menghindari sikap berlebihan (israf). Kita diminta berpakaian bagus ketika hendak melaksanakan ibadah seperti salat di masjid atau ibadah lainnya. Kita juga dipersilakan menikmati karunia Allah berupa makanan dan minuman, namun Allah mengingatkan supaya tidak berlebihan.

Baca Juga:  Kontrak Tersembunyi di Balik Gencatan Senjata

Ukuran berlebihan ini menurut para ulama biasanya tergantung pada urutan kebutuhan. Baik dalam konsep Islam maupun ekonomi konvensional, kebutuhan manusia dikategorikan dalam tiga tingkatan.

  1. Kebutuhan primer (dharuriyyah) adalah kebutuhan pokok manusia seperti sandang, pangan, papan, dan pendidikan. Kebutuhan ini harus terpenuhi agar kehidupan manusia bisa berlangsung. Jika tidak, maka kehidupan akan sangat sulit bahkan bisa menuju kepunahan.

  2. Kebutuhan sekunder (hajiyyah) adalah kebutuhan penunjang tegaknya kebutuhan pokok, seperti peralatan kerja, peralatan memasak, kendaraan, dan sanitasi. Tanpa ini, seseorang masih bisa hidup tetapi dalam kondisi yang tidak layak.

  3. Kebutuhan tersier (tahsiniyyah) adalah kebutuhan yang sifatnya memperindah kebutuhan primer dan sekunder, seperti bentuk dan aksesori rumah, jenis kendaraan, model pakaian, dan sebagainya.

Seseorang dikatakan berlebihan ketika mengejar kebutuhan tersier padahal kebutuhan primer belum terpenuhi dengan baik. Secara teknis, israf adalah keadaan yang melebihi batas kebutuhan. Misalnya, makan sampai muntah, atau memiliki sesuatu secara berlebihan tanpa dibutuhkan.

Keinginan untuk memiliki sesuatu secara berlebihan hanya akan merugikan diri sendiri dan keluarga. Standar hidup yang baik adalah kebutuhan, bukan keinginan. Keinginan manusia tidak terbatas, sedangkan kebutuhannya terbatas. Bersyukur dan merasa cukup adalah kunci kedamaian hidup.

Rasulullah Saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

الْقَنَاعَةُ كَنْزٌ لَا يَفْنَى

“Qana‘ah (merasa cukup) adalah harta yang tidak akan pernah habis.”

Hadis ini mengajarkan bahwa merasa cukup dengan apa yang dimiliki adalah kunci kebahagiaan. Kesederhanaan adalah bagian dari akhlak mulia. Hidup sederhana mendatangkan ketenangan hati dan keberkahan. Kesederhanaan adalah bentuk syukur kepada Allah. Manusia harus merasa cukup dan tidak berlebihan dalam mengejar dunia sehingga tidak menjadi budaknya.

Baca Juga:  Kenyang dari Sampah Masjid

Penyebab Hiperealitas

Ada beberapa hal yang menyebabkan manusia mengalami hiperealitas dalam dirinya, di antaranya:

  1. Pengaruh media dan budaya populer. Media sering menciptakan standar kecantikan dan kesuksesan yang tidak realistis. Islam memiliki konsep kecantikan yang tidak membutuhkan biaya mahal dan selalu relevan. Para ulama mengajarkan: “Laisal jamālu bi-aswābin tuzayyinunā, innal jamāla jamālul ‘ilmi wal-adabi.”Artinya: Kecantikan itu bukan karena pakaian yang menghiasi kita, namun kecantikan sejati adalah kecantikan ilmu dan adab.

  2. Kebutuhan akan pengakuan sosial. Manusia sering merasa perlu diakui, sehingga menciptakan citra diri palsu. Akibatnya, hidup disibukkan dengan urusan dunia. Rasulullah Saw. bersabda:

    مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ

    “Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan selalu di depan matanya.” (H.R. Tirmizi)

    Fokus pada dunia hanya membawa kesengsaraan. Contoh: penghasilan terbatas tetapi dibelanjakan untuk hal tersier, bukan kebutuhan pokok. Hasilnya, hidup bukannya bahagia, malah berantakan.

  3. Kurangnya kesadaran akan kelemahan diri. Manusia sering lupa bahwa dirinya lemah. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 5:

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ

    “Wahai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah.”

    Ayat ini mengingatkan bahwa kita berasal dari tanah, simbol kelemahan dan keterbatasan. Saat kebutuhan jasmaniah telah terpenuhi, seharusnya kita fokus pada kebutuhan ruhani: ibadah, membaca Al-Qur’an, zikir, salat, sedekah, dan belajar agama.

Baca Juga:  Rentenir Religius

Karenanya, kita harus hidup lebih terarah, tidak terlena oleh hiperealitas yang menipu. Kenalilah diri dan kelemahan kita agar tumbuh kerendahan hati. Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ

Barang siapa yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya. (H.R. Muslim)

Kita juga harus sering mengingat kematian. Rasulullah Saw. bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan (kematian). (H.R. Tirmizi)

Kesombongan dan merasa hebat sering muncul karena lupa bahwa suatu saat kita akan meninggal dunia.

Tidak kalah penting, kita harus selalu bersyukur. Setiap orang memiliki daya tariknya masing-masing: keluasan ilmu, akhlak baik, dan ketekunan beribadah adalah kecantikan sejati. Allah Swt. berfirman dalam Surah Ibrahim 7:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

Jangan lupa untuk berinteraksi dengan komunitas yang membimbing kita menuju ketaatan. Hindari lingkungan toksik yang hanya fokus pada penampilan luar dan kemewahan. Bergaul dengan orang yang tawaduk akan memengaruhi akhlak dan cara pandang kita.

Penutup

Saya mengajak diri sendiri dan hadirin semua, mari kita jauhi kesombongan. Obatilah penyakit hiperealitas dalam jiwa kita dengan mengenal diri, mengingat kematian, bersyukur, dan bergaul dengan orang-orang yang rendah hati. Kita akan terhindar dari sikap ujub, egois, dan salah dalam menentukan arah hidup. Fokuslah menjadi hamba Allah yang mulia.

Semoga Allah Swt. mengabulkan doa kita: rabbana ātinā fid-dunyā ḥasanah wa fil-ākhirati ḥasanah, memberikan kekuatan untuk rendah hati, dan menjauhi kesombongan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Nasrumminallah wafathunqarib. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni