
Ternyata tidak banyak yang tahu bahwa sejak muda, Muhadjir Effendy memiliki minat terhadap dunia militer. Meskipun tidak menjadi prajurit, ia menuangkan gagasannya dalam buku berjudul “Profesionalisme Militer: Profesionalisasi TNI.
Tagaer.co – Prof. Muhadjir Effendy dikenal luas sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Bahkan kini ia memegang amanah sebagai Penasihat Presiden Bidang Haji di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Namun, seperti siaran pers Humas UMM yag diterima Tagar.co, Jumat (7/3/25) siang, ternyata tidak banyak yang tahu bahwa sejak muda, Muhadjir memiliki minat terhadap dunia militer. Meskipun tidak menjadi prajurit, ia menuangkan gagasannya dalam buku berjudul “Profesionalisme Militer: Profesionalisasi TNI”, buku terbitan UMM Pres yang kini telah memasuki edisi revisi ketiga, 28 Februari 2025.
Baca juga: Nyamuk Mengantar Dosen UMM ke Austria
Buku ini membahas bagaimana Tentara Nasional Indonesia (TNI) bertransformasi menuju institusi yang profesional, baik dari segi kompetensi teknis, kepemimpinan, maupun etika kemiliteran. Muhadjir mengulas bagaimana dinamika sosial, politik, dan sejarah Indonesia membentuk karakteristik unik profesionalisme TNI yang berbeda dari militer di negara lain.
Sejak awal kemerdekaan, profesionalisme TNI telah menjadi perdebatan. Buku ini menguraikan tiga elemen awal pembentuk TNI, yakni eks-Pembela Tanah Air (PETA), eks-KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger), dan satuan-satuan gerilya.
Meskipun PETA dan KNIL memiliki visi profesionalisme yang berbeda, keduanya berperan penting dalam membangun fondasi militer Indonesia. Namun, selama pemerintahan Orde Baru, TNI mengadopsi peran ganda (dwifungsi), di mana mereka tidak hanya bertugas sebagai alat pertahanan negara, tetapi juga aktif dalam politik dan ekonomi.
Lebih lanjut, pria kelahiran Madiun itu menjelaskan dalam bukunya bahwa era reformasi 1998 membawa perubahan besar dalam tubuh TNI. Salah satunya adalah pengembalian militer ke fungsi utamanya sebagai alat pertahanan negara yang profesional dan netral secara politik. Salah satu momen penting adalah lahirnya Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang TNI, yang menegaskan bahwa TNI harus terlatih, terdidik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan tunduk pada supremasi sipil serta prinsip demokrasi.
Muhadjir Effendy menekankan bahwa profesionalisme TNI tidak hanya bergantung pada keterampilan teknis atau modernisasi alutsista, tetapi juga nilai-nilai moral, keprajuritan, dan kedisiplinan.
Dalam buku ini setebal 360 halaman ini, Muhadjir memperkenalkan Diagram Pentagonal Profesionalisme TNI, yang mencakup lima elemen utama: kemampuan, kepemimpinan, motivasi, kesempatan, dan pengetahuan. Menurutnya, profesionalisasi TNI harus mencakup aspek-aspek ini agar tercipta militer yang tangguh, berintegritas, dan mampu menjalankan tugas pertahanan negara secara optimal.
Buku dengan kata pengantar oleh Kusnanto Anggoro dan Rizal Sukma ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi TNI dalam upaya profesionalisasi, seperti ketimpangan dalam sistem pendidikan militer, pengaruh politik, serta perubahan sosial yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap militer. Salah satu isu utama yang dibahas adalah bagaimana reformasi yang telah berjalan lebih dari dua dekade masih menghadapi hambatan dalam hal kontrol demokratis terhadap militer.
Selain itu, ia juga mengkritisi kebijakan yang sering kali inkonsisten, terutama terkait peran TNI dalam keamanan domestik. Meskipun TNI sudah tidak lagi memiliki hak politik dan bisnis, masih ada tantangan dalam memastikan bahwa mereka tetap fokus pada pertahanan negara dan tidak kembali terlibat dalam urusan sipil yang dapat mengganggu demokratisasi.
Secara keseluruhan, buku ini memberikan perspektif akademik yang mendalam tentang perjalanan TNI menuju profesionalisme. Dengan pendekatan historis dan teoretis, Muhadjir Effendy berhasil menggambarkan bagaimana TNI terus beradaptasi dengan tuntutan zaman. Buku ini menjadi referensi penting bagi akademisi, pengamat militer, serta siapa saja yang ingin memahami lebih dalam tentang dinamika hubungan sipil-militer di Indonesia.

Tentang Penulis
Muhadjir Effendy, seperti ditulis books.google.co.id, adalah Guru Besar di bidang Sosiologi Pendidikan Universitas Negeri Malang (UM). Pernah menjabat sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tiga periode hingga 2016. Ia terpilih sebagai salah satu ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dua periode, yakni 2015-2022 dan 2022-2027.
Di pemerintahan, Muhadjir memperoleh amanat negara sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudyaaan (2016-2019), Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (2019-2024). Saat ini, ia dipercaya sebagai Penasehat Khusus Presiden Bidang Haji.
Lahir di Madiun pada 29 Juli 1956, Muhadjir sejak kecil bercita-cita ingin menjadi tentara. Ketika menjadi rektor ia justru lebih dikenal sebagai pengamat militer. Apalagi setelah menempuh pendidikan pada Visiting Program Regional and Defence Policy di National Defence University, Washington D.C. (1992), dan Long Term Course, The Management for Higher Education di Victoria University British Columbia, Canada (1991).
Muhadjir menulis disertasi di S3 Universitas Airlangga berjudul Pemahaman tentang Profesionalisme Militer di Tingkat Elit TNI AD (Studi Fenomenologi pada Perwira Menengah TNI AD di Daerah Garnizun Malang)“. Buku ini merupakan ekstraksi dari bahan disertasi Muhadjir yang tidak dimasukkan ke dalam naskah utamanya. Sedangkan disertasi itu sendiri dibukukan dengan judul Studi Fenomenologi Jati Diri dan Profesi TNI. (#)
Penyunting Mohammmad Nurfatoni












