Feature

Ceramah di Lamongan: Din Syamsuddin Jelaskan Hakikat Ta’abbudi

34
×

Ceramah di Lamongan: Din Syamsuddin Jelaskan Hakikat Ta’abbudi

Sebarkan artikel ini
Prof. Din Syamsuddin saat memberikan ceramah Tabligh Akbar di Masjid Al-Athar Weru Paciran Lamongan (Tagar.co/Nurkhan)

Ta’abbudi, bukan sekadar ritual, tapi jalan hidup. Prof. Din Syamsuddin memaparkan konsep ibadah holistik ini sebagai kunci transformasi diri, spiritual, dan sosial.

Tagar.coTa’abbudi, lebih dari sekadar ritual ibadah, melainkan merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt secara totalitas, sekaligus sarana untuk mentransformasi diri dan kehidupan. Demikian pandangan Prof. Dr. Din Syamsuddin dalam Tablig Akbar di Masjid Al-Athar, Weru, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Senin (27/1/2025).

Menurut mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini, ta’abbudi tidak hanya dimaknai sebagai pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi juga perwujudan nilai-nilai spiritual dalam setiap sendi kehidupan. “Ta’abbudi mencakup hablumminallah (hubungan manusia dengan Allah), hablumminannas (hubungan dengan sesama manusia), dan hablum minal ‘alam (hubungan dengan alam),” jelasnya.

“Setiap aktivitas seorang Muslim harus diniatkan sebagai ibadah kepada Allah,” tegas Prof. Din. Ibadah tidak terbatas pada salat, puasa, atau zakat, tetapi juga mencakup amal sosial, etika kerja, dan kontribusi bagi kemaslahatan umat.

Baca juga: Din Syamsuddin: Tak Ada Dikotomi Agama dan Negara

Baca Juga:  Ribuan Peserta Bakal Padati Halalbihalal Muhammadiyah Sidoarjo, Ini Susunan Acaranya

Pendekatan ta’abbudi, lanjutnya, merupakan cara membangun kehidupan yang harmonis berlandaskan tauhid, yaitu keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa. Dalam konteks ini, ta’abbudi adalah langkah mencapai maqam Ihsan, beribadah seolah-olah melihat Allah, atau jika tidak mampu, menyadari bahwa Allah selalu melihat setiap perbuatan kita. “Proses ini membutuhkan niat yang tulus, keikhlasan, serta kesadaran spiritual yang mendalam,” ungkapnya.

Prof. Din mencontohkan kedekatan Nabi Muhammad Saw dengan Allah Swt saat Isra Mikraj. “Nabi Muhammad Saw saat itu merasa begitu nyaman dekat dengan Sang Pencipta, sampai beliau enggan untuk kembali,” terangnya.

Kedekatan dengan Tuhan ini mengingatkan kita pada konsep filosofi Jawa manunggaling kawulo Gusti, yang secara harfiah berarti bersatunya hamba dengan Tuhan. Namun, Prof. Din menegaskan bahwa dalam konteks Islam, konsep ini bukan berarti penyatuan hakiki, melainkan kesadaran mendalam akan keterhubungan manusia dengan Sang Pencipta melalui penghambaan dan kepatuhan.

Tiga Transformasi

Menurutnya, ibadah bukan tujuan akhir tapi jalan. Ibadat bukan sekedar ritual tapi transformasi diri. Itulah ta’abbudi: transformasi diri hamba menuju Sang Pencipta). Namun, setelah itu harus dilakukan takhalluq—proses internalisasi sifat-sifat ketuhanan ke dalam diri—yang tampil dalam bentuk akhlak terpuji.

Baca Juga:  Teknologi Rudal Balistik, Usulan Din Syamsuddin untuk Prodi Baru di Umsida

Baca juga: Dari Ta’abbud Menuju Takhalluq: Din Syamsuddin Ajak Refleksi Sifat Ilahi dalam Kesalehan Sosial

Lebih lanjut, Prof. Din menekankan bahwa ta’abbudi merupakan bagian dari transformasi total menuju manusia yang lebih baik, yaitu manusia yang sadar akan tugasnya sebagai khalifahfilard (pemimpin di muka bumi) dan hamba Allah yang taat.

Transformasi ini mencakup tiga dimensi utama:

  1. Transformasi Spiritual: Memperbaiki hubungan dengan Allah Swt melalui ibadah yang tulus dan konsisten, seperti salat, zikir, doa, dan kepatuhan pada syariat.
  2. Transformasi Pribadi: Mengubah perilaku individu menjadi lebih baik, seperti jujur, disiplin, sabar, dan bertanggung jawab, sehingga ibadah tercermin dalam akhlak mulia.
  3. Transformasi Sosial: Menerapkan nilai-nilai ibadah seperti keadilan, kasih sayang, dan solidaritas dalam interaksi sosial, serta mendorong amal jama’i (kerja kolektif) untuk membangun masyarakat yang islami dan adil.

Dengan demikian, Prof. Din Syamsuddin memandang ta’abbudi sebagai proses transformasi multidimensi yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Transformasi spiritual melalui ta’abbudi menjadi landasan bagi perubahan yang lebih besar, baik secara individu maupun kolektif, menuju kehidupan yang lebih baik dan diridhai Allah Swt. (#)

Baca Juga:  Tudingan terhadap JK Bermotif Politis? Din Syamsuddin Angkat Bicara

Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni