Feature

Hangatnya Perhatian Siswa SD Musix pada Gurunya di Kampung Inggris

44
×

Hangatnya Perhatian Siswa SD Musix pada Gurunya di Kampung Inggris

Sebarkan artikel ini

Tagar.co – Selasa, 24 Desember 2024, menjadi hari yang tak terlupakan bagi saya. Di tengah kegiatan English Camp SD Muhammadiyah 6 (SD Musix) Surabaya di Kampung Inggris, Pare, Kediri, saya mendapat kejutan manis dari empat siswa yang menginap bersama saya di kamar nomor 6.

Mereka adalah Ahmad Fahri Adi Prawira, Gilang Ramadhan, Arzachel Nicholas Parama (ketiganya siswa kelas V-A), dan Arjuna Noa Indarto (siswa kelas IV-A). Kejutan itu adalah seember air hangat yang mereka siapkan khusus untuk saya mandi sore.

Hari itu adalah hari kedua English Camp. Semangat anak-anak tetap membara meskipun jauh dari orang tua. Setelah sarapan, instruktur Bahasa Inggris, Nurul Hikmah Amini, mengumumkan bahwa jadwal outbound bahasa di Candi Tegowangi dan objek wisata Gronjong Wariti dimajukan menjadi hari itu juga.

“Adik-adik, pada hari ini free time, tidak ada pembelajaran kelas,” ujar Amini.

Sontak, pengumuman ini disambut riang gembira oleh para siswa. Teriakan “Hore..!” menggema, menandakan antusiasme mereka. Tak lama berselang, odong-odong yang akan membawa kami ke lokasi outbound pun tiba.

Di Candi Tegowangi, kami bermain dan belajar bahasa Inggris serta bahasa Korea bersama. Suasana ceria dan penuh semangat terpancar dari wajah anak-anak. Setelah dua jam, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Imam Baidowi untuk salat Zuhur dan jamak qasar, dilanjutkan makan siang.

Objek wisata Gronjong Wariti menjadi tujuan berikutnya. Di sana, anak-anak menikmati berbagai wahana, terutama kolam renang. Mereka berenang dengan gembira, seolah melepas semua penat setelah seharian beraktivitas.

“Selamat datang anak-anak dari SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya di kolam renang Tirto Wariti,” sambut Pak Purnomo, petugas keamanan kolam renang, yang mengingatkan agar anak-anak yang belum bisa berenang menggunakan kolam anak.

Hangatnya Perhatian Siswa

Menjelang sore, kami pun bersiap kembali ke hotel. “Baik anak-anak, jika sudah selesai berenang, segera berkemas untuk kembali ke camp, karena mau hujan,” seru Bu Nurun Najaro, pendamping peserta lainnya, sambil menyiapkan kantong plastik untuk pakaian basah anak-anak.

Setibanya di hotel, saya melihat para pendamping lain sibuk menyiapkan kantong untuk pakaian kotor anak-anak, sementara anak-anak yang basah kuyup segera membersihkan diri. Di kamar nomor 6, Fahri, Gilang, Arza, dan Arjuna sudah selesai mandi dan berganti pakaian.

Saat itulah momen mengharukan itu terjadi. Ketika saya hendak masuk kamar, terdengar suara mereka dari dalam.

Assalamualaikum!” ucap saya sambil mengetuk pintu.

Waalaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh!” jawab mereka berempat serempak.

“Maaf Ustaz, sudah kami siapkan air hangat untuk mandi sore ini,” kata Gilang sambil menunjuk seember air hangat di kamar mandi.

Seketika, saya tertegun. Rasa haru dan bangga menyelimuti hati saya. “Alhamdulillah, siapa yang menyiapkan ini?” tanya saya, masih tak percaya.

“Kami Ustaz, karena Ustaz Basir dari pagi telah melayani kami,” jawab Gilang mewakili teman-temannya.

“Terima kasih anakku semua, semoga kalian menjadi anak-anak yang sholeh,” ucap saya, dengan suara bergetar menahan haru. Air mata saya hampir menetes. Sebagai guru yang akan segera memasuki masa purna tugas, perlakuan mereka ini benar-benar menyentuh hati saya.

Dengan perasaan bahagia, saya pun bergegas masuk kamar mandi. Hangatnya air tak hanya membasuh tubuh, tetapi juga menghangatkan hati saya. Perhatian kecil dari murid-murid saya ini menjadi hadiah terindah di penghujung karir saya sebagai pendidik.

Saya berharap, kebaikan dan kepedulian yang mereka tunjukkan di sini, juga mereka lakukan di rumah kepada orang tua mereka.

Semoga pengalaman di English Camp ini tak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mereka, tetapi juga membentuk karakter mereka menjadi pribadi yang lebih baik, penuh kasih sayang, dan perhatian kepada sesama. Kisah ini akan selalu saya kenang sebagai salah satu momen terindah dalam perjalanan hidup saya. (#)

Jurnalis Basirun | Penyunting Muhammad Nurfatoni