
Saat kulihat wajah Yangti begitu teduh. Senyumannya meruntuhkan jiwaku, sama persis seperti apa yang kurasakan dulu, saat aku hendak meminangmu. Aduhai Irmaku.
Kisah si Santri Mbeling: Wafatnya Yangti Apik (seri 1)
Oleh Qosdus Sabil
Tagar.co – Kami sekeluarga hari Rabu yang lalu, saat swab positif semua. Jadi kami juga melakukan isolasi mandiri. Alhamdulillah, Yangti dan Tante Etik hasil swabnya negatif. Sehingga, Yangti masih bisa lanjut dengan tindakan operasi otak.
Kamis malam, saat Yangti kami melemah nadinya, dokter Siloam Jember memberikan video call untuk mendampingi Yangti memenuhi panggilan Ilahi menuju raadhiyatan mardhiyyah fadkhulii fii ibaadii wadkhulii jannaatii.
Alhamdulillah, ada kawan kami saat kuliah dulu, Mbak Sofia Alifah yang kini aktif masuk menjadi aktivis Aisyiyah Jember. Bersama putrinya, ia ikut mendampingi detik-detik terakhir orang tua kami.
Segera datang ambulance milik RS Dokter Muhammad Suherman milik kampus UMJ datang ke Siloam Jember untuk mengantarkan jenazah Yangti Apik. Akupun lantas melakukan konsolidasi dan briefing singkat dengan Kungdi dan Irma, istriku terkasih.
Sembari berusaha untuk menghibur menyatakan kematian adalah jalan menuju keridaan Allah. Zat Yang ditangan-Nya diatur dengan teliti apa saja yang terjadi di alam semesta.
Bahkan, hari-hari di mana serombongan semut pudak yang turut menjengukku dalam sakitku. Mereka para semut pudak, dengan tubuhnya yang teramat kecil lembut menyapa diriku yang terkapar dalam vonis cancer prostat stadium empat metastase ke tulang belakang.
Praktis, hati itu di bulan Mei, diriku hanya boleh terbaring. Boleh miring ke kiri dan ke kanan atau tengkurap, namun dengan bantuan secara serentak. Seperti ketika kita menggelindingkan sebatang pohon kelapa.
Pohon paling serbaguna untuk keperluan umat manusia. Daun kelapa, disebut janur, sangat berguna untuk aneka keperluan. Ketupat, hingga wadah sesaji bunga dan rempah dalam kosmologi Hindu Bali. Aku tertegun termangu. Saat semula Kungdi ingin menebang pohon kelapa hijau yang sangat berkhasiat itu.
Karena khawatir pohon kelapa tumbang kena angin. Aku sampaikan kepada beliau bagaimana struktur perakaran kelapa yang sangat menginspirasi seorang pakar konstruksi kokoh cakar beton diciptakan.
Pohon kelapa di atas pasir yang tiap hari digoyang angin, bahkan badai. Namun ia tetap berdiri tegak memberi salam welcome drink menyambut setiap anak nelayan yang baru pulang dari pertarungan hidup dan mati dalam perjuangannya memenuhi kebutuhan gizi bagi seluruh anak negeri.
Hari itu kita sudah tidak bisa lagi mengandalkan swab untuk memastikan kita negatif atau positif. Bisa jadi pagi kita swab negatif, malamnya pulang ke rumah jadi positif. Kekuatan doa menjadi senjata utama melawan pandemi Covid-19.
Kita tingkatkan syukur dan kegembiraan terpilih menerima ujian Covid. Karena kalaupun kita tidak jadi mati karenanya, kita tetap mendapatkan pahala seperti syahid.
Pahala kemuliaan dan kepahlawanan di jalan jihad fii sabiilillah. Para pentakziyah begitu banyak yang hadir di tengah pandemi.
Semua disiplin dengan protokoler darurat Covid-19. Rombongan ibu-ibu dari Pimpinan Daerah Aisyiyah Bondowoso bergegas datang untuk memandikan dan mengkafami jenazah Yangti.
Dipimpin langsung oleh Bu Yayuk, Ketua PDA Bondowoso.
“Bergembiralah Mas, Bu Apik sangat bersih. Tidak ada sedikitpun kotoran yang keluar dari dubur Yangti,” kata Bu Yayuk kepadaku sambil tersenyum.
Saat kulihat wajah Yangti begitu teduh. Senyumannya meruntuhkan jiwaku, sama persis seperti apa yang kurasakan dulu, saat aku hendak meminangmu, Aduhai Irmaku. (#) Bersambung!
Penyunting Ichwan Arif.








