Feature

UMG Dorong Kemandirian Desa di Dawarblandong

88
×

UMG Dorong Kemandirian Desa di Dawarblandong

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa KKN Reguler Universitas Muhammadiyah Gresik resmi mengabdi di Dawarblandong untuk mengoptimalkan potensi lokal melalui pemberdayaan masyarakat demi mewujudkan kemandirian desa yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Mahasiswa KKN UMG bersama Kades Dawarblandong. (Tagar.co/Fadhilatur Rosyidah)

Mahasiswa KKN Reguler Universitas Muhammadiyah Gresik resmi mengabdi di Dawarblandong untuk mengoptimalkan potensi lokal melalui pemberdayaan masyarakat demi mewujudkan kemandirian desa yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Tagar.co – Angin pagi di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, terasa berbeda pada Senin, 19 Januari 2026. Riuh percakapan mahasiswa berseragam almamater biru memenuhi area kantor kecamatan. Hari itu bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari perjalanan 40 hari mengukir jejak pengabdian. Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) secara resmi menerjunkan para pejuang muda ini untuk melebur bersama warga dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler.

Acara pembukaan berlangsung khidmat. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah berkumandang, memantik semangat nasionalisme dan religiositas para peserta. Hadir dalam acara tersebut jajaran pimpinan UMG, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Camat Dawarblandong beserta jajaran, hingga para kepala desa se-Kecamatan Dawarblandong. Mereka berkumpul dengan satu tujuan: menyinergikan ide mahasiswa dengan kebutuhan riil masyarakat desa.

Ketua Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) UMG, Awang Setiawan Wicaksono, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menegaskan, program ini membawa misi besar. Dengan mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat melalui Program KKN Berdampak dengan Optimalisasi Potensi Lokal Menuju Desa Mandiri,” UMG ingin memastikan kehadiran mahasiswa memberikan manfaat yang terukur, bukan sekadar menggugurkan kewajiban akademik. Mahasiswa harus mampu membaca peluang yang ada di tanah Dawarblandong.

Baca Juga:  Kartu Ajaib untuk Menembus Pemahaman Kata Konotasi
Mahasiswa KKN Reguler Universitas Muhammadiyah Gresik resmi mengabdi di Dawarblandong untuk mengoptimalkan potensi lokal melalui pemberdayaan masyarakat demi mewujudkan kemandirian desa yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Pembukaan dan pelepasan mahasiswa KKN UMG. (Tagar.co/Fadhilatur Rosyidah)

Stimulan Perubahan di Akar Rumput

UMG tidak main-main dalam distribusi kekuatan SDM-nya kali ini. Awang Setiawan Wicaksono menjelaskan, pihak universitas memberangkatkan total 513 mahasiswa. Ratusan mahasiswa ini tersebar di tiga wilayah strategis. Yakni Kecamatan Dawarblandong, Jetis, dan Cerme. Khusus di Dawarblandong, mahasiswa akan menempati sejumlah desa yang memiliki karakteristik unik dan tantangan yang beragam.

Dalam sambutannya yang memotivasi, Awang menekankan peran mahasiswa sebagai pemantik perubahan. Ia menginginkan mahasiswa menjadi katalisator yang menghidupkan kembali semangat gotong royong dan inovasi di desa. Mahasiswa tidak datang untuk menggurui, melainkan untuk mendampingi dan belajar bersama masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang ada.

“Kehadiran teman-teman menjadi stimulan untuk peningkatan kapasitas atau peningkatan sumber daya di desa. Sehingga, nantinya teman-teman bisa membantu mendampingi masyarakat desa berkembang secara optimal dalam hal sosial dan lain-lain. Besar harapan kami mahasiswa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Awang dengan nada penuh harap di hadapan para peserta KKN.

Baca Juga:  Dari Jalan Sehat hingga Bekam Gratis, Dakwah Sosial PRM Tritunggal Menguatkan Umat

Baca Juga: Ikapsi UMG Membentuk Pengurus Baru

Gali Potensi dalam Keberagaman Karakter

Gayung bersambut, Pemerintah Kecamatan Dawarblandong menerima kehadiran para intelektual muda ini dengan tangan terbuka. Camat Dawarblandong, Akhmad Taufiq, S.Sos., M.M., memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen UMG. Baginya, kehadiran mahasiswa KKN adalah energi baru bagi desa-desa di wilayahnya, terutama dalam upaya memperkuat ekonomi lokal serta memperbaiki kualitas pendidikan dan layanan sosial.

Taufiq menyadari, setiap desa di Dawarblandong memiliki warna yang berbeda. Ada desa yang kuat di sektor pertanian, ada pula yang memiliki potensi kerajinan tangan. Keanekaragaman inilah yang perlu dipetakan oleh mahasiswa agar program kerja yang mereka susun tepat sasaran. Sinergi antara teori dari kampus dan realitas di lapangan menjadi kunci keberhasilan program ini.

“Wilayah yang ada di Kecamatan Dawarblandong memiliki karakteristik masing-masing desa yang beraneka ragam. Mudah-mudahan program yang akan mahasiswa laksanakan dapat membantu desa berkembang,” tegas Taufiq.

Kini, selama 40 hari ke depan, para mahasiswa akan berupaya keras mengubah potensi tersebut menjadi prestasi, demi mewujudkan Dawarblandong yang mandiri dan berdaya saing tinggi. (#)

Baca Juga:  Berbekal Kancing Lepas, Praktik Menjahit di Program Mugres Life Asah Ketelitian

Jurnalis Fadhilatur Rosyidah Penyunting Sayyidah Nuriyah