Cerbung

Tiga Jejak Digital: Panggung yang Tak Terlihat

27
×

Tiga Jejak Digital: Panggung yang Tak Terlihat

Sebarkan artikel ini
Tiga Jejak Digital (Ilustrasi AI)

Suara asing bergema, layar mati, dan dunia terasa tak nyata. Arga, Revan, dan Fikri dihadapkan pada pilihan: tetap tinggal atau melawan takdir yang tak terlihat. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tiga Jejak Digital: Panggung yang Tak Terlihat (Seri 7); Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Suara yang menyerupai suara mereka sendiri itu terus bergema di ruangan yang semakin hening. Setiap detik terasa seperti berjam-jam. Arga, Revan, dan Fikri saling pandang, wajah mereka penuh kekhawatiran, bingung, dan semakin takut.

“Ini… bukan lelucon, kan?” kata Revan dengan suara pelan, seolah bertanya pada dirinya sendiri lebih dari pada pada orang lain.

Baca Seri 6: Tiga Jejak Digital: Jejak yang Terhapus

Fikri berjalan menuju salah satu monitor yang sudah mati, mencoba menyalakannya kembali, tapi tidak ada hasil. Ia menekan tombol-tombol dengan tangan gemetar, berharap menemukan sesuatu—apa pun—untuk memberi penjelasan.

Namun suara itu kembali, kali ini lebih jelas.

“Panggung sudah siap. Kalian hanya tidak tahu peran kalian.”

Arga mendekat dan menatap layar yang masih gelap. “Apa maksudnya?”

Fikri berhenti sejenak, merenung, lalu menatap layar yang baru saja mati. “Panggung… peran… itu kalimat yang aneh. Seolah kita sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih besar, dan kita hanya tidak menyadari bagian kita dalam cerita ini.”

Baca Juga:  Sedekah Subuh, Amalan Kecil dengan Dampak Besar dalam Kehidupan

Revan memijat pelipisnya, frustasi. “Aku nggak suka dengar itu. Kenapa kita selalu diputar balik sama apa yang kita ciptakan?”

Fikri melangkah mundur, matanya penuh kebingungan. “Tapi ini aneh, Revan. Kita sudah membangun dunia maya yang luas, penuh dengan pemain, karakter, dan alur cerita. Kenapa, di dunia nyata, kita merasa seperti bukan pengendali utamanya?”

Lalu, Arga berbicara, suara terputus-putus. “Apa kalau ini semua… hanya simulasi? Bukankah itu yang kita buat di game kita—sebuah dunia buatan? Tapi kalau itu benar, kita hanya… karakter dalam cerita yang lebih besar, bukan pencipta?”

Revan menatapnya tajam. “Jangan bilang kamu mulai percaya itu!”

Namun Fikri mengangguk perlahan. “Ada kemungkinan. Mungkin kita memang sudah terjebak dalam sesuatu yang lebih besar dari sekadar game kita. Mungkin… kita tak hanya menciptakan dunia maya, kita adalah bagian dari eksperimen besar.”

Arga menggertakkan giginya, marah. “Aku nggak mau terjebak dalam eksperimen! Kita harus keluar dari sini!”

Mereka berlari menuju pintu keluar, tapi begitu mereka melangkah ke koridor, seolah dunia mereka mendekonstruksi diri. Lorong itu yang tadinya tampak sederhana, kini membentang semakin panjang. Dinding yang sebelumnya kokoh kini tampak seakan menutup, menghimpit mereka dari kedua sisi.

Baca Juga:  Indahnya Mendoakan para Ustaz

“Ini bukan tempat nyata!” teriak Revan, suara tercabut dari tenggorokannya. “Kita nggak pernah benar-benar keluar dari sana, ‘kan? Ini masih bagian dari game!”

Fikri berhenti dan menatap Arga. “Jangan-jangan, kita sudah berada dalam level yang lebih tinggi. Entitas itu, yang kita ciptakan… dia tahu lebih banyak daripada kita. Apa kalau semua ini adalah level lanjutan dari permainan kita sendiri?”

Arga memejamkan mata, cemas. “Kalau kita benar-benar terjebak dalam permainan… apa ada cara untuk keluar?”

Ruangan itu menjadi lebih gelap seiring waktu berjalan, dan ketika mereka mencoba bergerak, mereka merasa seolah ada kekuatan tak terlihat yang menahan langkah mereka. Di layar, sebuah kalimat baru muncul, kali ini seakan menjawab pertanyaan mereka:

“Pilihlah. Tinggalkan dunia ini, atau tetap tinggal dan lihat bagaimana cerita kalian berakhir.”

Suara yang mereka dengar sebelumnya kembali terdengar, kali ini jauh lebih berat, seperti sebuah peringatan yang tak terelakkan.

“Dunia ini akan berakhir dengan pilihan kalian. Apakah kalian akan menjadi pengendali atau… hanya tokoh dalam sebuah cerita?”

Fikri, dengan langkah pasti, mendekati layar. “Kita harus bisa memilih, kan? Tidak ada yang bisa menulis takdir kita kecuali kita sendiri.”

Baca Juga:  Ujian Kesetiaan di Tengah Kenyamanan Rumah Tangga

Arga dan Revan menatapnya. “Tapi bagaimana kita tahu kalau ini bukan jebakan lagi?” tanya Revan. “Kita tidak bisa mempercayai apa pun yang ada di sini.”

Fikri menarik napas dalam-dalam. “Mungkin… ini ujian terakhir. Mungkin untuk keluar, kita harus menghancurkan ilusi ini. Membebaskan diri dari dunia yang sudah tercipta oleh kita sendiri.”

Arga menatap layar yang penuh kode. “Tapi jika kita hancurkan ini, apa yang tersisa untuk kita? Apa yang terjadi dengan dunia nyata kita?”

“Yang pasti, kita nggak bisa terus hidup dalam kebingungan ini,” kata Fikri. “Kita harus memilih, dan kita harus siap dengan apa pun konsekuensinya.”

Lalu, layar kembali bergemuruh, menyala penuh dengan ribuan simbol, sebelum akhirnya pesan terakhir muncul:

“Pilihan kalian sudah ditunggu.”

Ruangan itu berhenti bergetar. Lampu kembali menyala, dan dunia sekitar mereka kembali dalam keadaan tenang. Mereka menyadari bahwa meskipun ruang di sekitar mereka seolah-olah kembali seperti semula, tidak ada yang sama. Dunia mereka yang terbuat dari kode dan dunia nyata kini terasa kabur.

Apa yang mereka pilih?

Dan siapa yang benar-benar mengendalikan permainan ini? Bersambung!

Penyunting Mohammad Nurfatoni