Khotbah

Tauhid, Roh Islam dan Kunci Surga: Khotbah Jumat Masjid Nabawi

56
×

Tauhid, Roh Islam dan Kunci Surga: Khotbah Jumat Masjid Nabawi

Sebarkan artikel ini
Foto dokumentasi Syekh Abdulah Bu’ayjan (foto surahquran.com)

Khotbah Jumat Syekh Abdullah Bu’ayjan di Masjid Nabawi, 18 April 2025 (20 Syawal 1446) menegaskan bahwa tauhid adalah tujuan penciptaan manusia dan inti keislaman. Ia menjadi pembeda hakiki antara iman dan syirik, keselamatan dan kebinasaan. Ditranskrip dari Tube Sermon.

Baca juga: Khotbah di Masjidilharam: Kematian Pasti dan Tak Terelakkan, Siapkan Diri dengan Amal Saleh

Tagar.co – Segala puji bagi Allah yang telah memerintahkan kalian untuk tidak beribadah kecuali kepadanya. Tidak ada yang dapat menyesatkan siapa yang dia beri petunjuk. Dan tidak ada yang mampu memberi hidayah siapa yang dia sesatkan dan butakan.

Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah. Tidak ada sekutu baginya. Sebuah persaksian dengan penuh kebenaran dan keyakinan yang saya simpan di sisinya.

Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dia telah memilih, mengistimewakan, memuliakan, dan mengutamakan beliau. Semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepada beliau, keluarga, para sahabatnya, dan siapa saja yang menapaki sunah beliau serta berpegang teguh dengan petunjuk beliau.

Selanjutnya, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad bin Abdullah. Sebaik-baik bekal adalah ketakwaan kepada Allah dan syarat sah serta diterimanya amalan adalah dengan mengesahkan Allah dan mengikuti Rasulullah.

Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapapun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.

Hamba-hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Cegahlah diri kalian dari hawa nafsu dan intropeksilah diri kalian sebelum kalian dihisab, serta hadirkanlah perasaan diawasi Allah dalam setiap rahasia dan pembicaraan tersembunyi.

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha teliti terhadap apa yang kamu rejakan.

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala tidak menciptakan kalian secara sia-sia dan tidak membiarkan kalian begitu saja. Dia menciptakan hidup dan kematian untuk menguji siapa yang paling baik amalnya di antara kalian.

Dia telah membuat perjanjian dengan kalian untuk mengakui rububiah dan mengasakannya. Ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka, dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri. Saraya berfirman, bukankah aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, betul engkau Tuhan kami, kami bersaksi.

Kami melakukannya agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini. Atau agar kamu tidak mengatakan, sesungguhnya nenekmu yang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu. Sedangkan kami adalah keturunan yang datang setelah mereka.

Maka, apakah engkau akan menyiksa kami karena perbuatan para pelaku kebatilan? Dia juga telah mengambil perjanjian dengan kalian untuk hanya beribadah kepadanya dan tidak menyekutukannya dengan apapun. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala, “Bukankah aku telah berpesan kepadamu dengan sungguh-sungguh, wahai anak cucu Adam, bahwa janganlah kamu menyembah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu. Begitu juga sembahlah aku, inilah jalan yang lurus.”

Dia mendorong dan berwasiat kepada kalian tentang hal itu dalam firman-Nya: “Katakanlah, wahai Muhammad, kemarilah, aku akan membacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu, yaitu, janganlah mempersekutukannya dengan apapun, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, dan janganlah membunuh anak-anakmu karena kemiskinan. Tuhanmu berfirman, kamilah yang memberi rizki kepadamu dan kepada mereka.”

“Janganlah pula kamu mendekati perbuatan keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar. Demikian itu dia perintahkan kepadamu, agar kamu mengerti.”

Baca Juga:  Menanam Cinta Masjid sejak Dini dari Replika Masjid Nabawi di Blitar

Wahai manusia, sesungguhnya Allah Ta’ala telah menciptakan manusia untuk tujuan agung dan maksud luhur, yaitu, bertauhid dan beribadah kepadanya, sehingga hal paling agung yang Allah perintahkan kepada hamba-hambanya, mengharuskan mereka untuk merealisasikannya dan mengutus dengannya seluruh rasulnya, adalah untuk mengasahkan Allah Subhanahuwataala.

Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku, maksudnya adalah untuk mentauhidkan dan mengasahkannya dalam ibadah, sehingga tidaklah dipanjatkan doa, tidak berharap, tidak ditakuti, tidak bersujud, tidak bersumpah, dan tidak bertawakkal, kecuali hanya kepada Allah. Oleh karena itu, bertauhid dan beribadah kepada Allah Taala adalah tujuan utama penciptaan dan tanggung jawab manusia yang paling besar.

Allah menetapkan syariat, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab dengan misi tersebut. Perkara ini juga telah menjadi konsensus seluruh agama samawi, begitu pula kesepakatan para rasul dan nabi dari golongan umat terdahulu.

Allah berfirman: “Sungguh kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat untuk menyerukan, sembahlah Allah dan jauhilah tawud, diantara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah, dan ada pula yang ditetapkan dalam kesesatan, maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan para rasul.”

Juga firmannya, “Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau nabi Muhammad, melainkan kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.

Maka, tauhid adalah tujuan dari keberadaanmu, wahai hamba Allah, tujuan penciptaan dirimu, dan jalan yang tiada cara untuk menuju surga kecuali dengan menitinya. Kaum mukminin, Allah telah menetapkan bukti-bukti yang terang atas keesaannya, dan argumen-argumen tak terbantahkan yang telah disaksikan oleh syariat, akal, dan panca indera.

Alam semesta adalah kitab tertulis yang berbicara dalam tasbih dan tahmid. Setiap benda terkecil berseru dalam pengagungan dan pemulihaan, langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun kecuali senantiasa bertasbih dengan memujinya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.

Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. Tauhid adalah kebenaran yang nyata, bukti yang terang benderang, dan hakikat yang selaras dengan realita. Allah telah menciptakan manusia di atas tauhid, menjadikannya sebagai sumber kemuliaan dan keutamaan, serta penjaga darah dan hartanya.

Wahai manusia, sejatinya esensi tauhid adalah mengasahkan Allah Ta’ala dengan setiap hal yang menjadi kekhususannya dalam aspek uluhiah, rububiah, dan nama-nama serta sifat-sifatnya. Begitu pula, keimanan bahwa Allah Ta’ala adalah Maha Esa. Dia adalah sekutu baginya dalam kerajaan dan pengaturannya.

Hanyalah dia yang berhak diibadahi dan tidak dipersembahkan kepada selainnya. Inilah tauhid yang akan membebaskan seorang muslim dari ketergelinciran dan kehinaan dalam penyembahan berhala. Mengikuti para pengekor hawa nafsu dari kalangan pendusta, penyihir, dan peramal, serta melepaskan diri dari jeratan para durjana dari kalangan jin dan manusia, juga dari penindasan dan kekuasaan para penolong setan.

Allah Ta’ala berfirman: “Mereka menjadikan para rabi Yahudi dan para rahib Nasrani sebagai Tuhan-Tuhan selain Allah, serta Nasrani mempertuhankan al-Masih putra Maryam, padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Tuhan yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain dia, Maha Suci Allah, apa yang mereka persekutukan. Ini juga merupakan tawhid yang menyelapatkan seorang muslim dari lumpur kesesatan, kerancuan, dan kegelapan yang pekat menuju cahaya hidayah dan Islam.”

Aku berlindung kepada Allah dari godaan satan yang terkutuk. Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari aneka kegelapan menuju cahaya iman.

Baca Juga:  Sebutir Kurma dari Pelataran Masjid Nabawi

Sedangkan orang-orang yang kufur, pelindung-pelindung mereka adalah tagut. Mereka mengeluarkan orang-orang kafir itu dari cahaya menuju berbagai kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Semoga Allah memberkahi saya dan kalian semua melalui Al-Quran yang agung serta memberikan manfaat dari ayat-ayat dan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. Ini yang dapat saya sampaikan dan saya memohon ampun kepada Allah.

Maka mohon ampunlah kepadanya. Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang menciptakan para makhluk untuk beribadah kepadanya, memilih diantara mereka golongan yang taat kepadanya, sehingga dia memuliakan mereka dengan pengenalannya dan pengesahan yang tulus.

Wahai manusia, mentauhidkan Allah Ta’ala merupakan roh dan poros keislaman, bahkan ia merupakan inti permulaan dan tumpuannya.

Kalimat tauhid Lailahaillallah Muhammadurasulullah adalah pintu masuk dan cara bergabung ke dalamnya. Ia adalah simbol keislaman dan pembeda antara ahli syirik dan iman. Ia adalah pintu dan harga surga.

Ia adalah tangga para hamba menuju Tuhan mereka. Atas dasar hal ini, Allah menciptakan para makhluk, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab. Alhamdulillah, ketahuilah bahwa mengesahkan Allah Ta’ala adalah syarat sah dan diterimanya suatu amalan.

Allah Ta’ala berfirman, “Sungguh benar-benar telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu. Sungguh jika engkau mempersyukurkan Allah, nisyaya akan lugurlah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi. Juga firmannya, “Seandainya mereka mempersyukurkan Allah, pasti sia-sialah amal yang telah mereka kerjakan.”

Iblis senantiasa mengintai Bani Adam, memantau, menyesatkan, dan mencegah mereka dari Tauhid sebagaimana sumpahnya yang telah Allah Ta’ala firmankan. Iblis berkata, “Demi kemuliaanmu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambamu yang terpilih karena keikhlasannya diantara mereka.

Dalam hadis Qudsi, Allah berfirman, “Dan sesungguhnya aku telah menciptakan hamba-hambaku semuanya dalam keadaan hanif, yakni beragama Tauhid.”

Kemudian, setan datang kepada mereka, lalu mengeluarkan mereka dari agama mereka, mengharamkan apa saja yang aku halalkan bagi mereka, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukanku, padahal aku tidak pernah menurunkan keterangan tentangnya.

Wahai manusia, ketahuilah bahwasannya syirik terbagi menjadi dua kategori. Yang pertama, syirik besar yang mengeluarkan dari agama, yaitu memalinkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala, seperti berdoa kepada selain Allah, mendekatkan diri dengan menyembelih-sembelihan, dan bernadhar kepada selainnya.

Dan bertawakal kepada selainnya pada suatu hal yang tidak mampu melakukannya kecuali Allah Ta’ala. Syirik ini termasuk dosa yang paling besar. Abdullah bin Mas’ud Radiyallahuanhu menunturkan, aku bertanya kepada Nabi Saw, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah? Beliau menjawab, mengadakan tandingan bagi Allah, padahal dia yang menciptakanmu.

Aku berkata, sungguh itu dosa yang benar-benar besar. Ini adalah syirik besar yang tidak akan diampuni dan dimaafkan oleh Allah sebagaimana firmannya. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa karena mempersekutukannya, tetapi dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dia kehendaki.

Siapapun yang mempersekutukan Allah, sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar. Allah juga telah mengharamkan surga bagi siapa saja yang terjerumus ke dalam syirik ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka.

Yang kedua, syirik yang kecil yang tidak mencapai derajat syirik besar, namun ia adalah sarana dan perantara untuk terjerumus ke dalamnya seperti bersumpah kepada selain Allah, anggapan sial, pesimisme, ria dan sumah.

Ia juga disebut sebagai syirik yang tersembunyi karena sebagian orang tidak mengetahuinya, pelakunya tidak dikeluarkan dari agama Islam dan tidak membatalkan pokok keimanan, namun ia berada dalam keadaan, ia berada dalam bahaya yang sangat besar.

Baca Juga:  Sebutir Kurma dari Pelataran Masjid Nabawi

Kesyirikan bukan hanya dalam bentuk beribadah kepada berhala, bahkan ia juga mencakup setiap hati yang bergantung kepada selain Allah, setiap amalan yang tercampuri dengan ria, setiap doa yang dipanjatkan kepada selainnya, setiap sumpah kepada selainnya, setiap sumpah dengan selainnya, dan setiap anggapan sial, pesimisme, dan ketergantungan kepada selainnya.

Bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Hal yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya, apa syirik kecil itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab, yaitu ria.”

Wahai golongan yang bertauhid, wahai kaum muslimin, Al-Quran adalah kitab yang berisi tauhid dan sumber pensyariatan sehingga seharusnya ia menjadi pedoman semua orang.

Tidak ada kitab di bawah langit yang mencakup bukti-bukti, ayat-ayat, argumen-argumen, tanda-tanda nyata, dan tuntunan-tuntunan luhur yang mengandung tauhid, penetapan sifat, hari kebangkitan, nubuah, penolakan ajaran-ajaran sesat, dan pendapat-pendapat rusak yang mengungguli Al-Quran karena ia menjamin keterkandungan semua hal itu mencakup seluruhnya dengan cara yang paling sempurna, terbaik, paling rasional dengan akal, dan paling fasih dalam pemaparan. Dia sejatinya adalah penyembuh bagi berbagai penyakit syubhat dan keraguan, namun hal itu tergantung pada pemahaman terhadapnya dan pengetahuan terhadap isi yang dikandungnya.

Selanjutnya, wahai kaum beriman, ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian bahwa karunia terbesar yang ditanamkan di dalam hati, harta paling berharga yang disimpan di dalam dada, dan hakikat paling mulia yang dikenal dalam kehidupan adalah tauhid.

Ia adalah kunci keselamatan dan faktor keamanan di dunia dan akhirat. Tauhid bukan sekedar kata yang diucapkan oleh lisan, melainkan sebuah perjanjian yang terikat dengan Tuhan yang maha pengasih, sebuah ikatan yang diteguhkan dengan sang maha pembalas, dan cinta yang tidak boleh disaingi oleh makhluk manapun di dalam sanubari.

Ya Allah, kami memohon kepadamu tauhid yang memenuhi hati kami, keikhlasan yang tidak tercampuri oleh riak, kejujuran yang tidak tercemari tipuan, dan keyakinan yang tidak terbesit keraguan di dalamnya.

Ya Allah, jadikanlah Lailahaillallah adalah kata-kata terakhir yang diucapkan oleh lisan-lisan kami, dan teguhkanlah kami di atasnya dengan ucapan yang teguh di kehidupan dunia dan akhirat. Ya Allah, berilah kami petunjuk, tanamkanlah dalam hati kami kecintaan terhadap iman, hiasilah hati kami dengan nyak, dan jaduhkanlah kami dari kekafiran, kefasikan, serta kemaksiatan.

Jadikanlah kami termasuk golongan yang mendapat petunjuk. Ya Allah, Zat yang maha membolak balikan hati, teguhkanlah hati kami di atas agamamu. Ya Allah, Zat yang maha memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan kepadamu.

Wahai Tuhan kami, janganlah engkau jadikan hati kami berpaling setelah engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadiratmu. Sungguhnya Engkau Maha Pemberi.

Ya Allah, mulikanlah Islam dan kaum muslimin, tolonglah hamba-hambamu yang bertauhid, jadikanlah negeri ini aman dan tentram, demikian pula seluruh negeri kaum muslimin.

Ya Allah, bimbinglah pemimpin kami pelayan dua tanah suci dengan tauhidmu, berilah ia dukungan dan pertolonganmu, anugerahkanlah kepadanya kesehatan dan kesejahteraan, wahai Tuhan semesta alam. Ya Allah, bimbinglah beliau dan putra maha kota menuju hal yang engkau cintai dan ridai. Wahai Zat yang maha mendengar doa.

Wahai Allah, terimalah amal kami, sesungguhnya engkau maha mendengar, lagi maha mengetahui. Terimalah tawabat kami, sesungguhnya engkau maha penerima tawabat, lagi maha penyayang. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni