
Patah hati seringkali dipahami sebagai musibah dan kesialan sehingga membuat manusia sedih tak berkesudahan. Bisa jadi itu pengingat untuk berhenti sejenak, lantas ingat untuk memilih jalan yang benar.
Oleh Arif Zunaidi, dosen UIN Syekh Wasil Kediri
Khotbah Pertama
إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِن شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِن سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَن يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَن يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ أَيُّهَا المُسْلِمُونَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُونَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيم:
( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ )
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الإِخْوَةُ فِي اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ الحَيَاةَ لَيْسَتْ دَائِمًا كَمَا نُرِيدُ، وَلَكِنَّهَا دَائِمًا كَمَا يُرِيدُ اللَّهُ، فَاصْبِرُوا عَلَى أَقْدَارِ اللَّهِ، وَارْضَوْا بِحُكْمِهِ، وَكُونُوا مِنَ الصَّابِرِينَ
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥānahu wa ta‘ālā dengan sebenar-benar takwa. Takwa bukan hanya diucapkan, tetapi dihidupkan dalam hati dan diamalkan dalam perbuatan.
Takwa menjadikan kita tetap tenang saat badai melanda, tetap yakin saat segalanya tampak tak pasti, dan tetap bersyukur meski yang datang adalah kesedihan.
Dengan takwa, kita memahami bahwa segala sesuatu yang menimpa kita bukan kebetulan, melainkan bagian dari rencana besar Allah yang ingin membawa kita lebih dekat kepada-Nya.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Terkadang Allah sengaja mematahkan hati kita, bukan karena Dia membenci kita, tapi karena Dia ingin kita berhenti melangkah ke arah yang salah.
Ada kalanya Allah mengirimkan kegagalan, bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menyadarkan bahwa jalan yang kita tempuh selama ini bukanlah jalan yang diridhaiNya. Kadang Allah mengambil sesuatu yang kita cintai, agar kita belajar bahwa tak ada yang benar-benar kita miliki kecuali Dia.
Kadang Allah memberi hadiah berupa musibah, supaya kita sadar betapa lemahnya kita tanpa pertolongan-Nya.
Allah Subḥānahu wa ta‘ālā berfirman dalam surah Al-Ḥadīd ayat 22–23:
مَا أَصَابَ مِنْ مُّصِيبَةٍ فِى الْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَـٰبٍۢ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌۭ • لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍۢ فَخُورٍۢ
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan demikian) supaya kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput darimu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan kepadamu.
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa segala peristiwa dalam hidup telah tertulis rapi dalam ketetapan Allah.
Maka jangan terlalu larut dalam kesedihan atas apa yang hilang, dan jangan terlalu sombong atas apa yang didapat. Karena keduanya sama-sama ujian: kehilangan menguji kesabaran, dan kelimpahan menguji kesyukuran.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Kadang hati kita harus patah agar kita berhenti bersandar pada manusia. Kadang cita-cita kita hancur supaya kita belajar kembali bergantung kepada Allah.
Sebab selama hati masih menggantungkan bahagia pada dunia, maka Allah akan terus mendidik kita dengan kehilangan, agar kita paham bahwa sumber bahagia sejati hanya bersamaNya.
Maka, jangan marah ketika Allah mengambil sesuatu darimu. Jangan kecewa ketika doa belum dikabulkan.
Bisa jadi, Allah sedang menyelamatkanmu dari sesuatu yang tak engkau ketahui. Allah tidak pernah kejam kepada hambaNya, hanya saja manusia sering kali tak sabar membaca maksud cintaNya.
Wahai hamba Allah, jika hari ini hatimu sedang patah, jangan biarkan itu menjauhkanmu dari Allah. Jadikan kepatahan itu sebagai jalan pulang menujuNya.
Tangisilah dosa-dosamu, bukan takdirmu. Sebab takdir tidak akan pernah salah, yang sering salah adalah arah langkah kita.
Dan percayalah, setiap kali engkau kembali, Allah selalu menunggu dengan kasih yang lebih besar dari dosamu.
Sebagaimana janjiNya dalam surah Az-Zumar ayat 53:
قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
Katakanlah: Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Maka kembalilah kepada Allah. Bangun dari keterpurukan. Bersihkan hati dari keluh kesah. Karena Allah tidak sedang menghukummu, tetapi sedang memelukmu dengan cara yang tidak selalu kau mengerti.
أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم.
Khotbah Kedua
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. نَحْمَدُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى رَأْسُ كُلِّ خَيْرٍ، وَمِفْتَاحُ كُلِّ بَرَكَةٍ، وَسَبَبُ النَّجَاةِ يَوْمَ القِيَامَةِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّابِرِينَ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمُ المُصِيبَةُ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، وَاجْعَلْ صَبْرَنَا جَمِيلًا، وَأَجْرَنَا جَزِيلًا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى الإِيمَانِ وَالتَّقْوَى.
اللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى المُسْلِمِينَ، وَارْحَمْ مَوْتَانَا وَمَوْتَى المُسْلِمِينَ، وَفَرِّجْ هُمُومَ المَهْمُومِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ المَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ المَدِينِينَ، وَيَسِّرْ أُمُورَ الْمُعْسِرِينَ.
اللَّهُمَّ رُدَّنَا إِلَيْكَ رَدًّا جَمِيلًا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَوَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا فِيهِ خَيْرُ بِلَادِنَا وَعِبَادِنَا، وَاجْعَلْ هَذَا البَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَّاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالسَّعَادَةِ وَالإِيمَانِ، وَلَا تَخْتِمْ لَنَا بِالشَّقَاءِ وَالطُّغْيَانِ، وَاجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ.
عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Penyunting Sugeng Purwanto










