Cerpen

Tasbih Kayu Mbah Sastro

48
×

Tasbih Kayu Mbah Sastro

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Hujan, ketenangan, dan tasbih kayu yang penuh makna. Sebuah pertemuan tak terduga mengungkapkan rahasia hidup, di mana setiap butir tasbih menyimpan kekuatan untuk mengubah hati yang gelisah.

Tasbih Kayu Mbah Sastro; Cerpen oleh Nurkhan, Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo, Panceng, Gresik, Jawa Timur.

Tagar.co – Hujan turun dengan deras, memecah kesunyian malam di desa kecil yang terletak di kaki gunung. Angin berhembus pelan, membawa ketenangan dalam pikiran. Menyingkap tabir kegelapan. Di sebuah rumah kayu sederhana, seorang kakek tua duduk di beranda, memandangi rintik hujan yang jatuh ke bumi.

Di dalam dirinya, ada kegelisahan yang sulit ia ungkapkan. Sesuatu yang tak terdefinisikan, seolah datang dari dalam hatinya, mengganggu ketenangannya. Tangannya yang keriput memegang erat tasbih kayu yang telah menemani hidupnya selama puluhan tahun. Tasbih itu terbuat dari kayu jati tua, warnanya sudah menggelap karena sering dipegang, dan setiap butirnya seolah menyimpan cerita yang tak terucapkan.

Kakek itu bernama Mbah Sastro, seorang lelaki berusia delapan puluh tahun yang dikenal sebagai orang bijak di desanya. Namun, di balik kebijaksanaannya, Mbah Sastro juga seorang yang sering merenung tentang makna hidup dan takdir.

Cerpen Nurkhan lainnya: Hafalan Terakhir untuk Ayah

Tasbih kayu itu bukan sekadar alat untuk berzikir, melainkan peninggalan dari ayahnya yang telah meninggal dunia ketika Mbah Sastro masih muda. Ayahnya adalah seorang guru spiritual yang dihormati, dan tasbih itu diwariskan kepadanya sebagai simbol tanggung jawab untuk menjaga kebijaksanaan dan ketenangan dalam hidup.

Malam itu, Mbah Sastro merasa ada sesuatu yang berbeda. Hatinya gelisah, seolah ada firasat yang mengganggu pikirannya. Ia memejamkan mata, mengucapkan kalimat-kalimat zikir dengan suara lirih, sambil jemarinya terus menggeser butir tasbih satu per satu. Ketika ia mendalamkan zikirnya, suara langkah kaki mendekat dari arah jalan setapak di depan rumahnya.

“Assalamualaikum, Mbah,” suara itu mengagetkannya. Mbah Sastro membuka matanya dan melihat seorang pemuda berdiri di depan pintu gerbang rumahnya. Pemuda itu basah kuyup, wajahnya pucat, dan matanya terlihat kosong.

“Waalaikumsalam,” jawab Mbah Sastro pelan. “Masuklah, Nak. Kamu kehujanan.”

Pemuda itu mengangguk patuh dan masuk ke dalam rumah. Mbah Sastro memberinya handuk dan segelas teh hangat. Pemuda itu duduk di kursi kayu sambil menatap lantai, seolah ada beban berat yang ia bawa.

“Siapa namamu, Nak?” tanya Mbah Sastro setelah beberapa saat.

“Rian, Mbah,” jawab pemuda itu dengan suara parau. “Saya… saya tidak tahu harus kemana lagi. Saya merasa tersesat.”

Mbah Sastro mengangguk perlahan, seolah memahami apa yang dirasakan Rian. Rasa galau itu, Mbah Sastro tahu, bukan hanya dirasakan oleh Rian, tapi juga oleh banyak orang di luar sana. Ia mengambil tasbih kayunya dan mulai menggeser butir-butirnya lagi. “Setiap orang pernah merasa tersesat, Nak. Tapi, kadang kita hanya perlu berhenti sejenak, mendengarkan suara hati, dan mencari petunjuk.”

Baca Juga:  Menembus Ombak Menuju Gili Trawangan, Perjalanan Laut yang Menguji Adrenalin

Rian menatap Mbah Sastro dengan mata berkaca-kaca. “Tapi, Mbah… saya sudah melakukan banyak kesalahan. Saya tidak tahu bagaimana memperbaikinya.”

Mbah Sastro tersenyum lembut. “Kesalahan adalah bagian dari hidup, Nak. Yang penting adalah bagaimana kita belajar darinya dan berusaha menjadi lebih baik.” Ia memandang Rian dalam-dalam, seolah ingin menunjukkan bahwa di balik rasa bersalah itu, ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Ia mengulurkan tasbih kayu itu kepada Rian. “Peganglah ini. Rasakan setiap butirnya. Setiap butir ini mewakili langkah dalam hidup kita. Ada yang ringan, ada yang berat, tapi semuanya membawa kita pada tujuan yang sama.”

Rian menerima tasbih itu dengan tangan gemetar. Ia merasakan permukaan kayu yang halus dan hangat, seolah ada energi yang mengalir dari tasbih itu ke dalam dirinya. Ia mulai menggeser butir-butirnya, mengikuti ritme yang tenang.

“Zikir adalah cara kita mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa,” lanjut Mbah Sastro. “Dengan berzikir, kita mengingat bahwa segala sesuatu dalam hidup ini ada hikmahnya. Bahkan dalam kesulitan sekalipun.”

Rian mengangguk pelan, air matanya mulai menetes. Ia merasa beban di hatinya perlahan-lahan terangkat. Malam itu, ia bercerita banyak kepada Mbah Sastro tentang kesalahan yang telah ia perbuat, tentang rasa bersalah yang menghantuinya, dan tentang keinginannya untuk berubah.

Mbah Sastro mendengarkan dengan sabar, sesekali mengangguk atau memberikan nasihat singkat. Dalam hatinya, Mbah Sastro tahu bahwa Rian hanya butuh seseorang yang mau mendengarkan dan memberinya petunjuk. Ketika fajar mulai menyingsing, Rian merasa hatinya lebih tenang.

“Terima kasih, Mbah,” ucap Rian dengan suara penuh syukur. “Saya merasa lebih baik sekarang.”

Mbah Sastro tersenyum. “Jangan lupa, Nak. Hidup ini seperti tasbih. Setiap butirnya adalah langkah kita. Ada yang mudah, ada yang sulit, tapi semuanya membawa kita pada tujuan yang sama. Yang penting adalah kita tetap berjalan, tetap berzikir, dan tetap percaya bahwa ada hikmah di balik segala sesuatu.”

Rian mengangguk, mengembalikan tasbih kayu itu kepada Mbah Sastro. “Saya akan berusaha, Mbah. Saya akan berubah.”

Mbah Sastro mengangguk bangga. “Semoga engkau menemukan jalanmu, Nak.”

Setelah itu, Rian pergi dengan langkah yang lebih ringan. Mbah Sastro kembali duduk di beranda, memandangi matahari yang mulai terbit. Ia memegang tasbih kayunya erat-erat, merasakan betapa berartinya benda kecil itu dalam hidupnya.

Baca Juga:  Belajar dari Tetesan Air: Pesan Ketekunan di Pondok Ramadan MI Mutwo

Tasbih itu bukan sekadar alat untuk berzikir, melainkan pengingat akan tanggung jawabnya untuk membimbing orang lain, seperti yang pernah dilakukan ayahnya dahulu.

Rian pun pergi, meninggalkan Mbah Sastro yang masih duduk di beranda rumahnya. Matahari pagi mulai menyinari desa kecil itu, membawa kehangatan setelah malam yang penuh dengan hujan dan kegelisahan.

Mbah Sastro menarik napas dalam-dalam, merasakan ketenangan yang kembali menyelimuti hatinya. Ia tahu bahwa pertemuan dengan Rian bukanlah kebetulan. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang bekerja, dan tasbih kayu itu sekali lagi menjadi perantara untuk menyentuh hati seseorang yang membutuhkan.

Beberapa hari kemudian, kabar tentang Rian mulai tersebar di desa. Pemuda itu terlihat lebih tenang, lebih bersemangat, dan mulai membantu warga desa dalam berbagai kegiatan.

Rian bahkan sering terlihat duduk di masjid, berzikir dengan khusyuk. Banyak yang heran dengan perubahan drastisnya, tapi Mbah Sastro hanya tersenyum. Ia tahu bahwa perubahan itu datang dari dalam diri Rian sendiri. Tasbih kayu itu hanyalah alat untuk membuka pintu hati.

Suatu sore, Rian kembali mengunjungi Mbah Sastro. Kali ini, wajahnya cerah dan penuh harapan. “Mbah, saya ingin berterima kasih lagi,” ucap Rian dengan suara penuh syukur. “Saya merasa seperti orang baru. Saya sudah memaafkan diri sendiri dan berusaha memperbaiki kesalahan saya.”

Mbah Sastro mengangguk bangga. “Itu bagus, Nak. Tapi ingat, perjalananmu belum selesai. Hidup ini penuh dengan ujian, dan kita harus selalu siap menghadapinya.”

Rian mengangguk, lalu menatap tasbih kayu yang masih berada di tangan Mbah Sastro. “Mbah, bolehkah saya memegang tasbih itu sekali lagi?”

Mbah Sastro tersenyum dan mengulurkan tasbih kayu itu kepada Rian. “Tentu saja, Nak. Peganglah dan rasakan lagi energinya.”

Rian menerima tasbih itu dengan hati-hati, seolah memegang sesuatu yang sangat berharga. Ia mulai menggeser butir-butirnya, merasakan ketenangan yang mengalir dari setiap butir kayu itu. “Mbah, apakah tasbih ini pernah memberikanmu petunjuk dalam hidup?”

Mbah Sastro terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Banyak sekali, Nak. Tasbih ini telah menemani saya melalui berbagai momen dalam hidup. Saat saya merasa ragu, saat saya sedih, bahkan saat saya bahagia. Setiap butirnya mengingatkan saya untuk selalu bersyukur dan percaya bahwa segala sesuatu ada hikmahnya.”

Rian mengangguk, lalu mengembalikan tasbih itu kepada Mbah Sastro. “Saya berharap suatu hari nanti, saya bisa memiliki kebijaksanaan seperti Mbah.”

Baca Juga:  Guru, Empati, dan Madrasah sebagai Rumah Bersama

Mbah Sastro tersenyum lembut. “Kebijaksanaan tidak datang dengan sendirinya, Nak. Itu adalah hasil dari pengalaman, dari belajar, dan dari mendengarkan hati. Kau sudah memulai perjalananmu dengan baik. Teruslah berjalan, dan jangan pernah menyerah.”

Rian mengangguk, lalu berpamitan untuk pulang. Mbah Sastro kembali duduk di beranda, memandangi langit sore yang mulai berubah warna. Ia merenungkan pertemuan-pertemuan yang telah ia alami, dan bagaimana tasbih kayu itu selalu menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Hari-hari pun berlalu, dan Mbah Sastro semakin tua. Tubuhnya semakin lemah, tapi hatinya tetap kuat. Ia tahu bahwa waktunya di dunia ini tidak akan lama lagi. Suatu malam, ia memanggil cucunya, seorang anak perempuan bernama Laras.

“Laras, kemarilah,” panggil Mbah Sastro dengan suara lemah.

Laras segera mendekat, duduk di samping kakeknya. “Ada apa, Mbah?” tanyanya dengan wajah penuh khawatir.

Mbah Sastro mengulurkan tasbih kayu itu kepada Laras. “Ini adalah tasbih yang telah menemani Mbah selama puluhan tahun. Sekarang, Mbah ingin memberikannya kepadamu.”

Laras terkejut. “Tapi, Mbah… ini sangat berharga. Apakah Mbah yakin?”

Mbah Sastro mengangguk pelan. “Mbah yakin, Nak. Kau adalah penerus kebijaksanaan kita. Peganglah tasbih ini dengan baik, dan ingatlah bahwa setiap butirnya adalah langkah dalam hidup. Ada yang ringan, ada yang berat, tapi semuanya membawa kita pada tujuan yang sama.”

Laras menerima tasbih itu dengan hati-hati, merasakan betapa berartinya benda kecil itu. “Saya akan menjaganya dengan baik, Mbah. Saya berjanji.”

Mbah Sastro tersenyum, merasa lega bahwa ia telah menyerahkan tanggung jawab itu kepada seseorang yang ia percaya. Ia memejamkan mata, merasakan ketenangan yang mendalam. “Terima kasih, Laras. Mbah percaya padamu.”

Malam itu, Mbah Sastro meninggal dunia dengan tenang. Seluruh desa berduka, tapi mereka tahu bahwa kebijaksanaannya akan terus hidup melalui tasbih kayu yang kini dipegang oleh Laras.

Dan di desa kecil itu, tasbih kayu Mbah Sastro tetap menjadi simbol kebijaksanaan dan ketenangan. Setiap butirnya adalah cerita, setiap geserannya adalah langkah, dan setiap zikirnya adalah doa untuk kehidupan yang lebih baik. Laras, seperti kakeknya, mulai membimbing orang-orang yang membutuhkan, membawa pesan bahwa dalam setiap kesulitan, selalu ada hikmah yang menunggu untuk ditemukan.

Tasbih kayu itu terus mengalirkan energi positif, mengingatkan semua orang bahwa hidup adalah perjalanan yang penuh dengan makna. Dan di tangan Laras, warisan Mbah Sastro akan terus hidup, membawa cahaya kebijaksanaan ke generasi berikutnya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…