
Tari Cublak-Cublak Suweng MI Tashilul Mubtadiin meriahkan Hari Jadi Kota Probolinggo Ke-666. Lima siswi penari tampil percaya diri di panggung yang megah
Tagar.co- Wajah-wajah semangat dan riang tampak pada lima penari siswi MI Tashilul Mubtadiin. Mereka dengan percaya diri naik ke atas panggung yang megah. Menampilkan sebuah tarian dolanan Cublak-Cublak Suweng.
Para penari cilik ini tampil memukau di hadapan ratusan penonton yang memenuhi Stadion Bayuangga Kota Probolinggo, Kamis (2/10/2025). Tak henti-hentinya bunyi gemuruh tepuk tangan dari penonton.
Penampilan tarian ini dalam rangka memeriahkan agenda tahunan dengan sebutan Deddhinah 666 Probolinggo Kottah (Hari Jadi Kota Probolinggo Ke-666. Tempat yang terpilih adalah Stadion Bayuangga.
Tak Grogi Meski Belum Pernah Tampil
Kepala MI Tashilul Mubtadiin, Hanafi menyampaikan rasa bahagia dan rasa syukurnya atas kesuksesan penampilan para siswinya di Hari Jadi Kota Probolinggo.
“Alhamdulillah, terbayar sudah. Di luar dugaan ternyata penampilan anak-anak kami begitu luar biasa. Tidak tampak sedikitpun rasa grogi. Justru sebaliknya, mereka menari dengan lepas tanpa beban,” ujarnya.
Hanafi mengaku awalnya sempat deg-degan. Mengingat anak-anak penari ini sebelumnya belum pernah tampil di panggung semegah ini. Choirun Nisak, Zianatul Millah, Syaira Al Mubarak, Nikmatun Nadiroh, dan Fajaria tampil luar biasa.
“Lagi pula MI Tashilul Mubtadiin tergolong madrasah pinggiran kota. Alhamdulillah, anak-anak tampil luar biasa. Terima kasih anak-anak dan pelatih yang sudah bekerja keras menyiapkan penampilan ini,” ungkapnya.

Filosofi Tari
Sementara itu pelatih tari MI Tashilul Mubtadiin, Aji Pangestu Febrianto Hidayat menjelaskan, Tari Cublak-Cublak Suweng awalnya sebuah lagu dolanan atau lagu permainan anak-anak tradisional dari Jawa Timur.
Namun belakangan lagu ini juga dijadikan iringan sebuah tarian tradisional atau tari kreasi yang mengambil inspirasi dari permainan tersebut.
Secara garis besar, tarian ini menggambarkan suasana permainan tradisional yang ceria dan penuh kebersamaan, sekaligus membawa pesan fisolofis yang mendalam. Mengajarkan tentang suweng atau perhiasan telinga sebagai simbul harta sejati atau kebahagian yang sesungguhnya.
“Kebahagian sejati tidak dicari hanya dengan mengejar harta benda dunia dan tidak berada di tempat yang mudah dilihat. Melainkan berada di dalam diri sendiri. Yaitu budi pekerti , kebijaksanaan serta nilai-nilai kehidupan,” jelasnya
Permainan dan Kegembiraan
Menurutnya Aji Pangestu Febrianto, tarian ini di buka dengan menggambarkan sekelompok anak yang sedang berkumpul. Juga sambil melambaikan tangan pertanda mengajak teman-temannya untuk bermain.
Mereka melakukan gerakan-gerakan sederhana. Berputar dan menyanyi bersama. Adegan mencari Suweng (anting atau perhiasan) yang tersembunyi di genggaman salah satu penari.
Proses pencarian. Gerakan tarian melambangkan usaha dan kerja keras untuk mencari suweng. Yaitu dengan gerakan menunjuk, mengelilingi dan mencari
Kesadaran diri : klimaks tarian ini merupakan gerakan yang menunjukkan kesadaran atau penemuan bahwa harta sejati tidak berada di luar. Melainkan di dalam diri, melalui gerakan yang menunjuk dada atau hati. (#)
Jurnalis Hanafi. Penyunting Sugiran.







