
Inovasi taman cerdas UMM membuktikan ruang hijau bisa lebih dari sekadar indah. Dengan energi surya, taman hidup mandiri dan ramah lingkungan, membawa mahasiswa vokasi UMM meraih juara dalam ajang kompetisi nasional.
Tagar.co – Sebuah gagasan sederhana tapi visioner lahir dari tangan mahasiswa Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka menamainya Taman Cerdas—ruang hijau yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga mampu memproduksi energi listrik secara mandiri.
Baca juga: Miniatur Indonesia di UMM: Upacara Kemerdekaan Penuh Warna Baju Adat
Ide inilah yang mengantarkan tim “Gartonic” UMM, beranggotakan Krisna Hendriansyah, Andrhira Siva Kristy, dan Chyallo Exsel Heiga Handika, menembus podium juara dalam ajang Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) 2025.
Dari 1.400 tim peserta yang datang dari 28 perguruan tinggi vokasi se-Indonesia, mereka sukses meraih juara 3 dalam kategori Applied Skill: Landscape Gardening.
Taman yang Hidup dari Energi Surya
Dalam rancangan mereka, taman bukan sekadar hamparan hijau yang rawan terbengkalai. Sebaliknya, taman dirancang mandiri dengan dukungan panel surya. Energi yang dihasilkan digunakan untuk menghidupkan air mancur, mengisi daya sepeda listrik, hingga kebutuhan pencahayaan malam hari.
“Jadi, taman ini sama sekali tidak mengambil listrik dari PLN. Sehingga semua kebutuhan listrik di taman ini diambil dari panel surya. Kalau kita lihat, ada banyak sekali taman tapi tidak dirawat dengan baik. Maka dari itu, ini jadi salah satu solusi yang mahasiswa vokasi UMM tawarkan,” jelas Ilham Pakaya, M.Tr.T., dosen pembimbing tim.
Saat kompetisi miniatur taman cerdas itu berupa srea kecil berlapis bebatuan putih dan jalan setapak hitam tampak asri dengan tanaman hias. Sebuah panel surya mini berdiri di sudut taman, menjadi simbol energi bersih yang menopang seluruh fasilitas.
Di atas taman mungil tersebut, tiga anggota tim Gartonic berpose percaya diri dengan jaket almamater merah khas UMM, menandai semangat muda yang berani berinovasi.

Persiapan sejak Mei
Tak mudah sampai di titik ini. Ilham menceritakan bagaimana tim Gartonic mempersiapkan diri sejak Mei lalu, menempuh berbagai tahapan seleksi hingga akhirnya lolos ke babak final.
“Kompetisi ini merupakan ajang nasional kampus-kampus vokasi dan politeknik. Persaingan ketat, tapi mahasiswa UMM bisa menunjukkan keunggulannya,” ujarnya, dalam siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co Sabtu (23/8/25) siang.
Menurutnya, kemenangan ini menegaskan bahwa pendidikan vokasi punya daya saing nyata dalam menjawab kebutuhan masa depan. Terlebih, mereka mampu mengungguli kampus besar seperti Universitas Sebelas Maret, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, hingga IPB.
Inspirasi untuk Mahasiswa Vokasi
“Keberhasilan Gartonic UMM tak hanya menjadi kebanggaan bagi civitas akademika UMM, namun juga menjadi motivasi bagi mahasiswa vokasi di seluruh Indonesia untuk terus berkarya, berinovasi, dan berkompetisi secara sehat dalam mengembangkan keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri dan pembangunan nasional,” kata Ilham menutup pernyataannya.
Kemenangan ini sekaligus menjadi penanda: taman tak lagi hanya simbol estetika kota, melainkan bisa menjadi laboratorium hijau yang cerdas, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












