
Talkshow di televisi yang menghadirkan akademisi dan buzzer dalam satu panggung tidak mengupas fakta dan kebenaran berdasar argumentasi, tetapi hanya mencari sensasi dan efek algoritmik.
Oleh Khoirul Anam, Mahasiswa Pascasarjana Studi Pemerintahan UMM
Tagar.co – Di era masyarakat digital perdebatan publik tidak lagi hanya terjadi di ruang akademik atau forum ilmiah tetapi berpindah ke layar televisi dan ruang media sosial.
Program diskusi seperti yang sering muncul di talkshow-talkshow media nasional menghadirkan fenomena menarik sekaligus problematis. Acara itu mempertemukan influencer atau yang direpresentasikan aktivis media sosial dan profesor dalam satu panggung debat.
Di satu sisi ini tampak demokratis. Siapa pun bisa berbicara. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan penting apakah diskusi publik masih didorong oleh pencarian kebenaran atau justru oleh logika rating dan sensasi?
Dalam beberapa diskusi publik, figur seperti Permadi Arya yang populer disebut Abu Janda tampil berdampingan dengan akademisi atau tokoh intelektual seperti Feri Amsari dan sejumlah profesor dari berbagai universitas.
Secara simbolik, panggung itu memperlihatkan dua dunia yang berbeda. Dunia pengetahuan berbasis riset dan dunia opini berbasis pengaruh digital.
Ironisnya, dalam format televisi yang mengejar rating, keduanya sering diperlakukan sama. Bukan kedalaman argumentasi tetapi daya tarik kontroversinya.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran otoritas pengetahuan. Dalam masyarakat modern klasik, otoritas pengetahuan berada pada ilmuwan, akademisi atau pakar yang bekerja melalui metodologi ilmiah.
Dalam masyarakat digital, otoritas tersebut bergeser ke figur yang memiliki kapital perhatian (attention capital) seperti para buzzer dan influencer.
Logika ini sejalan dengan analisis Pierre Bourdieu tentang bagaimana kapital simbolik dapat mengubah struktur kekuasaan dalam ruang publik.
Siapa yang memiliki pengaruh, pengikut dan visibilitas media, sering kali lebih didengar daripada mereka yang memiliki kedalaman pengetahuan.
Nalar Algoritma
Masalahnya tidak berhenti di sana. Dalam masyarakat digital, cara publik memahami realitas juga semakin dipengaruhi oleh algoritma.
Platform digital bekerja dengan sistem rekomendasi yang memprioritaskan konten yang paling menarik perhatian bukan yang paling benar.
Dalam situasi ini, nalar publik perlahan berubah menjadi nalar algoritma cara berpikir yang dibentuk oleh apa yang sering muncul di linimasa, bukan oleh proses refleksi rasional.
Fenomena ini pernah juga diingatkan oleh J. Habermas melalui konsep public sphere. Habermas membayangkan ruang publik sebagai arena diskusi rasional yang memungkinkan masyarakat mencapai pemahaman bersama melalui argumentasi yang masuk akal.
Namun dalam praktik media kontemporer, ruang publik sering terdistorsi oleh kepentingan ekonomi media dan logika industri perhatian. Diskusi publik berubah dari ruang deliberasi menjadi ruang pertunjukan.
Televisi dan media digital akhirnya berada dalam dilema. Di satu sisi mereka memiliki tanggung jawab menjaga kualitas nalar publik. Di sisi lain mereka terikat pada logika industri yang mengukur keberhasilan melalui rating, klik dan trending topic.
Dalam situasi ini, diskusi publik berisiko berubah menjadi gladiator intelektual para narasumber dihadapkan satu sama lain bukan untuk mencari solusi tetapi untuk menciptakan drama yang menarik penonton.
Etika Diskusi
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat digital membutuhkan kesadaran baru. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan media atau influencer karena mereka hanyalah bagian dari ekosistem yang lebih besar.
Yang perlu dijaga adalah etika pengetahuan dalam ruang publik. Akademisi perlu belajar berkomunikasi dengan publik secara lebih efektif, sementara media perlu menempatkan diskusi publik sebagai ruang pencerahan bukan sekadar hiburan politik.
Jika tidak, kita akan hidup dalam paradoks besar apa yang di sebut dengan era informasi yang melimpah dan imbasnya rasionalitas publik akan semakin rapuh.
Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh argumentasi yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang punya efek algorithmic .
Pada titik inilah masyarakat digital menghadapi tantangan terbesar bagaimana menjaga nalar publik agar tidak sepenuhnya dikendalikan oleh algoritma dan rating.
Tanpa kesadaran kritis itu, ruang publik akan semakin berubah menjadi panggung opini, bukan rumah bagi pengetahuan. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












