
Mereka sepasang suami-istri yang menjadikan dakwah bukan sekadar seruan, tapi gerakan. Dari lahirnya Muhammadiyah hingga berdirinya ‘Aisyiyah, perjuangan Ahmad Dahlan dan Siti Walidah menegaskan bahwa dakwah sejati menuntut ilmu, ketulusan, dan keberanian.
Oleh M. Anwar Djaelani, peminat biografi tokoh Islam
Tagar.co – Berdakwah adalah amanat bagi semua umat Islam. Oleh karena itu, aktiflah melakukan amaliah yang sangat mulia itu. Untuk menambah semangat berdakwah, antara lain kita bisa mengambil teladan dari Ahmad Dahlan dan Siti Walidah.
Banyak ayat dan hadis yang meminta kaum Muslimin untuk giat berdakwah. Perhatikan, misalnya Ali Imran: 104 dan 110. Juga ayat ini: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”
Baca juga: Mak Jomblang Tagar.co, M. Anwar Djaelani Ajak 50 Penulis Bergabung
Bahkan, dalam ayat ini tergambarkan bahwa tak ada perkataan yang lebih baik di hadapan Allah selain “menyeru kepada Allah” atau berdakwah.
Lalu, ada sabda Nabi Saw antara lain ini: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Berkisahlah tentang Bani Israel dan itu tidak apa-apa. Barang siapa berdusta atas namaku, maka bersiaplah mendapatkan kursinya dari api neraka.” (Bukhari).
Selanjutnya, lihatlah kinerja dakwah yang mengagumkan dari pendahulu kita. Sekadar contoh, perhatikan jejak dakwah Mush‘ab bin Umair. Sahabat Nabi Saw ini adalah seorang “pemuda harum” dari keluarga kaya. Ia rela hidup seadanya karena keislamannya tak disetujui orang tuanya. Meski begitu, ia istikamah di jalan Islam bahkan dipercaya Nabi Saw berdakwah ke Madinah dan sukses.
Gerak Dahlan
Di Indonesia, mari rasakan kerja dakwah Ahmad Dahlan. Semangatnya bisa dirasakan, antara lain lewat kalimat ini:
“Jika kamu berhalangan untuk bertabligh, janganlah permisi kepadaku. Tapi permisilah kepada Tuhan dengan mengemukakan alasanmu. Setelah itu, kamu (harus) bertanggung jawab atas perbuatanmu,” kata Ahmad Dahlan.
Siapa dia? Ahmad Dahlan lahir pada 1 Agustus 1868 di Kampung Kauman, Yogyakarta, tak jauh dari Masjid Besar Kesultanan. Sang ayah, K.H. Abubakar, imam dan khatib terkemuka di masjid itu.
Ahmad Dahlan adalah keturunan ke-12 dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang dari Walisongo. Sejak kanak-kanak, ia agamis, pandai bergaul, dan peduli kepada sesama.
Pada 1883—saat berusia 15 tahun—ia berangkat ke Makkah, berhaji sekaligus belajar selama lima tahun. Ia dikenal cerdas. Sempat pulang pada 1888 dan diangkat menjadi pegawai Masjid Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Khatib Amin.
Belakangan, Ahmad Dahlan ke Makkah lagi pada 1902 untuk berhaji dan belajar. Kali ini yang lebih ia dalami adalah pemikiran Muhammad Abduh, seorang pembaharu Islam ternama di masa itu.
Di Makkah, ia berguru kepada Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Lebih dari sekali sang guru berkata kepada Dahlan:
“Pengajaran Islam di Indonesia sudah jauh ketinggalan zaman. Harus diperbarui, harus dengan cara modern. Agama Islam itu sebenarnya agama kemajuan, bisa sesuai dengan zaman baru.”
“Itu tepat sekali. Memang banyak hal yang perlu diperbaharui dalam mengajarkan agama Islam,” jawab Ahmad Dahlan.
Pada 1904 Dahlan kembali ke Indonesia dan tetap aktif memperdalam ilmu. Ia berguru kepada ulama-ulama terkenal. Misalnya, dalam ilmu falak, ia belajar kepada Syekh Jamil Jambek di Bukittinggi.
Ahmad Dahlan punya cita-cita pembaruan dalam penyebaran Islam. Baginya, “Kemunduran Islam di Indonesia berasal dari masyarakat sendiri. Ajaran lama masih kuat dianut, bercampur-baur dengan kepercayaan lain sehingga ajaran Islam yang murni menjadi pudar dan kabur.”
Pada 18 November 1912, Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Nama Muhammadiyah berarti umat Nabi Muhammad Saw—perserikatan yang bergerak dalam bidang agama, pendidikan, dan sosial.
Aktivitas Dahlan makin bertambah dan terarah. Gerakan sosial makin diperluas: balai kesehatan, rumah sakit, panti asuhan, sekolah, madrasah, semuanya diusahakan untuk terus dibangun dan dibiayai dengan kekuatan sendiri melalui zakat, infak, dan sumber halal lainnya.
Kini, Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi dakwah terkaya di dunia. Tercatat pada 2025, Muhammadiyah adalah organisasi keagamaan terkaya keempat di dunia.
Di awal berdirinya Muhammadiyah, tak sedikit tantangan yang menghadang Ahmad Dahlan. Tantangan datang dari kalangan keluarga sendiri dan masyarakat. Muncul berbagai sebutan tak elok bagi dia, seperti “kiai palsu” atau “mengajarkan agama baru”. Semua tantangan itu dihadapi Ahmad Dahlan dengan sabar.
Ahmad Dahlan tak hanya pandai memberi komando, tapi juga langsung terjun ke lapangan. Ia dikenal sebagai pekerja keras dan tak kenal lelah, seolah tak pernah beristirahat. Ia selalu ingat mati dan kehidupan sesudahnya.
Kisah berikut menggambarkan kekuatan pribadinya. Suatu saat, salah satu anaknya sakit. Ahmad Dahlan yang sedang mengajar diminta pulang oleh istrinya. Ia pun menasihati sang anak:
“Wahai anakku Jumhan (nama kecil dari Irfan Dahlan), berdoalah kepada Allah agar engkau lekas sembuh. Dia-lah yang menakdirkan engkau sakit dan Dia pula yang akan menyembuhkan. Tapi jika Allah takdirkan engkau sampai pada ajalmu, pergilah dengan tawakal dan engkau akan bertemu dengan kakakmu Johanah yang telah pergi lebih dahulu. Maka, tetapkanlah hatimu, tenanglah!”
Setelah itu, Ahmad Dahlan kembali mengajar. Sebelumnya ia menasihati istrinya:
“Wahai Nyai, janganlah engkau menyangka bahwa jika aku tetap menunggui anakmu ini, dia akan sembuh, dan jika aku tinggalkan, ia akan mati. Tidak, Nyai. Mati dan hidup di tangan Allah, Tuhanmu dan Tuhanku, serta Tuhan dari Jumhan anak kita.”
Pada pertengahan 1922, Ahmad Dahlan mulai sering sakit. Dokter menyarankan beristirahat di tempat sejuk. Ia memilih Tretes, Pasuruan. Namun di sana pun ia tetap berdakwah, bahkan mendirikan surau dan menghidupkan kegiatan di dalamnya.
Sakitnya makin parah. Saat istrinya memintanya istirahat, ia menjawab:
“Saya mesti bekerja keras untuk meletakkan batu pertama dari amal yang besar ini. Kalau sekiranya saya lambatkan ataupun saya hentikan lantaran sakit saya ini, maka tidak akan ada orang yang sanggup meletakkan dasar itu. Saya sudah merasa bahwa umur saya tidak akan lama lagi.”
Dialog itu terjadi sekitar Januari 1923. Sebulan kemudian, 23 Februari 1923, Ahmad Dahlan wafat di Kauman, Yogyakarta, pada usia hampir 55 tahun. Pemakamannya mendapat perhatian luar biasa. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1961—sebuah penghargaan yang layak atas kiprah kepahlawanannya.
Langkah Walidah
Tak banyak suami-istri yang sama-sama gigih berdakwah seperti pasangan Ahmad Dahlan dan Siti Walidah.
Siti Walidah lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 3 Januari 1872. Ayahnya, Kiai Penghulu H. Muhammad Fadil, adalah pejabat agama di Keraton. Pendidikan keislaman ia peroleh langsung dari sang ayah, melalui kitab-kitab berbahasa Arab-Jawa (pegon).
Siti Walidah menikah dengan Ahmad Dahlan. Sejak itu ia dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan. Ia semakin bersemangat mempelajari Islam.
Ia mulai aktif mengorganisasi perempuan lewat perkumpulan pengajian Sopo Tresno pada 1914. Meski sederhana, perkumpulan ini istiqamah berdakwah.
Setelah beberapa kali rapat dengan KH Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, dan tokoh lainnya, nama “Sopo Tresno” diubah menjadi ‘Aisyiyah pada 22 April 1917.
Di periode awal, ‘Aisyiyah diketuai Siti Bariyah, sementara Siti Walidah menjadi penasihat. Kegiatan ‘Aisyiyah meliputi:
-
Mengirim mubaligat ke kampung-kampung pada bulan Ramadan untuk memimpin salat tarawih.
-
Mengadakan perayaan hari besar Islam.
-
Menggelar kursus keislaman dan keterampilan bagi perempuan.
‘Aisyiyah bergerak senapas dengan Muhammadiyah: menghapus kepercayaan kolot dan memberdayakan perempuan agar sejajar dalam perjuangan.
Siti Walidah tak mengenal lelah. Ia sering ke luar daerah, berdakwah hingga pelosok. Pada 1926, dalam Muktamar Ke-15 Muhammadiyah di Surabaya, ia menjadi wanita pertama yang memimpin sidang besar—dan seluruh pembicara adalah perempuan.
Peristiwa itu menjadi berita utama media massa dan membuat ‘Aisyiyah kian dikenal.
Ia juga dikenal tegas menghadapi penjajahan Jepang. Ketika murid sekolah diwajibkan menyembah matahari, ia melarang keras. Sikap itu membuat tentara Jepang marah, namun ia tak gentar.
Lewat ‘Aisyiyah, Walidah membantu mengembangkan Muhammadiyah hingga akhir hayatnya. Ia wafat pada 31 Mei 1946 di Yogyakarta, usia 74 tahun, dan pada 22 September 1971 dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Tegak, Tegaklah!
Menjadi tugas kita untuk berikhtiar melanjutkan perjuangan Ahmad Dahlan dan Siti Walidah. Kita teruskan dakwah kedua teladan itu: berdakwah sebagai amanat Allah dan Rasul-Nya dengan usaha tanpa lelah. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












