
Dulu Taif menolak dakwah Rasulullah Saw. dengan lemparan batu dan cemoohan. Kini kota sejuk ini justru menjadi ruang belajar penuh adab dan renungan. Sebuah jeda untuk menenangkan hati, mengisi ulang iman, lalu pulang dengan arah baru.
Refleksi dari Masjid Abdullah bin Abbas Kota Taif; Catatan dari Tanah Suci (Seri 21); Oleh Firman Arifin, Dosen PENS, Jemaah Haji 2025 Nurul Hayat Surabaya
Tagar.co – Dahulu, kota ini pernah menolak Rasulullah Saw. dengan sangat menyakitkan. Di Taif inilah beliau datang menawarkan Islam dengan hati yang penuh kasih.
Namun, yang beliau terima justru lemparan batu, cemoohan, dan luka. Beliau sampai berdarah. Hati beliau pilu. Hingga Malaikat Jibril datang menawarkan opsi: “Jika engkau mau, akan aku timpakan gunung kepada mereka.”
Baca lainnya: Catatan Firman Arifin dari Tanah Suci
Namun, Rasulullah Saw. justru memanjatkan doa, bukan kutukan. Beliau berharap dari keturunan mereka akan lahir generasi yang beriman dan mencintai Allah Swt. Dan benarlah.
Kini Taif tumbuh menjadi kota berkah: udaranya sejuk, hati penduduknya lapang, dan tempat para pencari ilmu bersimpuh dalam adab. Di sinilah kami hadir, bukan sebagai pelintas, tetapi sebagai murid.
Taif: Di Atas Makkah, Menuju Arah yang Lebih Luas
Letaknya sekitar 87 kilometer dari Kota Makkah, tetapi yang paling terasa adalah perbedaan ketinggiannya. Taif berada di sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut, sedangkan Makkah hanya sekitar 277 meter.
Perbedaan ini bukan sekadar angka, tetapi suasana. Jika Makkah panas dan penuh aktivitas ibadah yang menguras tenaga, maka Taif sebaliknya: dingin, tenang, reflektif.
Bayangkan seperti sistem pendingin dalam perangkat elektronik. Makkah adalah prosesornya: intens dan vital. Sementara Taif adalah heatsink dan kipas yang meredam panas serta menjaga kestabilan. Tanpa Taif, iman bisa overheat. Tanpa Taif, rohani bisa kelelahan.
Hijau di Tengah Jazirah: Taif yang Menyejukkan
Yang membuat Taif semakin memesona adalah alamnya yang serba hijau. Tidak seperti Mekah yang gersang, Taif dikelilingi tanaman yang rimbun. Burung-burung lokal beterbangan ringan di antara pepohonan tin, zaitun, maupun delima. Bahkan kaktus pun sedang berbuah di sini.
Pemandangan langka yang seolah ingin menyampaikan pesan: bahwa bahkan yang keras dan berduri pun bisa menghasilkan keindahan jika berada di tempat yang tepat.
Tempat Mendinginkan Jiwa: Vila As-Sudais di Lereng Wangi
Sebelum kami sampai di Masjid Abdullah bin Abbas, kami diajak melewati sebuah tempat yang istimewa: vila milik Imam Besar Masjidilharam, Abdurrahman As-Sudais. Terletak di kawasan atas, dekat lokasi penyulingan minyak wangi. Udara semakin sejuk, angin membawa aroma yang lembut dan menenangkan.
Vila itu bukan simbol kemewahan, melainkan simbol kebutuhan. Bahwa pemimpin spiritual pun butuh ruang untuk menyegarkan batin sebelum kembali melayani umat.
Seperti kapasitor dalam dunia elektro, tempat itu adalah penyimpan energi ruhani. Bukan untuk dikonsumsi seketika, tetapi dilepaskan dengan irama. Syaikh Sudais bukan lari dari dunia, tetapi sedang mengisi ulang, agar saat kembali ke Masjidil Haram, beliau hadir dengan utuh.
Masjid Abdullah bin Abbas: Rumah Ilmu di Puncak Keheningan
Kami menunaikan salat Zuhur dan Asar di masjid ini. Dengan ornamen putih dan karpet merah yang empuk serta elegan, ia menghadirkan keheningan yang memanggil jiwa.
Di antara salat dan tilawah, kami menyaksikan halaqah kecil: murid-murid muda dan tua duduk di sekeliling guru, membaca dan mengulangi ayat. Inilah talaki ilmu dalam bentuk paling asli: bukan sekadar pelajaran, tetapi warisan dari generasi sahabat, tabiin, hingga kini.
Ziarah Ilmu: Menyentuh Warisan Abdullah bin Abbas
Tak lengkap rasanya ke Taif tanpa menziarahi makam Abdullah bin Abbas Ra.: sahabat agung, ahli tafsir, samudra ilmu, sepupu Nabi Saw. Kami berdiri di sana, diam, merenung.
Ini bukan sekadar pusara, tetapi monumen dari semangat keilmuan Islam yang hidup. Kami seolah mendengar bisikan sejarah, bahwa ilmu yang dicari dengan adab akan menjadi cahaya yang terus memandu.
Taif, Tempat Hati Menyerap Ilmu
Taif adalah ruang jeda dalam perjalanan panjang. Di sini, kita belajar bahwa hati pun seperti baterai: perlu tempat sejuk agar pengisian tidak rusak. Dan Masjid Abdullah bin Abbas adalah stasiun pengisian itu. Talaki ilmu adalah proses penyambungan ulang, bukan hanya dengan guru, tetapi dengan akar keilmuan Islam itu sendiri.
Dan kita pun pulang dari Taif, bukan hanya dengan foto dan kenangan, tetapi dengan arah baru yang lebih sejuk, lebih jernih, dan lebih dalam. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












