Feature

Tadabur Alam Aisyiyah-NA Blimbing: Menyatu dengan Pantai, Menguatkan Iman

48
×

Tadabur Alam Aisyiyah-NA Blimbing: Menyatu dengan Pantai, Menguatkan Iman

Sebarkan artikel ini
Para peserta tadabbur alam di Pantai Putri, Klayar, Paciran, Lamongan Jumat, (9/5/2025) (Tagar.co/istimewa)

Di tengah hembusan angin Pantura, ibu-ibu Aisyiyah dan yunda NA Blimbing menyatu dengan alam, bermain, bersenam, dan meneguhkan iman di Pantai Putri, Paciran, Lamongan.

Tagar.co – Angin laut yang semilir, debur ombak yang berkejaran, dan senyum bahagia para perempuan penggerak dakwah menjadi pemandangan tak terlupakan di Pantai Putri, Desa Klayar, Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Jumat (9/5/2025), Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Blimbing menggelar kegiatan Tadabur Alam yang melibatkan 150 peserta dari Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah (NA).

Dengan mengenakan dress code batik coklat yang dipadu kerudung senada, para peserta berangkat bersama usai salat Jumat. Armada Tayo dan Tosa mengantar mereka menuju pantai, membawa semangat “Mencintai Alam, Menyuburkan Iman” yang diusung sebagai tema kegiatan.

Baca juga: Sarasehan Aisyiyah Paciran: Menjaga Moderasi di Tengah Arus Budaya Asing

“Kami pilih pantai sebagai lokasi tadabur, karena sepanjang jalur pantura, dari Gresik hingga Tuban, Allah hamparkan begitu banyak pantai indah dengan karakter khasnya masing-masing,” ungkap Hj. Eni Mukhasanatin, S.Ag., Sekretaris PRA Blimbing.

Baca Juga:  Bakti Sosial Menjelang Ramadan, Aisyiyah Sendangagung Tebar 132 Paket Sembako

Kegiatan demi kegiatan berlangsung dengan suasana penuh tawa dan kekeluargaan. Salah satunya adalah sesi “dempeling”, yakni permainan seru antara ibu-ibu ‘Aisyiyah dan yunda-yunda NA yang melatih kelincahan, keberanian, dan kerja sama. “Ombak pun seolah ikut bermain bersama kami,” ujar salah satu peserta sambil tertawa lepas.

Setelah itu, suasana berganti menjadi lebih santai dan bugar. Ibu Sholihah memimpin senam manula—senam ringan yang diyakini bermanfaat mencegah stroke dan pikun dini. “Senam ini bisa menjaga kelenturan tubuh dan melancarkan peredaran darah,” jelasnya.

Hari pun perlahan merambat sore. Langit mulai menggelap dan warna laut berubah kelam, menandai bahwa waktu pulang telah tiba. Namun bukan wajah letih yang tampak, melainkan kepuasan dan kebahagiaan yang menyelimuti para peserta.

“Meski singkat, kegiatan ini bermakna. Bisa diceritakan kepada anak-cucu di rumah. Menambah imun itu kebutuhan, dan sehat itu murah: cukup bergembira dan menggembirakan bersama ‘Aisyiyah,” ujar seorang peserta sembari tersenyum. (#)

Jurnalis Sri Asian Penyunting Mohammad Nurfatoni