
Di hari terakhir Ramadan, mari kita renungi makna perpisahan suci ini, memperbanyak doa dan harapan agar Allah mempertemukan kita kembali dengan bulan penuh berkah ini.
Oleh Ulul Albab; Ketua ICMI Orwil Jawa Timur
Tagar.co – Berikut surat terbuka selengkapnya:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sahabat seiman di mana pun berada, kita kini berada di hari terakhir bulan Ramadan. Sebentar lagi, bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan ini akan meninggalkan kita. Betapa cepat waktu berlalu, seakan-akan baru kemarin kita menyambut datangnya bulan suci ini dengan penuh harapan dan semangat. Kini, kita berada di ujung perjalanan, dan saat-saat ini menjadi penentu apakah kita benar-benar telah meraih segala keberkahan dan kemuliaannya.
Terngiang-ngiang Kemuliaan Bulan Ramadan
Sebagaimana kita pahami bersama bahwa kemuliaan bulan Ramadan ini sungguh luar biasa. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila datang Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka setiap kita tentu sudah memahami bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan kesempatan emas untuk meraih ampunan, rahmat, dan pahala yang berlipat ganda. Doa-doa kita lebih didengar, amal ibadah kita diterima, dan segala dosa kita dihapuskan. Ramadan adalah waktu yang penuh dengan keberkahan yang tak ternilai harganya.
Namun, sebagaimana setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi perpisahan kita dengan Ramadan sepertinya tak dapat dibandingkan dengan perpisahan kita dengan yang lain. Bahkan banyak dikisahkan bahwa di hari-hari terakhir bulan Ramadan Rasulullah Saw. pernah mengungkapkan sebuah pernyataan yang sangat mendalam mengenai hal ini:
“Ketika Ramadan berakhir, langit, bumi, dan para malaikat menangis karena musibah yang menimpa umat Muhammad.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, musibah apakah itu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Kepergian Ramadan.”
Walaupun riwayat ini tidak terdapat dalam kitab hadis sahih seperti Sahih Bukhari atau Sahih Muslim, pernyataan ini menggambarkan betapa besar kehilangan yang dirasakan oleh umat Islam ketika bulan Ramadan berakhir.
Dalam berbagai karya tafsir dan kisah para ulama, kalimat ini mengingatkan kita bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh dengan rahmat dan kesempatan. Kepergiannya adalah musibah besar, karena kita tidak tahu apakah kita akan dipertemukan lagi dengan Ramadan di tahun yang akan datang.
Musibah yang Besar: Kepergian Ramadan
Sahabatku, betapa kepergian Ramadan adalah sebuah kehilangan yang sangat besar, karena Ramadan adalah bulan yang penuh dengan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Ini adalah bulan di mana doa-doa kita dikabulkan, amal ibadah kita diterima, dan pintu ampunan terbuka lebar. Ketika Ramadan berakhir, kita tidak tahu apakah kita masih akan diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan suci ini di tahun depan. Kehilangan ini adalah sesuatu yang seharusnya membuat kita merasa sangat kehilangan dan menyesal.
Namun, Rasulullah Saw. mengingatkan kita untuk tidak sekadar merasa sedih dan meratapi perpisahan ini. Rasulullah Saw. juga mengajarkan kita bagaimana seharusnya kita memanfaatkan sisa waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. “Hari terakhir Ramadan adalah hari yang penuh dengan rahmat, di mana Allah membebaskan banyak umat dari api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Inilah kesempatan terakhir bagi kita untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan memohon ampunan Allah Swt.
Hari Terakhir Ramadan
Hari terakhir Ramadan adalah hari yang penuh dengan keistimewaan. Pada hari ini, Allah Swt. memberikan kesempatan kepada hamba-Nya yang penuh dengan penyesalan dan keinginan untuk berubah agar mendapatkan pengampunan-Nya. Inilah saat yang sangat tepat bagi kita untuk menutup bulan Ramadan dengan penuh kekhusyukan dan rasa syukur.
Rasulullah Saw. tidak pernah membiarkan hari terakhir Ramadan berlalu begitu saja tanpa berdoa dan beribadah. Dalam hadis lain, beliau bersabda, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini adalah janji Allah yang sangat besar, yang membuka peluang bagi kita untuk memulai hidup baru dengan hati yang bersih.
Hari terakhir Ramadan adalah hari yang penuh peluang untuk mendapatkan ampunan Allah. Maka, mari kita manfaatkan sebaik-baiknya waktu yang tersisa dengan memperbanyak doa, istigfar, membaca Al-Qur’an, salat sunah, dan segala bentuk amal ibadah. Jangan sampai kita menyesal ketika bulan Ramadan pergi, karena kita telah melewatkan kesempatan emas yang hanya datang setahun sekali.
Kesempatan yang Tak Terulang
Sahabat seiman yang dirahmati Allah, kita tidak tahu apakah kita akan diberi kesempatan lagi untuk bertemu dengan Ramadan di tahun depan. Oleh karena itu, jangan sia-siakan kesempatan ini. Ramadan adalah waktu yang sangat berharga, yang penuh dengan berkah dan ampunan. Mari kita jadikan hari terakhir Ramadan ini sebagai momentum untuk bertaubat, memperbaiki diri, dan berdoa agar Allah memberikan kita kesempatan untuk terus beribadah dengan lebih baik di masa yang akan datang.
Doa Akhir Ramadan: Harapan untuk Pertemuan Kembali
Di hari terakhir Ramadan ini, mari kita berdoa dengan penuh harapan dan kesungguhan:
“Ya Allah, dengan rahmat-Mu dan segala kuasa yang Engkau miliki, ampunilah segala dosa kami, terimalah semua amal ibadah kami, sempurnakanlah semua kekurangan kami, dan rahmatilah kami untuk memperoleh jaminan-Mu berupa pembebasan dari api neraka. Masukkanlah kami ke dalam surga-Mu bersama para shoim dan shoimat yang Engkau terima puasanya.
Ya Allah, dengan segala kuasa dan kerajaan yang Engkau miliki, pertemukanlah kami dengan Ramadan lagi di tahun-tahun yang akan datang dalam kondisi yang lebih baik. Jika Ramadan kali ini adalah Ramadan terakhir bagi kami, maka ampunilah dosa-dosa kami, terimalah amal ibadah kami, dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang merugi. Jadikanlah kami termasuk golongan hamba-hamba-Mu yang dirindukan surga-Mu.”
Doa ini mengandung harapan yang mendalam agar kita selalu diberi kesempatan untuk bertemu dengan Ramadan di masa depan, sekaligus penyesalan dan permohonan ampunan jika ternyata ini adalah Ramadan terakhir yang kita jalani.
Tetap Semangat dan Penuh Harap
Di hari terakhir Ramadan ini, mari kita menangis bukan karena kesedihan semata, tetapi karena kesadaran bahwa kita telah diberi kesempatan untuk lebih dekat dengan Allah. Mari kita menyesali segala kelalaian kita di bulan yang penuh berkah ini, dan berdoa agar Allah menerima segala amal ibadah kita.
Semoga Allah Swt. senantiasa memberi kita hidayah, petunjuk, dan kesempatan untuk terus berada dalam keberkahan-Nya. Semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadan yang penuh berkah di tahun-tahun mendatang, dan semoga kita selalu berada di jalan-Nya yang lurus.
Selamat beribadah dan semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan yang penuh rahmat ini. Secara khusus, saya memohon maaf lahir batin kepada semuanya, sahabat seiman di mana pun berada. Saya pun telah memaafkan Anda semua andai memang ada salah terhadap saya. Mari kita saling memaafkan, bahkan sebelum diminta untuk memaafkan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Penyunting Mohammad Nurfatoni












