Feature

Sumu Surabaya Studi Bisnis ke Industri Garmen

165
×

Sumu Surabaya Studi Bisnis ke Industri Garmen

Sebarkan artikel ini
Sumu Korda Surabaya menangkap pelajaran kondisi bisnis garmen di zaman digital ini ketika kunjungan ke industri Finest Garment.
Penjahit di Finest Garment di Jalan Gembong Gang 5 Nomor 6, Kapasan, Surabaya. (Tagar.co/Soleh)

Sumu Korda Surabaya menangkap pelajaran kondisi bisnis garmen di zaman digital ini ketika kunjungan ke industri Finest Garment.

Tagar.co – Sumu (Serikat Usaha Muhammadiyah) Koordinator Daerah (Korda) Surabaya menggelar kunjungan perusahaan ke Finest Garment di Jalan Gembong Gang 5 Nomor 6, Kapasan, Surabaya, Sabtu (23/8/25).

Rombongan Sumu Surabaya yang dipimpin oleh Korda, Slamet Raharjo. Mereka diterima Direktur Finest Garment, Firdaus Nurfauzan.

Slamet yang juga pemilik Iffoods dan Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rungkut, memperkenalkan eksistensi dan program Sumu kepada tuan rumah.

“Dua kegiatan rutin dari Sumu yakni kopi darat (Kopdar) dan company visit. Sumu Korda Surabaya saat ini memiliki anggota tercatat sebanyak 65 orang,” ujar Slamet.

Sementara Direktur Finest Garment, Firdaus Nurfauzan, membagikan kisah perjalanan bisnis garmennya. Ia menuturkan, awal mula usaha garmen dimulai dengan tiga karyawan dan berpindah-pindah lokasi.

Kini perusahaannya telah berkembang hingga mempekerjakan 50 orang.

“Kami memulai usaha sejak 2017 saat kuliah di ITS. Awalnya banyak event kampus dan teman-teman organisasi yang membutuhkan seragam. Saya hanya menjadi makelar dengan memesan baju ke pihak lain, hingga akhirnya memutuskan membuka produksi sendiri,” jelas alumnus Teknik Mesin ITS tersebut.

Baca Juga:  Dari Secangkir Kopi Lahir Ide Besar: Sumu Catalyst Ajak Belajar dan Bisnis di Coffee Shop

Firdaus menambahkan, perjalanannya tidak selalu mulus. Ia sempat membuka kantor di Bali dan Bandung, namun harus ditutup.

Saat ini perusahaan hanya beroperasi di Jakarta dan Surabaya dengan jumlah staf terbatas.

Untuk pemasaran, Firdaus mengandalkan iklan berbayar di Google sejak 2019. “Marketing offline sekarang sudah tidak efektif. Hampir satu tahun kami tidak melakukan promosi offline. Kami lebih fokus ke iklan berbayar di Google. Untuk B2B sangat cocok di Google, sementara kalau makanan lebih cocok di Meta,” katanya.

Anggota Sumu Surabaya berbincang dengan Firdaus Nurfauzan, baju merah, dalam kunjungan industri. (Tagar.co/Soleh)

Pasar terbesar Finest Garment berada di Jakarta, Surabaya, hingga Palopo, Sulawesi. Kalimantan pun pernah menjadi area pemasaran, meski tidak rutin.

Order minimal yang diterapkan yakni 36 potong (tiga lusin), dengan harga produk bervariasi hingga Rp250 ribu untuk jenis jaket.

“Persaingan sekarang ada di harga. Bahkan dua hari lalu, sebuah pabrik gula melakukan kunjungan langsung ke sini. Jika over kuota, kami melempar order ke penjahit rumahan. Sekitar 20 persen bahan kain yang kami gunakan adalah impor karena lebih murah,” jelas Firdaus.

Baca Juga:  Dari Secangkir Kopi Lahir Ide Besar: Sumu Catalyst Ajak Belajar dan Bisnis di Coffee Shop

Firdaus menyebut omzet perusahaannya kini mencatat rata-rata Rp 400 juta per bulan. “Kalau jual brand margin memang lebih besar. Namun kami lebih banyak bermain di jasa produksi. Ke depan, kami akan meluncurkan brand pakaian anak,” ujarnya.

Firdaus juga menuturkan bahwa permintaan biasanya meningkat menjelang akhir tahun, terutama dari instansi dan pabrik.

Di akhir kunjungan Slamet Raharjo menyampaikan, company visit ini bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga sarana berbagi pengalaman dan inspirasi antar pengusaha Muhammadiyah.

”Kami berharap kunjungan ini dapat menjadi motivasi bagi anggota Sumu untuk terus mengembangkan usaha masing-masing, sekaligus memperkuat jejaring bisnis yang bermanfaat bagi umat,” tuturnya. (#)

Jurnalis Soleh  Penyunting Sugeng Purwanto