Feature

H. Yoyok Legio: Dari Jualan Kacamata Kaki Lima ke Hafara Group

329
×

H. Yoyok Legio: Dari Jualan Kacamata Kaki Lima ke Hafara Group

Sebarkan artikel ini
H. Yoyok Legio (kiri) dalam podcast “Dari Lensa Menjadi Legenda” yang diangkat Sumu Pati, Jawa Tengah (Tagar.co/Istimewa)

Dari penjual kacamata kaki lima, H. Yoyok Legio membangun Hafara Group menjadi jaringan optik besar di Pati. Doa orang tua dan budaya kekeluargaan jadi kunci kesuksesannya.

Tagar.co – Sabtu sore (24/8/2025), suasana hangat terasa di sebuah forum sederhana yang digelar Serikat Usaha Muhammadiyah (Sumu) Pati, Jawa Tengah.

Kopi darat alias kopdar kali ini menghadirkan sebuah kisah hidup yang penuh perjuangan: perjalanan H. Yoyok Legio, pendiri Hafara Group, yang diangkat dalam tema podcast “Dari Lensa Menjadi Legenda”.

Baca juga: Sumu Surabaya Studi Bisnis ke Industri Garmen

Acara yang dipandu Koordinator Sumu Pati, Dede Hermawan, dihadiri 25 pelaku usaha lokal. Bagi mereka, kisah H. Yoyok bukan sekadar cerita bisnis, melainkan cermin keteguhan, doa, dan keberanian mengambil peluang dari keterbatasan.

Dari Kaki Lima Menuju Gerai Optik Modern

H. Yoyok mengisahkan awal perjuangannya yang bermula dari tekanan ekonomi keluarga. Ibunya seorang pembuat getuk, sementara ayahnya buruh tani. Di tengah kesederhanaan itu, ia memilih berjualan kacamata di kaki lima.

Baca Juga:  Dari Secangkir Kopi Lahir Ide Besar: Sumu Catalyst Ajak Belajar dan Bisnis di Coffee Shop

“Kami benar-benar memulai dari nol,” tuturnya.

Langkah penting terjadi pada 1995, saat ia berani mengurus izin resmi optik. Itulah titik balik yang membuka jalan Hafara Group berkembang menjadi jaringan optik besar di wilayah eks-Karesidenan Pati.

Doa Orang Tua sebagai Kunci

Di balik kerja keras dan strategi bisnis, Yoyok menegaskan satu hal yang paling utama: doa orang tua.
“Sebelum bicara soal kerja keras, inovasi, atau strategi, kunci sukses paling utama adalah doa orang tua. Itu sumber keberkahan saya,” katanya dengan mata berbinar.

Doa itulah yang menjaga semangatnya. “Ketika lelah, saya teringat wajah orang tua. Itu yang membuat saya bangkit kembali,” ucapnya lirih.

H. Yoyok Legio (berdiri. tengah)bersama anggota Sumu Pati, Jawa Tengah (Tagar.co/Istimewa)

Budaya Kekeluargaan dan Loyalitas

Hafara Group tumbuh bukan hanya karena peremajaan peralatan atau investasi infrastruktur, tetapi juga karena budaya kekeluargaan yang ditanamkan.

“Semua staf harus menganggap pelanggan seperti keluarga,” jelasnya. Sikap itu melahirkan kepercayaan yang berbuah loyalitas.

Bagi Yoyok, kepemimpinan berarti memberi teladan. Ia menaruh perhatian besar pada kesejahteraan karyawan, yang menurutnya adalah pondasi ekosistem kerja yang stabil dan produktif.

Baca Juga:  Dari Secangkir Kopi Lahir Ide Besar: Sumu Catalyst Ajak Belajar dan Bisnis di Coffee Shop

Dari Bisnis ke Legenda

Lebih jauh dari sekadar ekspansi gerai, Yoyok ingin Hafara Group dikenang lewat kontribusi sosial.
“Saya ingin dikenang sebagai pemilik bisnis yang bermanfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Koordinator Sumu Pati, Dede Hermawan, menambahkan bahwa kisah Yoyok adalah bukti nyata fondasi bisnis yang kokoh terletak pada nilai, disiplin, dan keberpihakan kepada manusia.

“Kisah beliau menunjukkan, keterbatasan bisa diubah menjadi kekuatan jika ada doa, kerja keras, dan keberanian mengambil peluang,” ujarnya.

Kopdar Sumu kali ini meninggalkan kesan mendalam. Bagi para pelaku usaha lokal, cerita H. Yoyok Legio bukan sekadar perjalanan usaha, tetapi sebuah legenda hidup yang memberi energi baru untuk terus berjuang dan memberi manfaat. (#)

Jurnalis Soleh Penyunting Mohammad Nurfatoni