
Spiritualitas dalam dunia digital sering kali direduksi menjadi konten: potongan ayat, kutipan motivasi, video dakwah singkat, atau potret kesalehan visual. Semua bergerak cepat, viral, dan mudah dilupakan. Yang tersisa bukan kedalaman, melainkan sensasi sesaat. Isra Mikraj hadir sebagai antitesis.
Oleh Fahmi Salim, Ketua Umum Fordamai dan Wakil Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri MUI Pusat
Tagar.co – Peringatan Isra Mikraj sering kali dipahami sebagai peristiwa luar biasa yang sarat mukjizat. Perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa, lalu menembus lapisan langit hingga Sidratulmuntaha.
Dalam ceramah-ceramah keagamaan, Isra Mikraj kerap diposisikan sebagai kisah keimanan yang menuntut pembenaran teologis semata: percaya atau tidak percaya.
Bagi Generasi Z —generasi yang lahir dan tumbuh di tengah internet, media sosial, dan banjir informasi— kisah ini sering terdengar jauh, simbolik, bahkan sulit dikaitkan dengan realitas hidup sehari-hari.
Gen Z hidup dalam dunia yang cepat, visual, dan serba instan. Segala sesuatu diukur dari seberapa relevan dengan pengalaman personal, seberapa jujur, dan seberapa berdampak.
Padahal, justru di era Gen Z inilah pesan Isra Mikraj menemukan relevansi barunya. Isra Mikraj bukan hanya kisah perjalanan fisik Nabi, tetapi pengalaman spiritual terdalam yang hadir di tengah krisis makna, kelelahan mental, dan distraksi digital—kondisi yang sangat akrab dengan kehidupan anak muda hari ini.
Gen Z dan Krisis Kedalaman
Banyak riset sosial menggambarkan Gen Z sebagai generasi yang unik. Mereka dikenal: kritis terhadap otoritas dan institusi, terbuka membicarakan kesehatan mental, peduli pada isu keadilan dan kemanusiaan global, religius secara personal, tetapi sering menjaga jarak dari ritual formal yang terasa kaku dan tidak menyentuh batin.
Di satu sisi, Gen Z adalah generasi paling terhubung dalam sejarah manusia. Mereka bisa berkomunikasi lintas benua dalam hitungan detik, mengakses ilmu tanpa batas, dan membangun identitas di ruang digital.
Namun di sisi lain, mereka juga rentan mengalami kesepian, kecemasan, kelelahan mental, dan kehilangan arah hidup.
Spiritualitas dalam dunia digital sering kali direduksi menjadi konten: potongan ayat, kutipan motivasi, video dakwah singkat, atau potret kesalehan visual. Semua bergerak cepat, viral, dan mudah dilupakan. Yang tersisa bukan kedalaman, melainkan sensasi sesaat.
Dalam konteks inilah Isra Mikraj hadir sebagai antitesis. Ia mengajarkan bahwa iman tidak selalu bergerak cepat, tidak selalu viral, dan tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika sederhana.
Isra Mikraj menawarkan kedalaman, keheningan, dan keterhubungan vertikal—sesuatu yang justru langka di era notifikasi tanpa henti.
Deep Experience
Isra Mikraj terjadi pada fase paling berat dalam kehidupan Nabi Muhammad ﷺ. Tahun itu dikenal sebagai ‘Aamul Huzn—tahun kesedihan.
Nabi kehilangan Khadijah, pasangan hidup sekaligus penopang emosional terkuatnya. Tak lama berselang pamannya, Abu Thalib wafat, meninggalkan Nabi tanpa pelindung sosial.
Dakwah Nabi ditolak, bahkan dihina dan disakiti. Lalu pindah berdakwah ke Thaif, namun disambut cacian, hinaan dan timpukan batu hingga berlumur darah.
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa hari ini, Nabi sedang mengalami burnout emotional, tekanan mental, dan kesepian eksistensial.
Di titik inilah Allah tidak memberi solusi instan berupa kemenangan politik atau kekuasaan duniawi. Yang Allah hadirkan justru sebuah pengalaman spiritual yang sangat dalam.
Ini pesan penting bagi Gen Z: iman bukan hanya soal patuh pada aturan, tetapi tentang pengalaman bermakna yang mampu menyembuhkan luka jiwa.
Dalam dunia yang sering menuntut produktivitas tanpa henti, Isra Mikraj mengingatkan bahwa kekuatan sejati justru lahir dari kedalaman hubungan dengan Tuhan.
Salat di Tengah Distraksi Digital
Hadiah utama Isra Mikraj bukan kekuasaan, bukan harta, bukan pula keistimewaan politik. Hadiah itu adalah salat. Sebuah ibadah yang tampak sederhana, tetapi sarat makna.
Bagi banyak Gen Z hari ini, salat sering terasa: mekanis dan berulang, dilakukan terburu-buru, kalah bersaing dengan layar ponsel, notifikasi, dan tuntutan aktivitas.
Padahal, salat sejatinya adalah ruang jeda spiritualitas yang sangat berharga. Ia adalah momen ketika manusia berhenti dari hiruk-pikuk dunia, menunda segala tuntutan, dan kembali berhadapan dengan dirinya sendiri di hadapan Tuhan.
Dalam konteks modern, salat bisa dipahami sebagai perlawanan sunyi terhadap sistem hidup yang melelahkan manusia.
Di saat dunia menuntut untuk selalu aktif, salat mengajarkan berhenti. Di saat manusia diukur dari produktivitas, salat menegaskan nilai keberadaan.
Salat mengajarkan presence—hadir sepenuhnya. Sesuatu yang sulit di era multitasking dan distraksi digital, tetapi justru sangat dibutuhkan oleh jiwa Gen Z.
Naik ke Langit, Kembali ke Bumi
Isra Mikraj tidak berhenti di langit. Nabi Muhammad ﷺ kembali ke bumi, kembali ke realitas sosial, membawa pesan moral dan tanggung jawab kemanusiaan. Ini poin penting yang sering terlewat dalam peringatan Isra Mikraj.
Spiritualitas dalam Islam bukan eskapisme. Ia bukan pelarian dari dunia yang keras, melainkan sumber energi untuk menghadapinya. Inilah yang relevan dengan kegelisahan Gen Z hari ini.
Gen Z dikenal peduli pada isu-isu besar: keadilan sosial, penderitaan Palestina, krisis iklim, kesenjangan ekonomi, dan kemanusiaan global. Namun kepedulian ini sering kali berbenturan dengan rasa lelah, sinisme, dan perasaan tidak berdaya.
Isra Mikraj mengajarkan bahwa kedekatan dengan Tuhan harus melahirkan keberanian moral. Naik ke langit harus diikuti dengan keberanian turun ke bumi, membela yang lemah, dan memperjuangkan nilai keadilan.
Relevansi bagi Umat Islam Hari Ini
Bagi Gen Z muslim, Isra Mikraj menawarkan beberapa pesan penting. Pertama, iman tidak anti-rasional. Ia tidak menolak akal, tetapi melampaui logika sempit yang kehilangan makna.
Kedua, spiritualitas tidak menjauhkan manusia dari dunia, tetapi justru memperkuat keberpihakan pada yang tertindas. Ketiga, ibadah bukan sekadar kewajiban formal, melainkan kebutuhan jiwa yang menjaga kewarasan dan arah hidup.
Pesan-pesan ini penting di tengah krisis global yang dihadapi umat Islam hari ini—krisis kemanusiaan, krisis kepemimpinan moral, dan krisis kepercayaan terhadap institusi.
Penutup
Isra Mikraj di era Gen Z bukan tentang membuktikan bagaimana Nabi Muhammad ﷺ naik ke langit, melainkan tentang bagaimana manusia modern bisa bangkit dari kelelahan batin menuju makna hidup.
Di tengah dunia yang bising, cepat, dan penuh luka, Isra Mikraj mengajarkan bahwa langit masih terbuka.
Bukan hanya bagi mereka yang kuat dan menang, tetapi bagi siapa saja yang mau berhenti sejenak, menunduk, dan menghadap Tuhan dengan jujur. Dari sanalah lahir kekuatan untuk kembali berjalan, menghadapi dunia, dan tetap berpihak pada kemanusiaan.
Isra Mikraj adalah titik balik yang menggantikan kesedihan dengan optimisme, ketakutan dengan keamanan, kelemahan dengan kekuatan.
Di tengah ketidakpastian masa depan, mari kita nyalakan obor harapan karena Allah ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa: 104. Jika kamu menderita kesakitan, sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan sebagaimana yang kamu rasakan. (Bahkan) kamu dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto











