
34 siswa TK Islam Bakti 6 YPBWI Gresik belajar beragam profesi di SD Mugeb. Mereka bermain peran jadi koki, nelayan, petani, dan artis.
Tagar.co — Sejak pagi, 34 siswa TK Islam Bakti 6 YPBWI Gresik jenjang kelas A memadati lapangan futsal SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School). Mereka tiba dengan menaiki odong-odong.
Seragam olahraga berwarna merah kombinasi abu-abu yang siswa pakai tampak serasi. Empat guru pendamping setia mendampingi setiap langkah mereka di sekolah ramah anak itu.
Nur Hakiky, M.Pd., guru Mugeb Primary School yang pagi itu bertugas sebagai pembawa acara, menyambut ceria. “Kita mau bermain peran beragam profesi. Ada guru, dokter, petani, dan artis,” terang Kiky, sapaan akrabnya.
“Nanti kita jadi koki, petani, nelayan, dan artis,” imbuhnya.
Para siswa terbagi menjadi empat kelompok. Mereka bergantian mengelilingi empat pos. Setiap kelompok menjajal setiap pos dengan pendampingan satu guru dari TK maupun SD.
Kiky kemudian menjelaskan, “Kelompok 1 ustazah ajak jadi artis. Kita bisa menyanyi dan masuk TV. Sedangkan kelompok 2 ustazah ajak jadi koki. Nah, kelompok 3 menuju kebun teh, menyiram lalu minum teh. Kelompok 4 menuju ke laut, menangkap ikan.”
Para ustazah pendamping dari SD Mugeb mengantar mereka ke pos profesi masing-masing. “Bergantian, kita bisa mencoba semuanya,” imbuh Kiky.
Jadi Koki
Di pos koki, sisi barat lapangan futsal, mereka mencuci tangan setelah meletakkan sepatu dengan rapi. Sary Nadhifah Choirunnisa, S.Pd., yang berjaga di pos, menyambut hangat. “Hari ini kita mau menghias donat,” ujarnya.
Siswa duduk berpasangan, di depan mereka sudah tersedia sepiring selai. “Yeay donat!” seru seorang anak yang akrab disapa Bara.
Nisa kemudian membagikan donat. “Nanti hiasi dengan glaze atau selai yang ada di meja. Kalau sudah, boleh maju mengambil keju,” terangnya.
Bara sesekali menjilat selai cokelatnya sambil mengoles. “Hmm, enak!” ucapnya.
Setelah selesai, mereka bisa membawa pulang sekotak donat dan sekotak susu yang terbungkus rapi.
Baca Juga: Ustaz Mugeb Primary School Menceritakan Kelahiran Nabi dari Atas Kuda

Menjadi Nelayan
Selanjutnya, siswa berbaris menuju ekowisata, tempat pos nelayan dan petani. Di pos nelayan, mereka mewarnai gambar ikan di gazebo, lalu memancing di kolam sampingnya.
Afrizal Fahlefi Romadhoni, A.Md., yang berjaga di pos, mengajak siswa berdoa. “Berdoa dulu, baca basmalah biar dapat ikan yang banyak,” ujar Roma, sapaan akrabnya.
“Kita harus bersabar, ya. Silakan mulai mengambil ikan,” tuturnya.
Dengan jaring kecil, para siswa berburu ikan mas hias berwarna oranye, lalu memindahkannya ke ember di samping. Hafiz bersorak riang setelah mendapat sembilan ekor ikan. “Aku dapat ikan sembilan! Yeah, aku dapat banyak!” teriaknya.
Keenan yang berbaris di depannya tak mau kalah. “Ustazah Lala, aku dapat ikan 10!” serunya.
Baca Juga: Outbound di Pasuruan, Siswa Mugeb Perah Susu Sapi hingga Flying Fox

Lain lagi perpustakaan ramah anak Al-Hikmah Library. Yuanita Anggun Candra Yudha, S.Psi., menyambut mereka di pos artis. “Siapa yang mau jadi artis?” tanyanya.
“Sebelum jadi artis kita belajar menyanyi,” ucap Anggun.
Selanjutnya ia menawarkan beberapa lagu anak dan mempersilakan anak-anak memilih properti yang mereka sukai untuk mendukung sesi karaoke.
Anak-anak berbaris di atas panggung dan bernyanyi bersama. Selama menyanyi, kamera menyorot mereka. Kamera tersebut langsung terhubung ke televisi, sehingga penampilan mereka tampak jelas dan terekam di laptop.

Merawat Tanaman
Di pos petani, Raffah Wardani Hidayat, S.H., menyambut mereka dengan caping. “Ada yang pernah lihat pak petani sedang di sawah?” tanyanya. Sebagian besar mengangkat tangan.
“Mau ustazah pinjami topi petani?” Raffah menawarkan. Anak-anak serentak menjawab mau. Raffah lalu membagikan caping dan alat penyiram tanaman.
“Pernah ke kebun teh? Bayangkan kalian di tengah kebun teh. Ngapain di sana?” tanya Raffah lagi. Anak-anak ada yang menjawab minum teh, ada juga yang bilang jalan-jalan.
“Biasanya memetik pucuk daun teh. Sebelum jadi teh yang bisa kita minum, bagaimana prosesnya?” tanya Raffah.
Seorang siswa, Muhammad Malikil Quddus, menimpali, “Disemprot, dirawat!”
Raffah membenarkan. Lalu menjelaskan, “Sebelum jadi teh, kita petik dulu pucuk daun teh. Kita kumpulkan, lalu dikeringkan. Selanjutnya, kita olah jadi minuman teh.”
Mereka pun berkeliling “kebun teh” di area ekowisata sambil menyiram tanaman. Mereka bernyanyi, “Pucuk, pucuk, pucuk,” dan menyiram tanaman dengan semangat, bahkan di bawah terik matahari. Di gazebo, mereka melepaskan dahaga dengan teh hangat yang tersedia. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












