Opini

Nilai Kenabian sebagai Arah Peradaban 2050

25
×

Nilai Kenabian sebagai Arah Peradaban 2050

Sebarkan artikel ini
Prof. Triyo Supriyatno
Prof. Triyo Supriyatno

Singularity teknologi, krisis iklim, hingga rapuhnya kepercayaan sosial membayangi dunia 2050. Namun, nilai-nilai yang diwariskan Nabi Muhammad Saw. tentang ilmu, amanah, dan ukhuwah insaniah tetap menjadi fondasi kokoh untuk menjaga keseimbangan modernitas dan spiritualitas.

Oleh Prof. Triyo Supriyatno Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tagar.co – Di setiap lembar sejarah, Nabi Muhammad Saw. menghadirkan diri bukan sekadar sebagai pemimpin agama, tetapi juga sebagai guru kehidupan.

Setiap gerakannya, tutur katanya, hingga diamnya adalah pelajaran yang membentuk peradaban. Ungkapan klasik kulluharakah Rasul taklīm—bahwa setiap langkah Nabi adalah pengajaran—menjadi dasar bahwa Islam tidak hanya hadir dalam ruang ritual, melainkan juga menuntun manusia menuju masa depan.

Baca juga: Spirit Maulid Nabi dan Generasi Z: Menjawab Krisis Identitas di Dunia Digital

Pertanyaannya, bagaimana pelajaran itu bisa dibaca kembali ketika dunia bergerak menuju 2050, era yang banyak digambarkan para futurolog Barat sebagai masa penuh tantangan: krisis iklim, revolusi kecerdasan buatan, migrasi besar-besaran, dan perubahan nilai kemanusiaan?

Nabi dan Krisis Kemanusiaan di Masa Depan

Ray Kurzweil, futurolog terkenal, memprediksi pada 2050 manusia akan memasuki fase singularity, ketika kecerdasan buatan melebihi kecerdasan manusia. Sementara Alvin Toffler dalam gagasan Third Wave-nya menekankan bahwa peradaban akan terus diguncang oleh arus perubahan teknologi, ekonomi, dan budaya.

Baca Juga:  Pers Indonesia: Antara Idealitas Demokrasi dan Realitas Kekuasaan

Prediksi itu seakan menegaskan bahwa manusia di 2050 akan menghadapi keterasingan baru: hubungan sosial yang rapuh, etika yang kabur, dan jarak antara yang “superkaya teknologi” dengan masyarakat biasa.

Namun, Nabi Saw. telah memberikan kunci sejak abad ke-7: bahwa kemajuan harus berpusat pada manusia dan nilai-nilai ketuhanan. Sabda beliau—“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain” (H.R. Ahmad)—merupakan pengingat bahwa teknologi tanpa nilai akan kehilangan arah. Ketika robot dan algoritma mengambil alih banyak peran manusia, pengajaran Nabi tentang ukhuwah insaniyah (persaudaraan universal) bisa menjadi fondasi menjaga martabat kemanusiaan.

Etika Lingkungan dan Masa Depan Bumi

Para ilmuwan lingkungan Barat memperkirakan pada 2050 suhu bumi bisa meningkat hingga 2–3 derajat Celsius. Krisis pangan, air, dan energi menjadi bayangan kelam. Futurolog seperti James Lovelock dengan teori Gaia memperingatkan bahwa bumi bisa “balas dendam” jika dieksploitasi tanpa batas.

Nabi Saw. sejak awal telah mengajarkan etika ekologis. Beliau melarang menebang pohon sembarangan, memerintahkan hemat air bahkan saat berwudu di sungai yang mengalir, serta menegaskan bahwa bumi adalah amanah. Hadis tentang menanam pohon meski kiamat tiba adalah simbol optimisme ekologis. Maka, di 2050, ketika manusia mungkin sibuk membangun kota di Mars atau menciptakan teknologi pertanian vertikal, pelajaran Nabi tentang keseimbangan ekologi tetap relevan: manusia tidak boleh sombong terhadap bumi yang menopangnya.

Baca Juga:  Iktikaf: Reset Spiritual di Tengah Kegelisahan Zaman

Pendidikan Sepanjang Hayat

Toffler menyebut, “Buta huruf masa depan adalah mereka yang tidak mampu belajar, melupakan, dan belajar kembali.” Pendidikan yang adaptif menjadi kunci bertahan di era disrupsi. Nabi Saw. menekankan, “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.” Prinsip ini melampaui zamannya dan sepenuhnya sejalan dengan visi futurolog Barat.

Di 2050, ketika pekerjaan lama hilang dan profesi baru muncul setiap dekade, pengajaran Nabi tentang keutamaan ilmu menjadi panduan universal. Ilmu tidak boleh berhenti pada keterampilan teknis, melainkan juga harus mencakup hikmah: kemampuan membaca tanda-tanda zaman dengan cahaya iman.

Kepemimpinan Moral

Prediksi dunia 2050 juga berbicara tentang krisis kepemimpinan. Populisme, otoritarianisme digital, dan politik identitas bisa menghancurkan kohesi sosial. Futurolog Fukuyama menyebut bahwa kepercayaan (trust) adalah modal sosial paling berharga untuk masa depan.

Nabi Saw. memperlihatkan kepemimpinan berbasis amanah. Beliau dikenal al-Amîn, terpercaya, jauh sebelum diangkat menjadi Rasul. Dalam Piagam Madinah, beliau membangun kontrak sosial yang inklusif antara Muslim, Yahudi, Nasrani, dan pagan. Di era globalisasi digital, di mana manusia mudah terjebak dalam “ruang gema” media sosial, pengajaran Nabi tentang kepemimpinan berbasis keadilan dan keterbukaan adalah jawaban.

Spirit Humanisme Transenden

Futurolog Barat, meski mengagumi teknologi, sering kali berhenti pada horizon material. Harari, misalnya, dalam Homo Deus berbicara tentang ambisi manusia menjadi “dewa baru” melalui bioteknologi. Namun, pelajaran Nabi Saw. selalu mengingatkan bahwa manusia hanyalah hamba Allah, makhluk yang lemah di hadapan Sang Pencipta.

Baca Juga:  Antara AI, Guru, dan Masa Depan Nalar: Menjaga Api Berpikir Kritis di Era Society 5.0

Di tahun 2050, ketika manusia mungkin sudah memodifikasi genetiknya atau hidup berdampingan dengan mesin cerdas, pengajaran Nabi meneguhkan bahwa identitas terdalam manusia bukanlah apa yang ia miliki atau kendalikan, melainkan hubungannya dengan Allah. Inilah yang membedakan visi Islam dari futurologi Barat: teknologi adalah sarana, bukan tujuan.

Relevansi Langkah Nabi Saw. dan Kehidupan 2050

Membaca langkah Nabi Saw. sebagai pengajaran bagi masa depan bukanlah romantisme historis, melainkan upaya menjadikan nilai kenabian sebagai kompas menghadapi ketidakpastian 2050. Setiap sabda beliau tentang ilmu, setiap teladan beliau tentang kepemimpinan, dan setiap etika beliau terhadap alam adalah modal untuk menyeimbangkan modernitas dan spiritualitas.

Para futurolog Barat memprediksi dunia yang penuh tantangan, tetapi Nabi Saw. telah memberi peta jalan sejak berabad-abad lalu. Jika 2050 disebut sebagai masa singularitas teknologi, maka umat manusia harus menyeimbangkannya dengan “singularitas nilai”—yakni kembali pada ajaran kenabian yang meneguhkan kemanusiaan. Dengan begitu, peradaban masa depan tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga beradab secara spiritual. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni