
Di bawah langit jingga Pogung, seorang gadis kecil melantunkan nyanyian pertama. Suaranya kelak mengguncang Kraton dan radio, tapi tak semua menyukai perubahan. Mampukah ia bertahan melawan pakem?
Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Langit Pogung menjingga. Senja berpendar lembut di antara pepohonan jati yang menghitam dalam bayang-bayang. Di sebuah rumah joglo sederhana, suara sinden mengalun, menggema hingga ke pekarangan.
Seorang gadis kecil duduk bersimpuh di dekat pintu, menggenggam kain jarik lusuh. Matanya menatap seorang lelaki tua bersorban putih yang duduk bersila di hadapannya.
Baca cerpen lainnya: Lukisan yang Tak Selesai
“Turah, ayo coba lagi,” suara itu mengalun lembut.
Gadis itu menarik napas, lalu membuka mulutnya. Suaranya belum sempurna, tapi ada sesuatu yang lain di sana—sebuah getar, sebuah nyawa yang seakan lahir dari tanah tempatnya berpijak.
Sang guru mengangguk puas. “Nduk, kelak suara ini bakal menggema sampai Kraton.”
Tak ada yang tahu bahwa ucapan itu bukan sekadar pujian kosong.
Padhasih
Di Dalem Danurejan, bertahun-tahun kemudian, seorang gadis remaja berdiri di tengah pendapa besar. Deretan abdi dalem memperhatikannya dengan tatapan penuh tanya. Sultan HB VIII duduk di singgasananya, tenang namun penuh wibawa.
“Namamu?” tanya seorang abdi dalem.
“Turah, Gusti.”
Sang Sultan tersenyum tipis. “Mulai sekarang, kau Padhasih.”
Gadis itu menunduk hormat. Namanya boleh berubah, tapi suara dalam dadanya tetap sama. Ia adalah nyanyian tanah, gema langit yang akan melampaui dinding-dinding Kraton.
Waktu berjalan. Padhasih semakin matang. Suaranya tidak hanya merasuk dalam hati para bangsawan, tetapi juga rakyat jelata. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan Lukito, seorang seniman yang kemudian menjadi suaminya.
“Suaramu seperti aliran sungai,” kata Lukito suatu malam. “Mengalir bebas, tak bisa dibendung.”
Padhasih tersenyum. Namun, kebebasan selalu memiliki harga.
Nyi Condrolukito dan Musuh yang Tak Terlihat
Di studio RRI Yogyakarta, seorang wanita berdiri tegak di depan mikrofon. Suaranya melantun dalam rekaman Jineman Kutut Manggung, mengalun dari radio ke rumah-rumah, dari desa ke kota.
Di sudut ruang siaran, seorang sinden senior mengatupkan bibir rapat. Wajahnya menegang, matanya tajam menatap Condrolukito, nama baru yang kini disematkan pada Padhasih setelah menikah.
“Kowe ora wedi, Nyi?” suaranya pelan tapi dingin.
Condrolukito menatapnya dengan senyum kecil. “Wedi nopo?”
“Kowe nabrak pakem.”
Condrolukito terkekeh. “Seni iku urip, Mbakyu. Nek ora berkembang, bakal mati.”
Sinden senior itu mendengus. “Kowe gelem golek musuh?”
Condrolukito menatapnya tajam. “Nek musuhe rasa jenuh, aku siap.”
Ia tahu, perubahan selalu melahirkan perlawanan. Tapi ia tak peduli. Suaranya adalah milik zaman, bukan sekadar milik pakem.
Namun, tidak semua orang berpikir demikian.
Malam Gerimis dan Bayangan
Pada suatu malam yang gerimis, Condrolukito berjalan di halaman belakang rumahnya. Angin membawa suara gamelan dari kejauhan. Ia menutup matanya, menghirup udara dalam-dalam.
Lalu sebuah suara memecah keheningan.
“Kowe rumangsa menang?”
Ia menoleh. Di bawah bayangan pohon mangga, berdiri seseorang yang dulu menatapnya tajam di studio RRI.
“Menang lan kalah mung urusan wektu, Mbakyu.”
Sinden senior itu mendekat, suaranya nyaris berbisik. “Tapi kowe kudu ngerti, ora kabeh wong seneng perubahan.”
Condrolukito tersenyum tipis. “Aku ora butuh disukai. Aku mung pengin suaraku urip.”
Hening sejenak. Lalu bayangan itu menghilang, larut dalam rinai hujan.
Senja yang Terakhir
Tahun berganti. Dunia berubah. Suara Nyi Condrolukito masih mengalun di udara, tapi tubuhnya mulai melemah.
Suatu sore, ia duduk di kursi kayu di serambi rumahnya, mendengarkan siaran ulang lagu-lagunya. Di sampingnya, Lukito diam, tangannya menggenggam jemarinya yang keriput.
Seorang pemuda datang membawa secarik berita. “Nyi, nama Panjenengan diabadikan jadi nama jalan di Yogya.”
Condrolukito tersenyum tipis. “Jenengku di langit, tapi ragaku ing lemah.”
Pemuda itu terdiam. Lukito menggenggam tangan istrinya lebih erat.
Dari kejauhan, suara sinden muda melantunkan tembang yang dulu ia nyanyikan. Suara itu masih hidup, berdenyut dalam arus zaman.
Langit Pogung kembali jingga, seperti saat ia pertama kali belajar menyinden. Suara gamelan masih mengalun, kini tanpa dirinya di dalamnya—tetapi ia tahu, nyanyian itu tak akan pernah benar-benar hilang. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












