Feature

Setetes Air Hina Menjadi Sempurna

37
×

Setetes Air Hina Menjadi Sempurna

Sebarkan artikel ini
Setetes air hina asalnya lalu Allah menjadikan bentuk sempurna diberi penglihatan dan pendengaran. Lantas diuji apakah menjadi kufur atau bersyukur.
Kuswantoro, tengah, menyampaikan kultum di rapat Lazismu Lumajang. (Tagar.co/Rizal Mazaki)

Setetes air hina asalnya lalu Allah menjadikan bentuk sempurna diberi penglihatan dan pendengaran. Lantas diuji apakah menjadi kufur atau bersyukur.

Tagar.co – Dari setetes air hina menjadi manusia yang sempurna menjadi topik bahasan Kultum rapat Lazismu Lumajang, Rabu (23/7/2025).

Kultum disampaikan oleh amil Lazismu, Kuswantoro. ”Teman-teman yang dirahmati Allah,” ujarnya pelan. “Pernahkah kita merenung… kita ini siapa?”

Semua mata menatap ke depan. Hening.

“Sering kali kita bangga dengan jabatan, penampilan, pendidikan,” lanjutnya. “Tapi sadarkah kita, Allah mengingatkan bahwa asal kita itu sangat hina.”

Lalu dia membacakan firman Allah dari surah Al-Insan ayat 2:

إِنَّا خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍۢ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَـٰهُ سَمِيعًۭا بَصِيرًا

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya; maka Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

”Lihat bagaimana Allah memulai: Innā khalaqnal-insān  ‘Kami menciptakan manusia’,” katanya. “Siapa kita kalau Allah tidak menciptakan?”

Ia mengangkat tangannya sedikit.”Kita bukan dari emas, bukan dari cahaya. Tapi dari nuthfah  setetes air mani. Cairan yang kalau jatuh di tanah, tak ada yang mau menyentuh.”

Baca Juga:  Rakerda Lazismu Bakorwil 3 Digelar di Situbondo

Namun dari nuthfah itulah Allah menciptakan manusia yang sempurna. Diberi pendengaran, penglihatan, akal, hati, dan tubuh.

”Kita bisa berpikir, berjalan, bermimpi  semua itu berasal dari bahan awal yang hina,” tegasnya. “Lalu untuk apa semua itu? Nabtaliihi, kata Allah. Untuk diuji.”

Ia menjelaskan, hidup ini bukan panggung main-main, melainkan ladang ujian.

”Ujiannya bisa berupa kesusahan  apakah kita sabar. Bisa juga berupa kemudahan apakah kita bersyukur,” lanjutnya.

”Jadi jangan heran kalau hidup ini ada tangis dan tawa, sedih dan bahagia. Itu semua bagian dari skenario ujian.”

Allah telah memberikan alatnya: telinga dan mata. Tapi bukan hanya alat fisik, melainkan simbol dari kemampuan manusia untuk mendengar nasihat, melihat kebenaran, dan memilih jalan hidup.

”Namun banyak manusia lupa,” katanya lirih. “Mata dipakai untuk melihat yang haram. Telinga enggan mendengar nasihat. Akal digunakan untuk menentang kebenaran.”

Dulu kita hanya setetes air hina, ujarnya, tapi setelah merasa tinggi dan hebat, malah jadi sombong. Lupa bahwa semuanya semata-mata karena rahmat Allah.

Baca Juga:  Gereja Mormon Percaya Kejujuran Muhammadiyah

Lalu ia membacakan ayat lanjutan Al-Insan ayat 3:

إِنَّا هَدَيْنَـٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًۭا وَإِمَّا كَفُورًا

Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan (yang lurus); ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.

Ayat ini, katanya, sangat penting. Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa arah. Allah menunjukkan as-sabīl  jalan yang lurus. Jalan Islam. Jalan kebaikan.

Tapi setelah jalan itu ditunjukkan, pilihan ada di tangan kita. Mau bersyukur atau kufur.

Ia menegaskan: syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah, tapi menggunakan nikmat untuk taat. Sedangkan kufur bukan hanya menolak agama, tapi hidup seolah tak akan mati.

Menjelang akhir kultum, Kuswantoro mengatakan, kita semua pernah menjadi setetes air hina. Kini diberi kehidupan. Diberi jalan. Diberi pilihan. Maka jangan sampai kita sombong dan kufur, lalu sia-sialah Allah menciptakan kita.

Evaluasi Kinerja

Usai kultum, rapat dilanjutkan. Said Romdhon, Direktur Lazismu Lumajang, langsung memimpin evaluasi kegiatan satu pekan terakhir.

Ia menyampaikan bahwa seluruh program berjalan lancar. Namun tantangan besar justru ada di depan mata.

Baca Juga:  Semangkuk Bakso Menghangatkan Jemaah Jumat

”Kita akan menyambut event besar Bikersmu, Sabtu-Ahad, 26–27 Juli 2025 besok,” ujarnya.

Tugas-tugas untuk teman-teman harus segera dibagi sesuai tupoksi. Jangan sampai saat kegiatan berlangsung malah bingung. Kita ini tuan rumah. Harus menyiapkan yang terbaik untuk tamu-tamu dari luar kota.

Meski Lazismu tidak masuk dalam struktur panitia resmi, kata Said, bukan berarti harus diam.

”Kita tetap harus ambil peran,” tegasnya. “Apalagi Baksomu yang sudah jadi favorit. Itu juga bagian dari kampanye program Lazismu. Harus disiapkan secara maksimal.”

Ia mengajak seluruh tim untuk tampil sebaik mungkin.

”Ayo kita tunjukkan bahwa Lumajang itu istimewa,” katanya. “Biar tamu-tamu yang pulang dari sini bisa bilang: Lumajang memang beda.” (#)

Jurnalis Rizal Mazaki  Penyunting Sugeng Purwanto