
Rumah tangga bukan ruang tanpa luka, tetapi ladang kesabaran yang menumbuhkan iman, akhlak, dan kedewasaan jiwa.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah
Tagar.co – Rumah tangga bukan hanya tempat berteduh jasad, tetapi ladang panjang penyemaian iman, akhlak, dan kesabaran. Di sanalah cinta diuji oleh waktu, watak, dan keadaan.
Al-Qur’an tidak menutup mata dari kemungkinan rasa jenuh dan tidak suka, namun memberi tuntunan agar pernikahan dijaga dengan akhlak, sabar, dan keyakinan bahwa kebaikan Allah sering tersembunyi di balik hal yang tidak kita sukai.
Pernikahan dalam Islam tidak dibangun di atas emosi sesaat, melainkan di atas komitmen akhlak dan tanggung jawab. Al-Qur’an berbicara jujur tentang dinamika rumah tangga, termasuk kemungkinan hadirnya rasa tidak suka.
Baca juga: Jihad Terbesar Sepanjang Hidup: Menaklukkan Musuh dalam Diri
Namun Islam tidak mengajarkan pelarian, apalagi kezaliman. Ia mengajarkan kesabaran yang beradab, dialog yang bermartabat, dan pergaulan yang makruf, yakni segala sikap baik yang diakui akal sehat dan syariat.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan pergaulilah istri-istrimu dengan cara yang baik. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah, karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisâ: 19).
Ayat ini menempatkan akhlak sebagai fondasi utama relasi suami istri. Perintah wa ‘âsyirûhunna bil ma‘rûf datang tanpa syarat rasa. Artinya, baik cinta sedang bersemi maupun hati sedang diuji, kewajiban berakhlak tetap berlaku. Islam tidak menggantungkan perlakuan baik pada mood, melainkan pada iman. Di sinilah rumah tangga menjadi sekolah kesabaran yang paling nyata.
Rasulullah ﷺ menegaskan standar kemuliaan seorang laki-laki dari caranya memperlakukan keluarga. Beliau bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan saya adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (At-Tirmizi).
Hadis ini menggeser ukuran kehebatan dari ruang publik ke ruang domestik. Akhlak di rumah, bukan sekadar citra di luar, menjadi cermin kualitas iman.
Rasa tidak suka dalam pernikahan sering lahir dari ekspektasi yang tidak realistis. Kita berharap pasangan selalu sesuai keinginan, padahal manusia diciptakan dengan perbedaan.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa di balik hal yang dibenci, Allah bisa menyimpan khairan katsîrâ, kebaikan yang banyak. Kebaikan itu bisa berupa pahala kesabaran, kedewasaan jiwa, atau masa depan anak-anak yang tumbuh dalam rumah tangga yang dijaga, bukan ditinggalkan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Seorang mukmin tidak boleh membenci seorang mukminah. Jika ia membenci satu perangainya, tentu ia rida pada perangai yang lain.” (Muslim).
Hadis ini mengajarkan keseimbangan pandang. Jangan biarkan satu kekurangan menutup banyak kebaikan.
Pergaulan yang makruf mencakup tutur kata yang lembut, sikap menghargai, kesediaan mendengar, dan keadilan dalam bersikap. Ia juga berarti menahan diri dari kata-kata yang melukai, dari membandingkan pasangan dengan orang lain, serta dari membuka aib rumah tangga kepada pihak luar. Semua itu adalah ibadah yang sering sunyi dari pujian manusia, namun terang di sisi Allah.
Kesabaran dalam pernikahan bukan berarti membenarkan kezaliman. Islam tetap memberi ruang penyelesaian yang adil ketika batas dilanggar.
Namun selama masalah masih dalam ranah perbedaan watak dan kekurangan manusiawi, kesabaran adalah jalan yang paling selamat. Allah menilai usaha hamba-Nya yang bertahan dengan akhlak, bukan yang menyerah karena lelah.
Pada akhirnya, rumah tangga yang dirawat dengan iman akan melahirkan ketenangan yang dalam. Sakinah bukan karena tanpa masalah, tetapi karena hadirnya Allah dalam setiap ikhtiar.
Ketika suami istri sama-sama belajar berakhlak, memaafkan, dan berharap pahala, maka janji Allah dalam ayat ini menjadi nyata. Di balik kesabaran, selalu ada kebaikan yang Allah siapkan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












