
Di zaman ketika komentar lebih penting daripada empati, dan sensasi mengalahkan etika, adab menjadi barang langka. Inilah renungan tentang krisis akhlak di ruang publik kita.
Oleh Angga Adi Prasetya, M.Pd.; Guru SD Muhammadiyah 1 Kota Malang, dan Sekbid Dakwah PDPM Malang
Tagar.co – Di ruang publik hari ini, yang paling lantang sering dianggap paling benar. Media sosial menjelma panggung adu pendapat, adu komentar, dan adu pembenaran. Siapa cepat bicara, ia menang. Siapa diam, dianggap salah.
Dalam iklim semacam ini, adab menjadi barang langka—tidak menarik, tidak viral, dan sering dianggap kuno.
Baca juga: Uban dan Amanah: Kisah Mereka yang Terlalu Cepat Dewasa
Fenomena yang paling mudah ditemui adalah tipe manusia yang gemar mengadu, sibuk berkomentar, dan rajin menunjuk kesalahan orang lain, tetapi alergi mengakui kekeliruan sendiri.
Ketika gagal, ia mencari kambing hitam. Ketika dikritik, ia melempar isu. Ketika salah, ia sibuk menyusun narasi agar tampak benar. Kesalahan orang lain diperbesar, kesalahan diri sendiri disembunyikan rapat-rapat.
Di tengah kondisi ini, sebuah ungkapan hikmah klasik terasa seperti cermin yang jujur dan menyakitkan:
Āmilin-nāsa bitsalāthin: in lam tanfa‘hum falā taḍurruhum, wa in lam tufriḥhum falā tuḥzin-hum, wa in lam tamdaḥhum falā tażummhum.
Artinya: perlakukan manusia dengan tiga hal: jika tidak mampu memberi manfaat, jangan menyakiti; jika tidak mampu membahagiakan, jangan membuat sedih; dan jika tidak mampu memuji, jangan mencela.
Prinsip ini sederhana, tetapi sering gagal diterapkan, terutama oleh mereka yang sibuk menjaga citra diri dengan merusak nama orang lain.
Menutupi Salah dengan Menyalahkan
Mengadu dan menyalahkan orang lain sering dikemas sebagai keberanian atau kejujuran. Padahal, dalam banyak kasus, itu hanya cara paling murah untuk lari dari tanggung jawab. Alih-alih introspeksi, seseorang memilih memproduksi cerita. Alih-alih meminta maaf, ia sibuk mencari pembenaran.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa keselamatan seorang muslim diukur dari sejauh mana orang lain selamat dari lisan dan tangannya. Sayangnya, di era digital, lisan berpindah ke kolom komentar, grup percakapan, dan status media sosial. Luka sosial pun lahir bukan dari tindakan besar, tetapi dari kalimat kecil yang sengaja diarahkan untuk menjatuhkan.
Jika belum mampu memperbaiki keadaan, setidaknya jangan memperkeruhnya.
Komentar tanpa Empati
Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua masalah layak diumbar. Namun, hari ini, banyak orang merasa punya hak untuk ikut campur dalam urusan yang bukan tanggung jawabnya. Kesalahan orang lain dijadikan tontonan, kegagalan dijadikan bahan olok-olok, dan konflik dipelihara demi sensasi.
Ungkapan hikmah tadi memberi batas yang tegas: jika tidak mampu membahagiakan, jangan membuat sedih. Kritik tanpa empati hanya akan melahirkan dendam baru. Komentar tanpa adab hanya memperpanjang luka.
Diam yang Lebih Jujur
Imam Syafi’i pernah mengingatkan bahwa keselamatan sering terletak pada kemampuan menjaga lisan. Dalam konteks hari ini, menjaga lisan berarti juga menjaga jari. Tidak ikut mengadu, tidak sibuk menyalahkan, dan tidak merasa paling benar adalah bentuk kedewasaan spiritual.
Diam dalam keadaan tertentu bukan tanda kalah, melainkan bukti integritas.
Akhlak yang Tidak Butuh Panggung
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menang debat, tetapi untuk menang melawan ego. Kebenaran yang disampaikan dengan mencela akan kehilangan cahaya. Dakwah yang dibangun di atas menyalahkan hanya melahirkan jarak.
Adab memang tidak viral. Ia tidak mendatangkan tepuk tangan. Tetapi tanpanya, iman berubah menjadi klaim kosong. Jika hari ini kita belum mampu memberi manfaat, semoga kita mampu menahan diri. Jika belum bisa membahagiakan, semoga kita tidak menambah luka. Dan jika belum bisa memuji, semoga kita tidak sibuk mencela.
Sebab menutup kesalahan dengan menyalahkan orang lain mungkin terlihat selamat hari ini, tetapi ia sedang merusak dirinya sendiri perlahan-lahan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












