
Rendangmu yang dititipkan di Lazismu Kota Probolinggo menjadi perantara silaturahim dengn teman di sana dan Ranuyoso.
Tagar.co – Mobil Panther abu-abu melaju pelan menembus jalanan Lumajang menuju Kota Probolinggo, Selasa (16/7/2025) siang pukul 13.00.
Di dalamnya tiga orang kru Lazismu Lumajang tampak santai menikmati perjalanan. Ada Aziz Fahrur Rozi (Sekretaris Lazismu), Rizal Mazaki, dan Atar (tim program).
Mereka menuju Probolinggo hendak mengambil Rendangmu kiriman Lazismu Jawa Timur yang dititipkan di Kantor Lazismu Kota Probolinggo.
Di dalam mobil, obrolan ringan dan candaan mewarnai perjalanan. Sesekali mereka berdiskusi ringan tentang program-program keumatan yang sedang berjalan.
Menjelang Asar tiba di kantor Lazismu Kota Probolinggo. Tak ingin berlama-lama, Rizal langsung mengarahkan paket Rendangmu segera dimuat di mobil.
“Kita nggak usah lama-lama, langsung naikkan saja dan segera pulang,” kata Rizal.
Namun tak disangka, sebuah panggilan telepon masuk. Nafiq, putra dari Ahmad Ridho Pambudi, Ketua Lazismu Kabupaten Probolinggo bertanya,”Mas, masih di Kota Probolinggo?”
”Iya, masih,” jawab amil Lazismu Lumajang.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil Grand Max putih datang mendekat. Dari balik kemudi, Nafiq tersenyum lebar. ”Mas, ayo ikuti saya,” ajaknya sambil memutar arah mobil.
Tanpa banyak tanya, rombongan Lumajang mengikutinya dari belakang. Sekitar sepuluh menit kemudian berhenti di warung makan tengah kota. “Ayo kita makan dulu, Mas,” ucap Nafiq saat turun.
Rizal sempat menolak dengan canggung. ”Wah, kok repot-repot, Mas…” Lalu dia tersenyum. ”Tapi nggak apa-apa sih, saya juga kebetulan lapar, hehe…”
Sekitar pukul 17.15 WIB, makan selesai. Mereka berpamitan kembali ke Lumajang.
Di dalam mobil, Aziz berujar,”Salat Magrib gimana, dijamak aja ya?”
Salah satu amil menjawab,”Kita salat di masjidnya Pak Pri saja.”
Yang dimaksud adalah Supriyono, tokoh Muhammadiyah di Wates Wetan, Kecamatan Ranuyoso, daerah perbatasan antara Lumajang dan Probolinggo.
“Saya sudah lama nggak ketemu Pak Pri, kangen saya,” ujar amil.

Pukul 18.00 WIB, rombongan sampai di Masjid Al-Khair, masjid Muhammadiyah paling utara yang berbatasan langsung dengan Probolinggo. Lokasinya hanya beberapa langkah dari rumah Pak Supriyono.
Sesampainya di sana, mereka disambut oleh istrinya. “Teko ndi, Leee…” ucap Bu Lilik dengan logat Maduranya.
”Dari Probolinggo, Bu,” jawab Rizal sembari tersenyum.
”Iya, salat dulu,” ujar Bu Lilik mempersilakan.
Usai salat Magrib, Pak Pri sudah menunggu di teras rumah. Di atas meja, beberapa cangkir kopi telah disiapkan. ”Ayo masuk,” ajak Pak Pri dengan ramah. “Lama njenengan nggak ke sini, Le…”
“Iya, Pak. Kangen saya sama njenengan,” balas amil Lazismu dengan mata berbinar.
Obrolan pun mengalir hangat. Pak Pri lalu bercerita. ”Sekarang masjidnya sudah nyaman. Karpetnya baru, empuk,” ujarnya sembari tertawa lepas. “Halaman depan juga sudah dipaving.”
Aziz bertanya,”Berapa jamaahnya ketika Jumatan dan salat lima waktu, Pak?”
”Kalau Jumatan sekitar 90 orang. Jamaah kami memang segitu, kami siapkan Jumat Berkah 90 bungkus, habis semua,” jawab Pak Pri bangga.
“Kalau salat lima waktu, satu shaf penuh. Saya berterima kasih kepada donatur Lazismu yang selalu mensupport kami.”
Dia juga bercerita santri TPQ di masjid itu juga terus bertambah. ”Sekarang sudah 54 santri yang ngaji di sini,” ucapnya.
Pak Pri lalu menatap halaman masjid. ”Masjid ini saya rencanakan sejak 2005 bersama Ustaz Suharyo. Baru bisa terealisasi 2016. Ya, namanya perjuangan…”
Perjalanan hari itu bukan sekadar menjemput Rendangmu. Tapi menyambung silaturahmi, meneguk kopi persaudaraan, dan memeluk kenangan bahwa setiap kilometer perjalanan adalah ladang amal dan napas dakwah yang terus tumbuh. (#)
Jurnalis Kuswantoro Penyunting Sugeng Purwanto












