Feature

Rektor Umla: Penjurusan di SMA Strategis jika Adaptif dan Humanis

36
×

Rektor Umla: Penjurusan di SMA Strategis jika Adaptif dan Humanis

Sebarkan artikel ini
Rektor Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla), Prof. Dr. Abdul Aziz Alimul Hidayat, S.Kep., Ns., M.Kes.

Sistem penjurusan di SMA dinilai strategis jika dijalankan adaptif dan berbasis minat. Rektor Umla menekankan pentingnya pendekatan fleksibel dan mendalam demi kesiapan siswa menghadapi dunia kuliah.

Tagar.co Rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memberlakukan kembali sistem penjurusan di tingkat sekolah menengah Atas (SMA) mendapat tanggapan positif dari Rektor Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla), Prof. Dr. Abdul Aziz Alimul Hidayat, S.Kep., Ns., M.Kes.

Dalam wawancara daring dentan Tagar.co, Selasa, 15 April 2025, dia menyatakan bahwa kebijakan ini dapat menjadi langkah strategis jika diterapkan secara tepat sasaran.“Dengan adanya penjurusan, siswa bisa lebih fokus memperdalam bidang ilmu yang sesuai dengan minat dan bakatnya, sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna dan relevan dengan tujuan karier ke depan,” ujarnya.

Baca juga: Penjurusan SMA, Rektor UMG: Bantu Siswa Fokus dan Siap Hadapi Masa Depan

Namun demikian, dia menekankan pentingnya pelaksanaan penjurusan yang fleksibel dan berbasis asesmen komprehensif, bukan semata-mata berdasarkan nilai akademik.

Baca Juga:  Bug Bounty 2026 Dibuka, Kemendikdasmen Ajak Talenta Muda Perkuat Keamanan Siber Pendidikan

“Siswa juga harus diberi ruang untuk mengeksplorasi lintas disiplin agar tidak terkungkung dalam satu bidang terlalu dini. Dalam dunia yang terus berubah dan membutuhkan keterampilan lintas bidang, pendekatan penjurusan yang adaptif dan humanis menjadi kunci keberhasilannya,” tambahnya.

Lebih lanjut, Prof. Abdul Aziz memaparkan empat alasan penting yang mendukung efektivitas penjurusan di SMA:

  1. Fondasi awal minat akademik
    Penjurusan membantu siswa mengenali bidang keilmuan sesuai minat dan bakat mereka. Misalnya, jurusan IPA cocok bagi yang berminat pada bidang teknik atau kesehatan, sedangkan IPS lebih relevan untuk ekonomi, hukum, dan ilmu sosial lainnya. Hal ini menjadi fondasi awal sebelum memasuki jenjang perguruan tinggi yang lebih spesifik.

  2. Mendorong deep learning
    Penjurusan memungkinkan siswa mendalami materi yang relevan dengan bidang pilihannya. Hal ini sejalan dengan prinsip deep learning dalam pendidikan—belajar untuk memahami, bukan sekadar menghafal. Dengan dasar yang kuat sejak SMA, siswa akan lebih siap menghadapi kedalaman materi kuliah dan memiliki pola pikir ilmiah yang matang.

  3. Transisi lebih mulus ke perguruan tinggi
    Penjurusan membantu siswa beradaptasi dengan model pembelajaran di perguruan tinggi yang menuntut kemampuan berpikir kritis, analitis, dan aplikatif. Pola belajar bergeser dari teacher-centered menjadi student-centered. Misalnya, siswa SMA jurusan IPA yang mendalami biologi akan lebih siap memasuki fakultas kedokteran dibandingkan mereka yang tidak memiliki latar belakang serupa.

  4. Meningkatkan keberhasilan akademik
    Penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian antara jurusan SMA dan jurusan kuliah dapat meningkatkan motivasi, mempercepat masa studi, serta mengurangi risiko mahasiswa pindah jurusan. “Mahasiswa yang memiliki landasan kuat sejak SMA tidak hanya mengejar nilai, tetapi benar-benar memahami dan mencintai bidang yang ditekuninya,” tuturnya.

Baca Juga:  Abdul Mu’ti Serukan Lompatan Kualitas Pendidikan Muhammadiyah

Dengan catatan pelaksanaan yang tepat dan berpihak pada kebutuhan siswa, penjurusan di SMA bisa menjadi pijakan penting dalam membangun pendidikan yang lebih bermakna, berorientasi masa depan, dan sejalan dengan semangat pembelajaran sepanjang hayat.​ (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni