
Di balik kemeriahan lomba 17-an, tumpukan sampah plastik mengintai. Tahun ini, mari rayakan kemerdekaan RI ke-80 dengan lomba yang seru sekaligus ramah lingkungan, memanfaatkan barang bekas yang sering terabaikan di rumah kita.
Oleh Mochammad Nor Qomari, Sekretaris Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gresik.
Tagar.co – Bulan Agustus selalu identik dengan kemeriahan lomba-lomba dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di tahun ke-80 kemerdekaan ini, berbagai kegiatan seru kembali mewarnai lingkungan warga, dari balap karung hingga tarik tambang.
Namun, di balik semaraknya perlombaan, tersimpan potensi masalah lingkungan yang kerap terabaikan: sampah plastik. Jika tidak diatur dan dikelola dengan baik, kegiatan-kegiatan ini dapat menjadi penyumbang sampah plastik yang cukup signifikan, mencederai semangat kemerdekaan dengan tumpukan limbah yang tertinggal.
Baca juga: 80 Tahun Merdeka, Indonesia Masih Dijajah Sampah Plastik
Menurut data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN, KLHK 2024), sekitar 52,96 persen dari total timbulan sampah nasional — atau sekitar 18,15 juta ton per tahun — masih tidak tertangani dengan baik. Ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah sampah nasional belum dikelola secara optimal.
Ini menjadi alarm penting. Merayakan kemerdekaan dengan penuh suka cita jangan sampai mencederai semangat kebebasan itu sendiri dengan menumpuk sampah yang menyandera bumi. Semangat kemerdekaan seharusnya juga menjadi momentum untuk “memerdekakan lingkungan” dari beban plastik sekali pakai.
Langkah Konkret
Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu langkah konkret yang bisa diambil adalah dengan menerapkan prinsip daur ulang atau recycle. Recycle adalah proses mengubah bahan bekas menjadi produk baru yang bermanfaat.
Ini merupakan bagian dari konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang bertujuan mengurangi dampak negatif sampah terhadap lingkungan. Dengan mendaur ulang, kita tidak hanya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi juga menghemat sumber daya alam baru yang dibutuhkan untuk membuat produk dari nol.
Gerakan daur ulang menjadi langkah kecil untuk memerdekakan diri dari ketergantungan terhadap plastik sekali pakai.
Memulainya dari mana? Seyogianya ketua lingkungan RT/RW maupun lembaga sekolah menyusun panitia perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, yang tentunya di dalamnya ada bagian lomba. Susunlah rencana lomba-lomba yang tetap ramah lingkungan, tidak menggunakan bahan plastik sekali pakai, atau memanfaatkan bahan daur ulang.
Berikutnya, kita semua kemungkinan besar memiliki segudang benda di sekitar rumah yang tidak kita gunakan lagi. Benda-benda itu hanya bikin rumah berantakan dan ujung-ujungnya dibuang ke tempat sampah.
Daripada terbuang sia-sia, kumpulkan barang-barang tersebut dari rumah kamu dan tetangga, seperti kardus bekas paket belanjaan, bubble wrap, potongan kain, baju bekas, botol plastik, botol kaca, majalah atau koran lama, serta kertas tak terpakai.
Sebagai bentuk nyata dari upaya tersebut, masyarakat bisa tetap mengadakan lomba 17-an yang seru namun ramah lingkungan dengan memanfaatkan barang bekas dan kreativitas daur ulang.
Beberapa ide lomba yang bisa diterapkan antara lain:
-
Lomba tiup gelas dari gelas plastik bekas air mineral
-
Estafet botol dari botol plastik yang dipotong menjadi dua
-
Estafet air menggunakan corong dari kertas kalender bekas
-
Voli duet menggunakan sak bekas beras
-
Mengeluarkan bola plastik dari kardus bekas
-
Memasukkan kail ke dalam corong bekas galon
-
Balap karung dengan karung goni
-
Memasukkan paku ke dalam botol
-
Balap kelereng
-
Estafet sak beras.
Dengan ide-ide kreatif ini, semangat kemerdekaan tetap terjaga, sambil sekaligus memerdekakan bumi dari beban sampah plastik yang berlebihan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












