
Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi ruang transformasi jiwa. Saat ia berlalu, pertanyaannya bukan hanya “Akankah kembali?” tapi “Apa yang telah berubah dalam diri kita?”
Oleh Prof. Dr. Triyo Supriyatno; Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Tagar.co – Ramadan senantiasa datang dengan kelembutan yang menyejukkan. Ia hadir membawa cahaya rahmat, membimbing jiwa-jiwa yang haus akan ketenangan, dan kini kembali berpamitan—perlahan menghilang dari hari-hari kita. Namun pertanyaannya, benarkah Ramadan benar-benar pergi? Ataukah ia meninggalkan jejak yang terus membekas dalam hati dan amal perbuatan kita?
Bulan ini bukan sekadar gugusan hari dalam kalender hijriah. Ia adalah perjalanan ruhani yang mendewasakan. Dalam setiap detik puasa, dalam tiap rakaat qiyamulail, dalam lantunan doa yang menggema di sepertiga malam, kita ditempa untuk menjadi manusia yang lebih jernih, lebih sabar, lebih tunduk kepada-Nya.
Baca juga: Indahnya Kata Maaf di Hari Penuh Ampunan
Namun menjelang perpisahan ini, kita patut bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah Ramadan menjadi guru yang mengubah tabiat kita, atau sekadar tamu yang singgah lalu berlalu? Sudahkah kita meresapi ajarannya hingga mengendap dalam perilaku? Ataukah hanya larut dalam rutinitas ibadah tanpa bekas makna?
Ramadan adalah madrasah spiritual. Ia bukan semata ujian lapar dan dahaga, tetapi pelatihan kesadaran. Ia mengajarkan bahwa kekuatan bukan terletak pada dominasi, melainkan pengendalian diri. Ia menanamkan bahwa kemenangan hakiki bukan soal materi atau pencapaian lahiriah, melainkan kemampuan menaklukkan hawa nafsu dan menumbuhkan empati sosial.
Dalam suasana menjelang Idulfitri, banyak dari kita merenung: adakah amal-amal kita diterima? Adakah hati ini sungguh telah tersentuh dan berubah? Kita pun bermunajat, “Ya Allah, pertemukanlah kami kembali dengan Ramadan dalam kondisi yang lebih baik. Ampuni dosa-dosa kami, terimalah ibadah kami, dan kuatkanlah tekad kami untuk terus berjalan di jalan-Mu.”
Doa-doa yang terucap bukanlah sekadar ritual lisan, tetapi cermin dari kerinduan dan penyerahan total kepada Ilahi. Terutama saat kita memanjatkan harapan untuk anak-anak kita—generasi penerus yang akan mewarisi dunia ini. Kita titipkan mereka dalam doa, agar tumbuh menjadi manusia berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi semesta.
Tak lupa pula, di penghujung Ramadan, hati kita turut menengadah untuk mereka yang telah lebih dahulu kembali ke pangkuan-Nya. Kita percaya, cinta tak putus oleh kematian. Dan Idulfitri menjadi jembatan kasih sayang antara yang hidup dan yang telah tiada, dalam cahaya kasih Allah Swt.
Dalam lanskap pemikiran Islam, waktu bukan hanya garis yang bergerak ke depan, melainkan ruang untuk bertumbuh dan berubah. Ramadan adalah ruang itu. Namun dalam kehidupan modern yang serba cepat dan dangkal, Ramadan kerap tereduksi menjadi formalitas. Di sinilah kita perlu membangkitkan kembali spiritualitas Islam yang utuh—yang tak hanya personal, tetapi juga kolektif; yang tak hanya ritual, tetapi juga transformatif.
Akhirnya, perpisahan dengan Ramadan bukan sekadar kehilangan, tapi juga pengingat: bahwa hidup ini terus berjalan, dan kita dituntut untuk terus belajar. Jika esok Ramadan kembali, semoga kita menyambutnya dengan iman yang lebih kokoh, hati yang lebih lapang, dan jiwa yang lebih terlatih.
Selamat jalan, Ramadan 1446. Jejakmu tak pernah benar-benar pergi—selama kami tetap menjaga cahaya yang kau tanamkan di lubuk hati kami. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni










