Telaah

Rahasia di Balik Puasa Enam Hari Syawal: Keutamaan dan Keberkahan di Dalamnya

62
×

Rahasia di Balik Puasa Enam Hari Syawal: Keutamaan dan Keberkahan di Dalamnya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Puasa enam hari Syawal menyimpan rahasia manfaat luar biasa. Amalan ringan ini menjadi jalan meraih keberkahan, pahala besar, dan bukti kesungguhan setelah Ramadan berlalu.

Oleh Usama Nabhan Assidiqy, Mahasiswa Al-Azhar Mesir asal Sidoarjo, Anggota MPID PCIM Mesir

Tagar.co – Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan, umat Islam diajak untuk tetap menjaga semangat ibadah dengan melanjutkannya melalui puasa enam hari di bulan Syawal. Ibadah ini bukan hanya pelengkap, tetapi memiliki kedudukan istimewa yang dijelaskan langsung oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:

من صام رمضان ثم اتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر (صحيح مسلم ١١٦٤)

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah berpuasa sepanjang tahun.” (H.R. Muslim dalam Sahih-nya No. 1164)

Dalam riwayat Ahmad No 14302:

فكأنما صام السنة كلها

Nabi ﷺ menganjurkan kita untuk berpuasa enam hari di bulan Syawal. Dalam hadis ini, beliau menjelaskan bahwa siapa saja yang berpuasa selama bulan Ramadan penuh, lalu melanjutkannya dengan enam hari puasa sunnah di bulan Syawal, maka baginya pahala seperti berpuasa sepanjang tahun, yakni berpuasa selama satu tahun penuh.

Baca juga: Pandangan Ulama tentang Puasa Syawal: Berturut-turut atau Terpisah?

Penjelasan mengenai hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Al-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Sahih Muslim:

“Para ulama berkata: Hal ini dikarenakan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Maka, puasa Ramadhan nilainya sama dengan sepuluh bulan, dan enam hari puasa di bulan Syawal setara dengan dua bulan. Sehingga, jika dijumlahkan, maka hasilnya adalah puasa satu tahun penuh.”

Penjelasan ini juga disebutkan secara lebih rinci dalam hadits dari Tsauban Radiyallahuanhu, dari Nabi ﷺ:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدِ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, maka sebulan itu bernilai sepuluh bulan. Dan puasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka itu menyempurnakan puasa setahun penuh.” (H.R. Ibnu Khuzaimah, An-Nasa’i, Al-Baihaqi)

Baca Juga:  Puasa Syawal: Enam Hari yang Menentukan Setahun

Mayoritas ulama menganjurkan puasa enam hari di bulan Syawal, seperti Imam Ahmad, Dawud al-Zhahiri, Imam al-Syafi’i, dan Ibnu Mubarak. Sebelumnya, di kalangan sahabat, Ibnu Abbas dan lainnya juga telah melakukannya.

Namun, ada sebagian ulama yang memakruhkan, seperti Imam Malik Radiyallahuanhu dan Abu Hanifah Hal ini bukan karena beliau menentang keutamaan puasa tersebut, tetapi karena beliau khawatir masyarakat awam akan menganggapnya sebagai puasa wajib.

ما رأيت أحدا من أهل العلم يصومها

“Aku tidak melihat seorang ahli ilmu melakukannya.”

Dalil imam Syafi’i dan ulama yang sepakat dengannya adalah hadis yang jelas dan sahih, jika suatu amalan Sunnah telah dinilai valid maka tidak boleh ditinggalkan hanya karena sebagian, mayoritas atau seluruh ulama tidak melakukannya (Syarah Sahih Muslim 167/Jilid 7)

Imam Abu Umar bin Abdul Barr menjelaskan:

“Imam Malik tidak mengetahui hadits dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu (tentang puasa Syawal), padahal hadits itu berasal dari Madinah. Namun, tidak mungkin seseorang dapat mengetahui semua ilmu. Imam Malik menolak puasa Syawal bukan karena mengingkari haditsnya, tetapi karena kekhawatiran bahwa masyarakat akan menganggapnya sebagai bagian dari kewajiban Ramadhan. Beliau sangat berhati-hati dalam menjaga kemurnian agama.”

Meskipun demikian, hadis yang menjelaskan tentang puasa enam hari di bulan Syawal telah terbukti sahih dan menjadi hujah (dalil) yang harus diterima oleh semua orang.

Manfaat, Keutamaan, dan Hikmah Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki banyak manfaat, keutamaan, dan hikmah, di antaranya:

Pertama, melaksanakan anjuran Rasulullah ﷺ yang menganjurkan puasa ini dan meneladani beliau, karena ini termasuk dalam mengikuti sunnah.

Kedua, menutupi kekurangan, memperbaiki kekhilafan, dan menyempurnakan segala kekurangan yang terjadi dalam puasa wajib.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ؟ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ](صحيح سنن الترمذي)

Baca Juga:  Menanti Magrib dari Rooftop Al-Azhar Kairo

“Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka ia akan beruntung dan selamat. Namun, jika salatnya rusak, maka ia akan rugi dan merugi. Jika dalam salat wajibnya terdapat kekurangan, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah? Maka dari amalan sunnah itu akan disempurnakan kekurangan yang ada dalam ibadah wajibnya.’ Kemudian seluruh amalannya akan diperlakukan dengan cara yang sama.’” (H.R. At-Tirmidzi, sahih)

Ketiga, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas nikmat dapat menyelesaikan puasa Ramadan dan menyempurnakan jumlah hari puasanya.

Allah ﷻ memerintahkan hamba-Nya untuk bersyukur atas nikmat puasa Ramadhan dengan memperbanyak dzikir serta berbagai bentuk rasa syukur lainnya.

Firman Allah:

وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan (puasa Ramadhan) dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (Al-Baqarah: 185)

Di antara bentuk rasa syukur seorang hamba kepada Rabb-nya atas taufik dan pertolongan dalam menjalankan puasa Ramadan, serta pengampunan dosa-dosanya, adalah dengan berpuasa Sunnah Syawal dan puasa Sunnah lainnya sebagai tanda syukur setelahnya.

Keempat, mendapatkan pahala seperti berpuasa sepanjang tahun penuh, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits sebelumnya.

Kelima, menjadi tanda kecintaan terhadap ibadah dan tidak merasa bosan atau jenuh dalam menjalankan puasa. Semangat dalam melanjutkan ibadah ini menunjukkan adanya keteguhan hati serta keinginan yang terus berlanjut dalam mengamalkan ibadah yang mulia ini.

Keenam, sebagai tanda diterimanya amal ibadah.

Ibnu Rajab Rahimahullah berkata:

إن معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان، فإن الله تعالى إذا تقبل عمل عبد، وفقه لعمل صالح بعده، كما قال بعضهم: ثواب الحسنة الحسنة بعدها، فمن عمل حسنة ثم أتبعها بحسنة بعدها، كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى، كما أن من عمل حسنة ثم أتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة وعدم قبولها.

Baca Juga:  Rindu Ramadan Terbalaskan dengan Puasa Syawal

“Kembalinya seseorang untuk berpuasa setelah bulan Ramadan merupakan tanda diterimanya puasa Ramadhan. Sebab, jika Allah menerima amal seorang hamba, maka Dia akan memberikan taufik kepadanya untuk melakukan amal saleh setelahnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama: Balasan dari suatu kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Maka, siapa saja yang melakukan suatu kebaikan, lalu melanjutkannya dengan kebaikan lain setelahnya, itu menjadi tanda bahwa kebaikan pertama telah diterima. Sebaliknya, siapa saja yang melakukan suatu kebaikan lalu mengikutinya dengan keburukan, maka itu menjadi tanda bahwa kebaikan tersebut ditolak dan tidak diterima.”

Ketujuh, menjadi tanda istikamah dalam ketaatan dan keberlanjutan dalam amal saleh setelah berlalunya bulan Ramadan. Hal ini menunjukkan bahwa seorang hamba adalah hamba Allah yang sejati (Rabbani), bukan hanya seorang hamba Ramadani yang hanya beribadah di bulan tersebut.
Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ} (فصلت:30)

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka beristikamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kalian merasa takut dan janganlah bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian.’” (Fusilat: 30)

Kami mengumpulkan manfaat-manfaat ini sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, berdasarkan prinsip: “Lipat gandakan niatmu, maka pahala akan semakin bertambah!” Sebab, orang-orang beriman adalah para pedagang niat, dan pahala. Serta ganjaran dari Allah sangat bergantung pada niat seseorang. Semakin banyak niat yang baik, semakin besar pula pahala dan anugerah yang diberikan.

Puasa enam hari di bulan Syawal adalah anugerah lain dari Allah yang harus kita manfaatkan. Ia merupakan hembusan rahmat Ilahi yang sebaiknya kita sambut dengan penuh keikhlasan. Ini juga merupakan salah satu pintu untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang telah dibuka bagi kita agar kita dapat memasukinya dan meraih ridha-Nya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…