
Dengan penuh kasih, sang Bunda meletakkan pekerjaannya. Tatapannya yang hangat meneduhkan hati kedua putrinya. “Hidup memang tak selalu mudah, Nak.
Petuah sang Bunda; Cerpen oleh: Aniwati, Guru SMP Muhammadiyah 6 Krian (SMP Meka) Sidoarjo, Jawa Timur.
Tagar.co – Langit sore itu merona jingga, memantulkan cahaya keemasan pada wajah Shakira dan Syabila yang duduk termenung di serambi rumah. Angin sepoi-sepoi berdesir, membawa serta aroma melati yang merebak dari taman kecil di depan rumah, seolah berbisik menenangkan.
Di hadapan mereka, sang Bunda, perempuan teduh dengan jejak-jejak waktu yang terukir lembut di wajahnya, tengah asyik menjahit sehelai selimut tua yang tampak usang namun penuh kenangan.
“Bu,” Shakira membuka percakapan, suaranya memecah keheningan sore itu. “Mengapa hidup ini terasa begitu rumit?”
Sang Bunda tersenyum, sejenak mengalihkan pandangannya dari benang dan jarum di tangannya. “Apa yang membuatmu resah, Nak?”
“Aku merasa tak pernah cukup baik, Bu,” ungkap Shakira dengan nada lirih. “Usahaku seringkali berujung pada kegagalan.”
“Aku pun begitu, Bu,” timpal Syabila, suaranya bergetar. “Aku bingung harus melangkah ke mana. Semua orang menaruh harapan besar padaku, tapi aku takut mengecewakan mereka.”
Baca juga: Jejak Persahabatan
Dengan penuh kasih, sang Bunda meletakkan pekerjaannya. Tatapannya yang hangat meneduhkan hati kedua putrinya. “Hidup memang tak selalu mudah, Nak. Namun, ingatlah, di balik setiap rintangan, selalu tersimpan pelajaran berharga yang akan menempa kalian.”
Shakira menunduk, memainkan ujung jilbabnya dengan gelisah. “Tapi bagaimana caranya agar kita tak gentar menghadapi kegagalan, Bu?”
Senyum lembut kembali merekah di bibir sang Bunda. “Dengarlah baik-baik, Shakira dan Syabila. Ibu pernah mendengar sebuah kisah tentang seorang petani yang bijaksana.
Di tengah musim kemarau yang panjang, ia nekat menanam padi, meskipun ia tahu risiko gagal panen sangatlah besar. Orang-orang mencemoohnya, menganggapnya gila, namun ia tetap teguh pada keyakinannya.
Ketika hujan akhirnya turun, sawahnya yang subur memberinya panen yang jauh lebih melimpah daripada petani lainnya. Apa yang bisa kalian petik dari kisah ini?”
Syabila tampak berpikir sejenak, dahinya berkerut. “Keberanian untuk tetap berusaha, meskipun keadaan tampak tidak mendukung?”
“Tepat sekali, Nak,” jawab sang Bunda sembari mengangguk, matanya berbinar bangga. “Keberanian untuk mencoba adalah langkah awal yang penting. Jangan pernah takut gagal, karena kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Justru, kegagalan adalah guru yang bijak, yang mengajarkan kita untuk bangkit dan menjadi lebih baik.”
Shakira menghela napas panjang, masih tampak ragu. “Tapi terkadang, aku takut dinilai buruk oleh orang lain, Bu.”
Sang Bunda terkekeh pelan. “Nak, anggaplah penilaian orang lain itu seperti angin. Kadang berhembus sejuk, kadang menerpa dengan kencang. Namun, ia tak akan pernah mampu menggoyahkan pohon yang akarnya tertanam kuat di dalam tanah. Jadikanlah iman dan usaha kerasmu sebagai akar yang kokoh, yang menopangmu di tengah terpaan badai kehidupan.”
Kedua gadis itu saling berpandangan. Kata-kata bijak sang Bunda, meskipun sederhana, selalu berhasil menyejukkan hati dan menumbuhkan semangat baru dalam diri mereka.
“Jadi, apa yang harus kami lakukan sekarang, Bu?” tanya Syabila, sorot matanya dipenuhi harap.
Dengan lembut, sang Bunda mengelus kepala Syabila. “Lakukanlah yang terbaik yang kalian bisa, dengan niat yang tulus dan ikhlas. Jika kalian gagal, jangan berputus asa. Jika kalian berhasil, janganlah menjadi sombong. Dan jangan pernah lupa untuk selalu berserah diri kepada Allah, karena sesungguhnya Dia selalu bersama hamba-hamba-Nya yang senantiasa berusaha dan berdoa.”
Malam itu, di kamar mereka yang sederhana, Shakira dan Syabila duduk bersama, berbagi mimpi dan harapan. Kata-kata sang Bunda bagaikan lentera yang menerangi jalan mereka di tengah gelapnya ketidakpastian, memberi mereka kekuatan dan keyakinan untuk melangkah maju.
##
Bertahun-tahun kemudian, Shakira menjelma menjadi seorang pengusaha yang sukses dan disegani, sementara Syabila menjadi seorang guru yang penuh dedikasi dan dicintai murid-muridnya.
Setiap kali mereka menghadapi rintangan dan cobaan, mereka selalu teringat akan petuah bijak sang Bunda: keberanian, usaha keras, dan doa yang tulus adalah kunci untuk meraih kesuksesan sejati.
Di serambi rumah yang sama, tempat mereka dulu sering bercengkerama, kini mereka kembali duduk bersama sang Bunda yang telah menua dengan anggun. Syabila berkata dengan senyum haru, “Bu, petuahmu adalah warisan paling berharga yang pernah kami terima.”
Mata sang Bunda berkaca-kaca, dibalut rasa bahagia yang tak terlukiskan. “Dan melihat kalian tumbuh menjadi perempuan yang kuat, mandiri, dan berhati mulia adalah kebahagiaan terbesar bagi Ibu.”
Langit senja yang kian temaram menjadi saksi bisu cinta yang abadi antara seorang ibu dan kedua putrinya, cinta yang terjalin erat oleh untaian petuah bijak yang tak lekang oleh waktu. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












