
Pertemuan Tebuireng dihadiri para kiai sepuh Nahdlatul Ulama. Memilih menyelesaikan masalah dengan mengenali asal usul nilai dan marwah organisasi.
Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran
Tagar.co – Para kiai sepuh berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Sabtu, 6 Desember 2025.
Ada tokoh senior seperti KH Said Aqil Sirodj, KH Anwar Mansyur dari Pesantren Lirboyo, dan KH Nurul Huda Djazuli dari Pesantren Al-Falah Ploso.
Pertemuan ini menjadi titik penentu yang didambakan semua warga NU.
Inilah saat penjaga marwah NU turun tangan untuk menjaga agar organisasi tidak tergelincir terlalu jauh.
Konflik yang memecah elite PBNU tidak bisa dibaca semata sebagai perebutan kursi. Yang dipertaruhkan kredibilitas, mekanisme organisasi, dan masa depan otoritas moral NU.
Ketika Syuriah PBNU memutuskan bahwa Yahya Cholil Staquf diberhentikan sebagai ketua umum, ada yang menyuarakan keberatan. Dinilai menyalahi prosedur AD/ART. Pemberhentian tanpa dialog klarifikasi lebih dahulu. Maka muncul beragam kecurigaan dan spekulasi.
Yahya Cholil Staquf datang ke Tebuireng membawa dokumen. Ia menjelaskan langsung di hadapan para kiai sepuh dan mustasyar.
Sikap itu mengirimkan pesan bahwa dia membuktikan dengan data. Dalam situasi yang penuh kecurigaan, membawa bukti fisik seperti itu jauh lebih kuat daripada seribu klarifikasi.
Pemilihan tempat Tebuireng menjadi simbol kembali ke asal usul. Di tempat ini sejarah NU berakar. Di sanalah banyak keputusan besar pernah ditimbang dengan kepala dingin.
Pertemuan lima jam berlangsung tertutup. Tidak ada pernyataan publik tentang siapa yang menang atau kalah.
Sikap resmi yang disampaikan: pentingnya dialog terbuka, transparansi, soal keuangan, dan tata kelola organisasi.
Meski terlihat sederhana, sikap itu mengandung makna besar. Kiai sepuh tampak tidak ingin konflik ini meledak menjadi perpecahan terbuka. Mereka juga menolak persoalan ini disapu di bawah karpet.
Dalam tradisi NU, diam bukan berarti abai. Diam bisa berarti merajut kembali akar yang mulai retak, agar keputusan nanti tidak lahir dari emosi, melainkan dari pertimbangan yang matang.
Inti dari pertemuan Tebuireng sejatinya: NU sedang menimbang ulang dirinya sendiri. Apakah organisasi ini masih berjalan sesuai semangat para pendiri, dengan musyawarah yang jujur, adil, dan bermartabat.
Atau mulai terseret dalam arus politik yang lebih gaduh daripada bermakna dan menguntungkan.
Kalau dokumen yang dibawa Yahya Cholil Staquf memang kuat, maka tuduhan Syuriah terhadapnya harus dijelaskan secara terbuka.
Kalau tuduhan itu benar secara fakta, maka PBNU harus siap mempertanggungjawabkannya secara transparan. Tanpa langkah itu, luka organisasi hanya akan makin dalam.
Pertemuan Tebuireng sudah memberi panggung untuk mempertemukan kebenaran dan kewarasan.
Bukan untuk menjatuhkan seseorang secara emosional, melainkan untuk mengembalikan arah organisasi agar tidak kehilangan marwah.
Para kiai sepuh jelas memahami bahwa keutuhan NU jauh lebih penting daripada ambisi siapa pun.
Jemaah Nahdliyin menunggu hasilnya. Satu hal sudah tampak sejak pertemuan itu: NU akan tetap kuat jika kembali ke akar nilai dasarnya.
Menyelesaikan persoalan tidak dengan suara paling keras, tetapi dengan bukti yang jujur dan kebijaksanaan yang bening.
Pertemuan Tebuireng bukan akhir dari polemik. Namun langkah awal untuk mengembalikan kejernihan dalam tubuh NU.
Waktu kelak menunjukkan siapa yang berdiri pada kebenaran ketika semuanya terang. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












