
Masjid bukan hanya untuk orang tua. Di era digital, pemuda adalah energi baru untuk memakmurkan rumah Allah. Ini strategi dan perannya.
Oleh Ridwan Manan; Pengajar Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo, , Ketua Takmir Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran Sidoarjo
Tagar.co – Ketika Rasulullah Saw. hijrah dan tiba di Madinah, yang pertama kali beliau bangun adalah masjid — sebagai tempat mempersatukan kaum Muhajirin dan Ansar, membangun kekuatan, serta meletakkan dasar peradaban. Masjid di zaman Rasulullah memiliki peranan penting dan luas dalam membangun peradaban, karena bukan hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat dakwah, pendidikan, kegiatan sosial, kepemimpinan, dan tempat memecahkan problematika umat.
Di era digital sekarang, masjid tetap memiliki potensi besar untuk menjadi pusat penyelesaian problem masyarakat. Namun, takmir (pengurus) harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman agar tidak ditinggalkan oleh jemaah. Salah satu problem yang kita hadapi saat ini adalah “masjid darurat remaja dan pemuda” —masjid yang minim partisipasi generasi muda.
Baca juga: Meski Baru Berdiri, Pemuda Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Sidoarjo Curi Perhatian
Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah: 18)
Ayat ini menjelaskan pentingnya peran orang-orang beriman dalam tata kelola masjid, baik dari aspek spiritual, sosial, maupun keberanian dalam menghadapi tantangan zaman. Tidak ada dikotomi: tua-muda, kaya-miskin, pejabat-rakyat — semua berhak memakmurkan masjid, dengan syarat beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan salat, serta hanya takut kepada Allah.
Di masyarakat kita, justru sering terjadi paradoks: menjadi takmir masjid — padahal sebuah amal istimewa — sering dianggap sebagai pekerjaannya orang-orang pengangguran. Akibatnya, memakmurkan masjid tidak menjadi prioritas; pengurus takmir bekerja sekadarnya, dan masjid jarang penuh kecuali pada salat Magrib.
Jemaah yang hadir kebanyakan orang tua dan anak-anak yang masih berlarian ke sana kemari. Sementara para remaja dan pemuda lebih memilih berkumpul di warung kopi atau kafe. Mereka yang berduit memilih kafe sebagai tempat bersosialisasi, sedangkan yang pas-pasan nongkrong di warung kopi. Halaman parkir kafe nyaris tidak pernah sepi, padahal jumlah remaja dan pemuda Islam di sekitar masjid bisa puluhan bahkan ratusan.
Takmir perlu strategi dan inovasi agar para pemuda tertarik memakmurkan masjid. Rasulullah Saw. bersabda:
“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan pada hari kiamat, salah satunya adalah pemuda yang hatinya selalu terpaut pada masjid.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Peran Pemuda dalam Ketakmiran
Mengapa pemuda perlu dilibatkan dalam kepengurusan takmir masjid, khususnya di era digital?
-
Kemampuan teknologi
Pemuda lebih mahir dalam menggunakan teknologi digital, sehingga dapat membantu takmir mengembangkan kegiatan online dan meningkatkan efisiensi pengelolaan masjid. -
Kreativitas dan inovasi
Pemuda memiliki ide-ide segar dan kreatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, yang dapat membantu merancang program-program menarik di masjid. -
Jaringan dan koneksi
Pemuda memiliki jejaring yang luas di media sosial, sehingga dapat membantu meningkatkan kesadaran publik dan partisipasi masyarakat terhadap kegiatan masjid. -
Energi dan semangat
Pemuda memiliki energi dan semangat yang melimpah, sangat berguna untuk menggerakkan kegiatan dan program-program berdampak positif di masjid. -
Membangun masa depan
Melibatkan pemuda dalam kepengurusan takmir adalah investasi untuk membangun masa depan masjid yang lebih baik dan berkelanjutan.
Singkatnya, melibatkan pemuda dalam ketakmiran masjid di era digital akan membantu meningkatkan efektivitas, kreativitas, dan relevansi kegiatan masjid dalam menjawab tantangan zaman. Ini bukan hanya tentang memakmurkan fisik masjid, tetapi juga memakmurkan hati generasi muda agar tetap terpaut kepada rumah Allah. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












