Opini

Pendidikan Kunci Kemajuan Bangsa dan Kesejahteraan Dunia-Akhirat

37
×

Pendidikan Kunci Kemajuan Bangsa dan Kesejahteraan Dunia-Akhirat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Pendidikan tak sekadar mencetak lulusan, tapi membentuk insan berilmu dan berakhlak. Islam menegaskan pentingnya ilmu sebagai kunci kemajuan bangsa dan kesejahteraan dunia-akhirat.

Oleh Ridwan Manan Anggota Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo. Pengajar Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo, Jawa Timur.

Tagar.co – Kemajuan peradaban suatu bangsa ditentukan oleh pendidikan warganya. Jika pendidikan suatu bangsa maju, hal itu akan menentukan kemajuan bangsa tersebut. Islam menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Wahyu pertama yang diturunkan Allah terdapat dalam surat Al-‘Alaq 1–5:

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!

خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ

Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.

ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ

Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia.

ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ

Yang mengajar (manusia) dengan pena.

عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Wahyu yang pertama ini memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk membaca, bukan sekadar membaca buku, tetapi juga membaca alam sekitar dan meningkatkan pemahaman ilmu pengetahuan untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta.

Baca Juga:  Tobat Seorang Wanita Pezina

Ayat ini sangat menekankan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu, manusia dapat memahami kebenaran, menjalankan perintah Allah, dan memberikan manfaat bagi sesama umat manusia. Pendidikan yang diharapkan oleh Allah bukan hanya berorientasi pada materi dunia saja, tetapi lebih berorientasi pada akhirat. Firman Allah yang lain dalam At-Taubah 122:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”

Baca juga: Mendidik Anak Tangguh lewat Budaya Membaca dan Kecerdasan Adversitas

Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan ayat ini dalam Tafsir Al-Wasith, bahwa ayat ini tidak mewajibkan jihad bagi seluruh orang yang beriman dalam kondisi stabil. Akan tetapi, orang-orang yang beriman wajib mencari ilmu karena jihad bersandar pada ilmu, dan penyebaran Islam pada dasarnya bergantung pada penjelasan serta argumentasi yang meyakinkan. Oleh karena itu, ada pembagian tugas: sebagian orang beriman memfokuskan diri mendalami ilmu.

Baca Juga:  Takmir Masjid Ar-Royyan Buduran Menggelar Upgrading dan Rihlah Bersama Keluarga

Kekuatan yang dibutuhkan umat Islam tidak hanya kekuatan militer untuk menjaga bangsa dari musuh, tetapi juga kekuatan ilmu pengetahuan untuk menjaga peradaban bangsa. Allah mengingatkan agar sebagian umat Islam belajar ilmu bersama Rasulullah Saw. Dalam situasi perang pun, para penuntut ilmu sangat diperlukan untuk menuntun dan mengangkat derajat manusia dengan ilmu.

Tawanan Perang Badar diperintahkan Rasulullah untuk mengajar membaca dan menulis kepada penduduk Madinah. Setiap satu tawanan Badar mengajar sepuluh warga Madinah sebagai tebusan. Padahal saat itu diperlukan harta untuk memperluas dakwah Islam, tetapi Rasulullah memilih agar mereka mengajarkan membaca dan menulis daripada membayar harta sebagai tebusan.

Rasulullah memerintahkan menuntut ilmu bagi setiap Muslim:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (H.R. Ibnu Majah)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, bab Ilmu, menjelaskan bahwa ilmu adalah perkara yang paling utama. Maka, belajar ilmu adalah mencari sesuatu yang paling utama dan mengajar ilmu adalah memberi manfaat yang paling utama.

Baca Juga:  Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Momentum Muhasabah dan Istigfar: Naskah Khotbah

Pendidikan Bermutu

Pendidikan yang unggul menjadikan manusia seutuhnya: cerdas akal dan hati, berakhlak karimah, serta taat dalam ibadah.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 28)

Tujuan pendidikan sebagaimana disampaikan oleh Mendikdasmen Prof. Abdul Mu’ti pada pidato Hari Pendidikan Nasional 2025:

“Pendidikan adalah proses membangun kepribadian yang utama, akhlak mulia, dan peradaban bangsa. Secara individual, pendidikan adalah proses menumbuhkembangkan fitrah manusia sebagai makhluk pendidikan (homo educandum) yang dengannya manusia menguasai ilmu pengetahuan, memiliki keterampilan, dan berbagai kecerdasan yang memungkinkan mereka meraih kesejahteraan dan kebahagiaan material dan spiritual.” (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Detak jantung tidak pernah berhenti bekerja—tetapi kita sering…