Feature

Pembebasan Suriah Jadi Bahasan di Pengajian Ini

29
×

Pembebasan Suriah Jadi Bahasan di Pengajian Ini

Sebarkan artikel ini
Pembebasan Suriah dari Dinasti Assad menjadi harapan kaum muslim menjadi pintu masuk pembebasan Palestina dari penjajahan Israel.
Pengajian Ahad Pagi PCM Lakarsantri di MI Muhammadiyah 28 Bangkingan Surabaya. (Tagar.co/Sugeng Purwanto)

Pembebasan Suriah dari Dinasti Assad menjadi harapan kaum muslim menjadi pintu masuk pembebasan Palestina dari penjajahan Israel.

Tagar.co – Pembebasan Suriah oleh pejuang Haiat Tahrir Al-Sham (HTS) menjadi bahasan Pengajian Ahad Pagi PCM Lakarsantri di MI Muhammadiyah 28 Jln. Bangkingan Surabaya, Ahad (15/12/2024).

Hadir sebagai pembicara Ustadz Carlos Abu Hamzah Prawirosastro M.Pd.I, dosen agama Islam Universitas Hang Tuah Surabaya.

Carlos Abu Hamzah mengatakan, sekarang ini pembebasan Suriah menjadi perbincangan ketika kelompok pejuang pimpinan Abu Muhammad Al-Jolani menang perang dan menggulingkan Presiden Bashar Assad.

”Orang menghubungkan pembebasan Suriah dengan pembebasan Palestina. Sebab Suriah merupakan pintu masuk ke Yerusalem Palestina. Jaraknya amat dekat, hanya empat jam perjalanan,” katanya sambil menayangkan peta Suriah – Palestina di layar LCD.

Orang pun, sambung dia, mengaitkan kemenangan perang Suriah ini dengan tanda-tanda yang disebutkan dalam hadis misal menyebut tentang kedatangan Isa bin Maryam yang turun di menara putih timur Damaskus. Damaskus ibukota Suriah.

Lantas dia menyebutkan hadis riwayat Muslim yang menjelaskan, dari An-Nawwas bin Sam’an berkata, pada suatu pagi, Rasulullah shallallahu alaihi wa salam menyebut Dajjal. Nabi melirihkan suara dan mengeraskannya hingga kami mengiranya berada di sekelompok pohon kurma. …

Baca Juga:  Tiga Golongan Manusia, Khotbah Idulfitri di PCM Lakarsantri

فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِىَّ دِمَشْقَ بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ وَاضِعًا كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ إِذَا طَأْطَأَ رَأَسَهُ قَطَرَ وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤِ فَلاَ يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيحَ نَفَسِهِ إِلاَّ مَاتَ وَنَفَسُهُ يَنْتَهِى حَيْثُ يَنْتَهِى طَرْفُهُ فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يَأْتِى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ قَوْمٌ قَدْ عَصَمَهُمُ اللَّهُ مِنْهُ فَيَمْسَحُ عَنْ وُجُوهِهِمْ وَيُحَدِّثُهُمْ بِدَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ

“Saat Dajjal seperti itu, tiba-tiba ‘Isa putra Maryam turun di sebelah timur Damaskus di menara putih dengan mengenakan dua baju (yang dicelup wars dan za’faran) seraya meletakkan kedua tangannya di atas sayap dua malaikat, bila ia menundukkan kepala, air pun menetas. Bila ia mengangkat kepala, air pun bercucuran seperti mutiara. Tidaklah orang kafir mencium bau dirinya melainkan ia akan mati. Sungguh bau nafasnya sejauh mata memandang. Isa mencari Dajjal hingga menemuinya di pintu Ludd lalu membunuhnya. Setelah itu Isa bin Maryam mendatangi suatu kaum yang dijaga oleh Allah dari Dajjal. Ia mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan tingkatan-tingkatan mereka di surga. (HR Muslim no. 2937)

Baca Juga:  Sumber Rezeki Banyak Jalan Meraihnya

”Apakah yang dimaksud menara putih itu menara Masjid Umayah di Damaskus yang warnanya putih,” ujarnya.

Namun di zaman Nabi Muhammad saw, masjid itu belum ada. Masjid itu dibangun ketika Umayah menjadi khalifah di Syam setelah mengalahkan Khalifah Ali bin Abu Thalib.

Ketika pejuang Haiat Tahrir Al-Sham (HTS) menang pada Ahad, 8 Desember 2024 lalu, mereka berkumpul dan salat di Masjid Umayah ini diimami oleh Abu Muhammad Al-Jolani.

Dia berharap, pembebasan Suriah itu berkelanjutan untuk pembebasan Palestina dari penjajahan Israel.

”Sebelum kedatangan orang Israel, negeri Palestina merupakan wilayah yang aman, hidup rukun penduduk Islam, Yahudi, dan Kristen,” katanya.

Ustadz Carlos Abu Hamzah

Setelah Perang Dunia Kedua, datang para pengungsi Yahudi ke Palestina yang kemudian malah menguasai dan menjajah bangsa Palestina sehingga menciptakan konflik hingga sekarang ini.

Dia menceritakan, Palestina di zaman Islam suasana damai dan toleran. Tapi ketika negeri itu dikuasai non muslim justru terjadi kekerasan.

”Sejarah mencatat Palestina dikuasai Romawi penduduknya menderita lalu dibebaskan oleh Umar bin Khattab, mereka hidup damai. Umar memberi kebebasan orang Kristen Ortodok dan Yahudi berdiam di negeri itu. Bahkan gerejanya tidak dihancurkan,” katanya.

Baca Juga:  Sumber Rezeki Banyak Jalan Meraihnya

Empat ratus tahun kemudian, sambung dia, Palestina direbut oleh pasukan salib terjadi pembunuhan massal penduduk muslim dan Yahudi.

Ketika Salehuddin Al-Ayubi berhasil mengusir tentara salib, kata dia, kedamaian kembali ditegakkan. Warga Kristen dan Yahudi diberi kebebasan.

”Jadi Islam itu agama toleran sesuai prinsip ajaran dan sejarahnya,” tandasnya.

Jurnalis Ichsan Mahyuddin Penyunting Sugeng Purwanto