Cerbung

Operasi Tumbal dan Perang Media Bayangan: Skandal Pinjol Seragam Cokelat

32
×

Operasi Tumbal dan Perang Media Bayangan: Skandal Pinjol Seragam Cokelat

Sebarkan artikel ini
Skandal Pinjol Seragam Cokelat: Operasi Tumbal dan Perang Media Bayangan (Ilustrasi AI)

Tiga pembocor skandal kini diburu, bukan hanya oleh aparat, tapi juga opini publik yang dimanipulasi. Di balik narasi pinjol, tersembunyi konspirasi besar yang mengancam tatanan, kebenaran, dan kepercayaan.

Skandal Pinjol Seragam Cokelat (Seri 16): Operasi Tumbal dan Perang Media Bayangan

Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Tuduhan publik dan perang informasi meledak bersamaan. Tiga tokoh pembocor skandal kini diburu bukan hanya oleh aparat, tapi juga oleh publik yang termakan narasi media bayangan. Ketika Della, Zikri, dan Ayu saling mencurigai, rahasia kelam dan persekongkolan raksasa perlahan terkuak. Tapi apakah semua ini bagian dari sandiwara yang lebih besar?

Pagi itu, lini masa Twitter seperti pasar terbakar. Kata “#PengkhianatPolri” memuncaki trending topic. Diikuti oleh “#OperasiLangit” dan “#PinjolDikawal”. Sebuah gelombang digital yang meluluhlantakkan narasi para whistleblower dalam semalam.

Baca seri selengkapnyaSkandal Pinjol Seragam Cokelat

Salah satu video viral menunjukkan rekaman CCTV palsu yang memperlihatkan Zikri duduk bersama direksi PT Arjuna Digital Solution di sebuah restoran mewah. Disertai narasi: “Inilah pertemuan mereka sebelum data bocor!”.

“Ini editan kasar,” gumam Ayu di warnet kecil Jalan Gejayan, tempatnya berlindung setelah namanya disebut media.

Rafli Harjo, jurnalis independen yang semula diandalkan, kini raib. Akun Telegram-nya sunyi, nomor selulernya tidak aktif. Bahkan jejak artikel-artikelnya mulai hilang satu per satu dari indeks pencarian.

Baca Juga:  Hijab atau Kafan: Aurat dan Pilihan Waktu

“Kita sedang dilibas sistem yang tak hanya punya senjata, tapi juga narasi,” ujar Ayu.

Di tempat persembunyian mereka di Sleman Barat, Zikri termenung. Della duduk menunduk, masih terguncang oleh kemunculan video pengakuannya sendiri di media sosial padahal rekaman itu seharusnya terkunci mati dalam server rahasia.

“Aku sudah jadi tumbal sejak lima tahun lalu,” gumam Della. “Kita semua mungkin cuma pion yang dimasukkan ke papan biar mereka bisa main catur sepuasnya.”

Zikri mendekatinya, tapi matanya menyipit: “Kau belum jujur, Dell. Video itu bukan hanya pengakuan. Ada bagian yang hilang bagian yang belum kau buka.”

Della menatap tajam. “Kau pikir aku satu-satunya yang menyembunyikan sesuatu? Kau terima 250 juta itu untuk apa, Zik?”

Zikri bungkam. Untuk pertama kalinya, ketegangan di antara mereka lebih menakutkan ketimbang aparat bersenjata.

Sementara itu, di gedung militer pensiunan, Bambang Anantawikrama tengah duduk tenang. Di hadapannya layar monitor memantau interaksi publik: grafik emosi netizen, intensitas sebaran hashtag, hingga kemungkinan arah opini massa.

“Kita buat mereka ragu pada satu sama lain,” ujarnya kepada seseorang di balik layar video call. “Kalau mereka saling curiga, kita tak perlu turun tangan. Mereka akan saling hancurkan.”

Suara di balik layar menjawab dingin: “Langkah selanjutnya?”

“Kita dorong kebocoran lebih besar. Tapi bukan tentang pinjol. Kita tunjukkan bahwa para pembocor adalah bagian dari kejahatan lebih gelap.”

Baca Juga:  Hukum Balasan dalam Kehidupan

“Hoax besar?”

“Lebih dari itu. Kita akan framing bahwa mereka bukan sekadar korup, tapi agen asing. Itu membuat opini tak akan bisa pulih.”

Sore itu, Ayu berhasil membobol satu server arsip milik perusahaan boneka yang diduga menyuplai dana untuk operasi kotor aparat. Ia menemukan satu nama yang menghubungkan semuanya: Yayasan Bhakti Manunggal Nusantara, sebuah entitas sosial yang menjadi kedok pendanaan jaringan pinjol, suap media, dan bahkan ormas premilitansi.

Lebih mencengangkan, Della ternyata pernah bekerja magang di yayasan itu pada 2018.

“Kau tahu soal ini?” bentak Ayu, memperlihatkan arsipnya.

Della bangkit. “Ya, aku pernah masuk ke sana. Tapi waktu itu aku cuma mahasiswa idealis yang pikir bisa bantu program sosial. Sampai akhirnya aku sadar mereka kumpulkan data masyarakat untuk dijual ke pinjol dan BPR bayangan!”

Zikri memejamkan mata. “Yayasan itu milik Bambang.”

Semuanya runtut. Tapi yang tak mereka tahu, saat itu Bambang sedang menyusun naskah besar berikutnya.

Dua hari kemudian, berita eksklusif dari kanal YouTube pro-pemerintah meledak:

“TERBONGKAR! Zikri dan Jaringan Pembocor Adalah Bagian dari Operasi Intelijen Asing Mereka Gunakan Isu Pinjol untuk Melemahkan Institusi.”

Wawancara khusus dengan mantan agen BIN (yang tak disebutkan namanya) memperkuat narasi: “Mereka disusupi. Buktinya jelas. Aliran dana dari luar negeri masuk ke akun Ayu lewat platform crowdfunding global.”

Baca Juga:  Waktu Mustajab Hari Jumat

Narasi ini menggila. Media TV menyorot “perang siber” sebagai bentuk sabotase terhadap kepercayaan publik. Pemerintah bersiap mengajukan UU baru: Undang-Undang Pertahanan Siber dan Informasi Nasional (UU PSIN). Pasal-pasalnya akan menghukum penyebar hoaks dengan pidana 20 tahun.

Dan di balik semua itu, ayat-ayat hukuman itu disusun oleh satu tim khusus… yang dipimpin Bambang.

Zikri, Della, dan Ayu tahu permainan sudah naik level. Ini bukan lagi tentang pinjol, tapi pertarungan kendali informasi. Mereka punya dua opsi: melarikan diri ke luar negeri, atau tetap bertarung dengan konsekuensi menjadi martir.

Mereka sepakat ke titik terakhir. Sebuah bunker data di Magelang, tempat Zikri menyimpan satu kunci: arsip video pertemuan rahasia antara para jenderal dan bos pinjol, termasuk Bambang sendiri.

“Kalau video itu keluar, tak akan bisa dikontrol siapa yang jatuh,” ujar Zikri.

Della menatapnya. “Termasuk kita?”

Zikri mengangguk.

Tapi saat mereka tiba di bunker…

Pintu besi sudah terbuka. Kode kunci telah berubah.

Dan di dalam ruangan itu, di layar komputer yang menyala, hanya satu kalimat yang terpampang:

“TERLAMBAT. SEMUA SUDAH DIPINDAHKAN.”

Dibawahnya tertulis:
“Akun @DAS_Ananta telah diretas. Selamat datang di babak baru.” (#)

Bersambung seri ke-17: “Rahasia Yayasan dan Penebus Dosa”

Penyunting Mohammad Nurfatoni