Opini

Nasib Jurusan Akuntansi dan Manajemen di Era AI

78
×

Nasib Jurusan Akuntansi dan Manajemen di Era AI

Sebarkan artikel ini
Juruan Akuntansi dan Manajemen adalah primadona. Tapi kini AI mengancamnya. Jika pendidikan tinggi tak segera berbenah, fakultas ekonomi bisa jadi museum.
Ulul Albab

Juruan Akuntansi dan Manajemen adalah primadona. Tapi kini AI mengancamnya. Jika pendidikan tinggi tak segera berbenah, fakultas ekonomi bisa jadi museum.

Oleh Ulul Albab; Mantan Rektor Unitomo Surabaya; Ketua ICMI Orwil Jawa Timur

Tagar.co – Di sebuah ruang kelas fakultas ekonomi yang dulu ramai dengan mahasiswa yang berburu gelar akuntan dan manajer, kini suasananya mulai berbeda.

Suara-suara pengantar kuliah yang biasanya membahas buku besar, neraca, dan teori manajemen klasik, perlahan bergeser menjadi diskusi tentang Python, analitik prediktif, dan otomatisasi audit. Dunia berubah, dan fakultas ekonomi kini ramai-ramai berbenah agar tetap relevan dan tidak ditinggalkan mahasiswanya.

Baca juga: Kampus di Era AI: Saatnya Menyatukan Teknologi dan Nurani

Begitulah yang terjadi hari ini. Kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi telah menjadi aktor utama yang mengubah wajah industri. Di kampus-kampus, para dosen mulai gelisah melihat tren penurunan peminat jurusan akuntansi dan manajemen: “Dulu kami selalu masuk lima besar jurusan favorit. Sekarang, mahasiswa lebih banyak memilih teknologi informasi atau desain digital.”

Narasi di atas memang rekaan penulis untuk menggambarkan serangan AI ke ranah fakultas ekonomi, sekaligus memprovokasi para penyelenggara pendidikan tinggi bidang akuntansi dan manajemen agar segera bertransformasi.

Maafkan penulis jika ilustrasinya terkesan berlebihan atau bahkan “menakutkan”. Namun, sebagian ilustrasi tersebut benar-benar mulai terjadi di sejumlah kampus. Dan itu penulis susun dari diskusi mendalam dengan rekan-rekan pengelola fakultas ekonomi.

Baca Juga:  Kampus Bukan Pabrik Tenaga Kerja

Ketika Mesin Mengambil Alih

Di dunia akuntansi, perangkat lunak seperti Xero, QuickBooks, dan SAP telah mengambil alih berbagai pekerjaan dasar: mencatat transaksi, menyusun laporan, hingga melakukan audit secara otomatis. Bahkan lebih cepat dan lebih teliti daripada manusia. Algoritma mampu mendeteksi anomali yang sering terlewat oleh mata manusia.

Di dunia manajemen, peran manajer juga mulai direduksi oleh mesin. Keputusan berbasis intuisi kini digantikan oleh predictive analytics dan AI-powered decision systems. Bahkan dalam manajemen pelanggan, chatbot sudah menjadi garda terdepan komunikasi. Mesin berbicara, manusia mendengarkan. Di sini nyaris tak ada ruang bagi peran manusia—semuanya diambil alih mesin.

Nah, sekarang kita perlu menjawab satu pertanyaan sederhana tetapi tajam: jika semua bisa dilakukan mesin, lalu apa yang tersisa untuk manusia? Jangan-jangan benar bahwa ke depan akan semakin banyak industri yang melakukan PHK massal karena telah menerapkan teknologi AI. Bahkan saat ini pun kita sudah sering membaca kasus PHK di mana-mana, meski kita belum punya data valid bahwa itu semata-mata dampak negatif AI.

Manusia: Dari Operator ke Dirigen

Jawaban atas pertanyaan “tajam” tadi sebetulnya bukan terletak pada teknologi AI, melainkan pada nilai tambah manusia. Artinya, ke depan, lulusan fakultas ekonomi—khususnya akuntansi dan manajemen—harus dipoles sedemikian rupa agar memiliki kemampuan dan nilai tambah yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya.

Baca Juga:  Nisfu Syakban dan Seni Berdamai dengan Diri

AI memang bisa memproses data, tetapi AI tidak memiliki nurani. AI bisa menyusun laporan, tetapi tidak mampu menangkap makna di balik angka. Inilah celah yang tak bisa digantikan—dan inilah peluang yang harus segera dimanfaatkan oleh penyelenggara pendidikan tinggi.

Seorang akuntan masa depan tidak cukup hanya paham debit dan kredit. Mereka harus mampu membaca risiko, memahami konteks hukum, hingga tampil sebagai penasihat strategis. Begitu pula lulusan manajemen.

Teknologi memang bisa memberi data, tetapi tidak bisa memberi arah. Hanya manusia yang mampu menghadirkan empati, kepemimpinan, dan intuisi—semua itu kunci dalam mengelola ketidakpastian bisnis, dan hanya bisa dilakukan oleh manusia yang cerdas, bukan oleh mesin.

Pendidikan Tinggi: Terlambat atau Bersiap?

Masalahnya, kampus-kampus kita sering kali terlalu lambat berubah. Terlalu asyik dan nyaman berada di zona aman. Hehehe. Kurikulum masih berkutat pada teori klasik, padahal dunia luar sudah bicara machine learning dan cloud-based accounting. Mahasiswa masih dibekali rumus, tetapi gagap menghadapi dashboard interaktif.

Kalau ingin berubah, penulis mencatat setidaknya ada tiga hal mendesak yang harus dilakukan. Pertama, redesain kurikulum. Kampus harus mulai mengajarkan mata kuliah seperti Audit Digital, Analitik Data, dan Strategi Inovasi Berbasis AI.

Baca Juga:  Korupsi, Pengangguran, dan Kejahatan: Lingkaran Setan yang Dipelihara Kekuasaan

Kedua, kolaborasi lintas disiplin. Mahasiswa manajemen harus paham teknologi, mahasiswa akuntansi harus belajar berpikir strategis dan etis. Ketiga, kontekstualisasi pembelajaran. Proyek nyata, magang di startup, dan studi kasus transformasi digital harus menjadi bagian dari kurikulum.

Dan satu hal yang sering diabaikan: nilai etika. Di tengah kekuatan algoritma, manusia harus tetap menjadi penjaga dan pengendali moral. Jangan sampai semua keputusan diserahkan mentah-mentah pada keluaran AI. Ini hanya bisa dijamin kalau faktor manusianya dipersiapkan dengan baik sebagai pengawal nilai-nilai etika.

AI Tidak Membunuh, tapi Menggeser

Sejarah mencatat, mesin uap tidak membunuh tukang kayu, tetapi mereka yang menolak belajar mengoperasikan gergaji mesin pasti tergilas. Demikian pula AI. Ia tidak membunuh profesi, tetapi ia membunuh rutinitas. Kata kuncinya: kalau ingin bertahan, maka harus berevolusi. Kapan? Mestinya sejak kemarin. Hehehe.

Jika pendidikan tinggi tak segera berbenah, fakultas ekonomi bisa jadi museum. Namun, kalau berani melompat ke masa depan, fakultas ekonomi justru bisa menjadi laboratorium transformatif untuk menyiapkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga relevan dan bijaksana.

Sebab pada akhirnya, bicara AI bukan tentang siapa yang tercepat, tetapi siapa yang paling siap menjadikannya alat untuk melayani manusia—bukan menggantikannya.

Tentu saja, pilihan ada di tangan Anda. He-he-he. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni