Feature

Kampus di Era AI: Saatnya Menyatukan Teknologi dan Nurani

32
×

Kampus di Era AI: Saatnya Menyatukan Teknologi dan Nurani

Sebarkan artikel ini
Ulul Albab

Teknologi tanpa nilai adalah senjata tanpa kendali. Teknologi dengan nilai bisa menjadi cahaya bagi peradaban.

Oleh Ulul Albab; Ketua ICMI Orwil Jawa Timur; Akademisi Unitomo Surabaya

Tagar.co – Tulisan ini dipersembahkan sebagai bahan refleksi bagi para penyelenggara pendidikan, khususnya di jenjang pendidikan tinggi, agar senantiasa menyesuaikan visi, kurikulum, dan layanan pendidikan mereka dengan perubahan besar yang dibawa oleh revolusi kecerdasan buatan (AI).

Revolusi AI tidak hanya menghadirkan mesin yang cerdas, tetapi juga menantang peran manusia di dunia kerja, pendidikan, bahkan dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Jika tidak diantisipasi dengan pendekatan yang tepat, pendidikan tinggi berisiko kehilangan relevansi.

Baca juga: Masa Depan Kampus di Era AI: Menyesuaikan atau Tertinggal?

Pertanyaannya bukan lagi sekadar: Apa yang akan kita ajarkan kepada mahasiswa? Melainkan: Bagaimana kita mendidik manusia agar mampu bekerja sama dengan teknologi tanpa kehilangan nurani?

Kecerdasan buatan telah merambah hampir setiap aspek kehidupan: pendidikan, industri, ekonomi, hingga layanan publik. Namun, di tengah euforia atas kecanggihannya, kita perlu mengajukan satu pertanyaan penting: Mampukah manusia tetap menjadi subjek utama dari semua inovasi ini, atau justru terpinggirkan menjadi “objek penderita”?

Data UNCTAD mencatat bahwa nilai pasar global AI akan melonjak drastis dari Rp 3 triliun pada 2023 menjadi Rp 79 triliun pada 2033. Artinya, kebutuhan dan penggunaan AI terus meningkat tajam. Jika pertumbuhan ini tidak diimbangi dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan, maka jangan heran jika suatu saat manusia justru disingkirkan oleh teknologi yang diciptakannya sendiri.

Baca Juga:  Uzbekistan dan Kebangkitan Jalur Sutra Baru dalam Diplomasi Wisata Islam

Apa yang Harus Dilakukan Perguruan Tinggi

Ohio State University, misalnya, telah mewajibkan seluruh mahasiswanya mengikuti pelatihan etika AI di bidang masing-masing. Ini menjadi contoh bagaimana kemampuan teknologi harus dibarengi pemahaman mendalam tentang dampaknya. Inilah wujud responsivitas pendidikan tinggi dalam menyambut kehadiran AI.

Perkembangan AI harus diantisipasi dan dikembangkan bukan hanya sebagai teknologi canggih, tetapi sebagai teknologi yang memiliki nurani. Pendidikan tinggi perlu menyelaraskan pemanfaatan AI dengan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi pokok ajar setiap jurusan, sekaligus menyesuaikan kurikulum agar AI tetap berpihak pada manusia.

Konsep Human-Centered AI dan Value-Sensitive Design (VSD) patut diadopsi. Dua pendekatan ini menempatkan manusia sebagai pusat (subjek) dalam perkembangan AI—bukan data atau algoritma yang menentukan segalanya.

Menancapkan Nilai Itu Penting

Seiring pesatnya perkembangan AI, penanaman nilai menjadi keharusan. Mengapa? Tanpa nilai-nilai seperti keadilan, privasi, dan transparansi, teknologi mudah berubah menjadi alat dominasi. Konsep Embedded Ethics dalam rekayasa perangkat lunak kini dikembangkan agar setiap tahap desain teknologi melibatkan refleksi moral.

Baca Juga:  Viral WNI Berjilbab Jadi Tentara Amerika, Fenomena Apa?

Riset Abu Rayhan (2023) menunjukkan bahwa integrasi nilai kemanusiaan ke dalam AI meningkatkan kepercayaan publik dan menurunkan risiko bias algoritmik. Lembaga internasional seperti IEEE dan ISO pun telah merumuskan standar desain etis untuk teknologi.

Kurikulum Baru untuk Era Baru

Literasi teknologi saja tidak lagi cukup. Kita memerlukan literasi etis dalam berteknologi. Oleh karena itu, pendidikan tinggi dan sekolah perlu merancang kurikulum yang menggabungkan kecerdasan digital dengan kebijaksanaan insani serta nilai-nilai kemanusiaan, termasuk nilai keagamaan.

Sal Khan, pendiri Khan Academy, menegaskan bahwa pendidikan berbasis AI bisa menjadi kekuatan luar biasa jika dipakai untuk memanusiakan pembelajaran. Namun tanpa pijakan nilai, AI justru bisa memperlebar jurang sosial.

Kehadiran AI memang tidak dapat ditolak—justru kita membutuhkannya. Namun yang kita perlukan bukanlah Artificial Intelligence yang tanpa nilai, melainkan Artificial Wisdom—AI yang bijaksana. Kabar baiknya, fase pengembangan AI saat ini mulai bergerak ke arah itu: bukan hanya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengapa hal itu penting demi kebaikan bersama.

Baca Juga:  ICMI Jatim Desak Pemerintah Terbuka soal Mandat Indonesia di Board of Peace

Penutup

Di era AI, tantangan terbesar bukanlah sekadar menciptakan teknologi yang cerdas, tetapi membangun teknologi yang memanusiakan. Inilah saatnya menjadikan nilai sebagai perangkat lunak utama dari setiap inovasi. Dengan menyatukan teknologi dan kemanusiaan, kita tidak hanya menciptakan masa depan yang lebih canggih, tetapi juga lebih beradab.

Karena itu, para pengelola pendidikan tinggi tak lagi bisa merasa aman dengan kurikulum dan jurusan yang ada. Kini saatnya mereka bekerja lebih keras dan berpikir lebih cerdas demi menjawab tantangan zaman yang kian kompleks dan keras. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni