Opini

Modeling dan Mentoring: Strategi Mengkloning Kesuksesan Tokoh Dakwah

34
×

Modeling dan Mentoring: Strategi Mengkloning Kesuksesan Tokoh Dakwah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Kesuksesan dakwah tidak lahir seketika, melainkan dari proses panjang, keteladanan, dan bimbingan. Konsep modeling dan mentoring menawarkan cara efektif mewariskan nilai-nilai tokoh dakwah, dari kesabaran Nabi Nuh, visi Rasulullah, hingga pembaruan K.H. Ahmad Dahlan.

Oleh Kemas Adil Mastjik; Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kader Ulama Dewan Dakwah Jatim.

Tagar.co – Dalam dunia dakwah, banyak tokoh yang telah menorehkan jejak emas. Mereka sukses bukan hanya karena kemampuan pribadi, tetapi juga karena adanya proses pembelajaran yang panjang, konsistensi, dan keteladanan.

Salah satu cara paling efektif untuk melanjutkan estafet perjuangan dakwah adalah dengan modeling (mencontoh) dan mentoring (dibimbing langsung).

Konsep Modeling

Modeling berarti meniru pola, sikap, dan strategi yang ditunjukkan oleh seorang tokoh atau guru. Dalam psikologi, teori ini sangat erat dengan Social Learning Theory Albert Bandura (1977): teori belajar sosial—manusia belajar melalui observasi, imitasi, dan modeling.

Seorang calon dai dapat meniru cara komunikasi Buya Hamka yang lembut namun tegas. Buya Hamka mengemukakan urgensi komunikasi dakwah Islam dalam proses pembinaan, memberikan solusi, serta mewujudkan kerukunan antarumat beragama, mengingat banyaknya masalah atau konflik yang sedang dihadapi umat.

Idealnya seorang dai ketika berdakwah harus menerapkan prinsip-prinsip dakwah Islam agar tercapai efektivitas. Namun, realitasnya masih ada dai yang belum menerapkan prinsip-prinsip tersebut sehingga efektivitas dakwah belum tercapai.

Atau belajar kesabaran dan konsistensi dakwah dari Nabi Nuh alaihisalam.
Nabi Nuh adalah salah satu rasul ulul azmi yang kisah dakwahnya diabadikan dalam Al-Qur’an. Allah mengutus beliau kepada kaumnya yang tenggelam dalam kemusyrikan, penyembahan berhala, serta kemaksiatan.

Baca Juga:  Warga Rewwin Sambut Ramadan dengan Tarhib Bernuansa Olahraga

Beliau berdakwah bukan sebentar, melainkan 950 tahun. Meski hanya sedikit yang beriman, Nabi Nuh tetap sabar dan konsisten dalam perjuangan. Dari kisah ini terdapat pelajaran berharga bagi setiap dai sepanjang zaman.

Seperti firman Allah Swt.:

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًاۗ فَاَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan zalim. (Al-‘Ankabut 14)

Nabi Nuh mengajak kaumnya siang dan malam, dengan cara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi (Nuh: 5–9). Namun, yang didapat justru penolakan, cemoohan, bahkan ancaman.

Meski demikian, beliau tidak pernah berhenti. Seorang dai perlu meneladani kesabaran ini: dakwah bukan tentang hasil instan, melainkan keteguhan dalam menyeru kebenaran.

Allah Swt. berfirman:

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلًا وَّنَهَارًاۙ

Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam.” (Nuh: 5)

وَاِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْٓا اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوْا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًاۚ

Sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari ke telinga dan menutupkan bajunya. Mereka pun tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (Nuh: 7)

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ

Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.” (Nuh: 10)

Baca Juga:  NKRI Harga Mati, Teringat Fikih Dakwah dan Mosi Integral Natsir

Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah sering mengisahkan teladan para nabi sebagai model.

Allah Swt. berfirman:

اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰٮهُمُ اقْتَدِهْ ۗ قُلْ لَّاۤ اَسْـئَلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا ۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْعٰلَمِيْنَ

Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an).” Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh alam. (Al-An’am: 90)

Konsep Mentoring

Mentoring lebih dari sekadar meniru. Ia adalah hubungan pembimbingan langsung antara guru dan murid, senior dan junior. Rasulullah ﷺ sendiri membentuk para sahabat dengan sistem mentoring: mengajarkan, membimbing, lalu melepas mereka menjadi pendakwah di berbagai wilayah.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (H.R. Bukhari)

Ini adalah inti mentoring: belajar, lalu membimbing yang lain.
Dalam tradisi Islam, mentoring terlihat pada hubungan syekh–murid dalam tasawuf, atau guru–santri dalam pesantren.

John C. Maxwell berpendapat: “A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.”

Artinya, seorang pemimpin sejati adalah orang yang mengetahui arah tujuan (memiliki visi), menjalani perjalanan itu (berani bertindak dan mewujudkan visi), serta membimbing orang lain untuk melakukan hal yang sama (menunjukkan jalan dan memberikan teladan). Hal ini sejalan dengan konsep mentoring.

Mengkloning Kesuksesan Dakwah

Istilah kloning di sini bukan berarti menyalin persis, melainkan mereplikasi prinsip-prinsip sukses dari tokoh dakwah ke dalam konteks yang baru. Misalnya:

Baca Juga:  Pengasuhan Positif sebagai Jalan Ketahanan Bangsa

1. Rasulullah ﷺ: fokus membangun kualitas akhlak—dapat dicontoh dengan menekankan etika dakwah di era digital.

Dalam dunia digital seperti media sosial dan internet, akhlak mulia sangat diperlukan agar umat Islam tidak terjerumus dalam perilaku negatif seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan perilaku tidak terpuji lainnya.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (H.R. Ahmad)

2. M. Natsir: cerdas menggabungkan dakwah dengan perjuangan politik—ditiru dengan membangun kesadaran politik umat yang sehat.

Beliau menggunakan tiga strategi: bilhal (perbuatan, seperti pembinaan umat melalui DDII dan mosi integral), bilkalam (tulisan, seperti buku dan artikel dakwah), dan bilisan (perkataan, melalui pidato dan ceramah kenegaraan).

Ia mengintegrasikan prinsip-prinsip Islam ke dalam sistem demokrasi, memperjuangkan kepentingan umat Islam di parlemen dan pemerintahan, serta mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).

3. K.H. Ahmad Dahlan: mendirikan pendidikan modern—dapat ditiru dengan pengembangan sekolah berbasis Islam kontemporer.

Beliau memadukan sistem pendidikan tradisional Islam dengan metode pendidikan Barat, menggabungkan ilmu agama dengan pengetahuan umum seperti matematika, ilmu bumi, dan bahasa, serta membentuk Muhammadiyah untuk menaungi lembaga pendidikan ini agar berkelanjutan.

Peter Senge (1992) dalam The Fifth Discipline menjelaskan bahwa pembelajaran organisasi efektif terjadi lewat shared vision dan personal mastery, yang diperoleh lewat teladan. Konsep ini meliputi penguasaan pribadi, visi bersama, model mental, berpikir sistem, dan pembelajaran kelompok. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni