
Dalam kunjungannya ke PCIM Malaysia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti mengingatkan diaspora Muhammadiyah untuk selalu merasa di rumah di bumi Allah. Merantau sejauh mana pun, iman dan akhlak mulia harus tetap tertanam di hati.
Tagar.co — Malam itu, Senin 17 Juni 2025, suasana Rumah HAMKA Malaysia
Jalan Berjaya 4, Taman Berjaya, 68100 Batu Caves, Selangor—Kantor Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia—terasa hangat meski Kuala Lumpur sudah larut malam.
Di hadapan anggota PCIM dan Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA)—-sebagian para Pekerja Migran (PMI) Indonesia—Abdul Mu’ti hadir membawa pesan sederhana yang menenangkan: merantaulah, tetapi jangan pernah merasa asing di bumi Allah.
Baca juga: Lima Tahun Rindu Terbayar, Ketua Umum PP Muhammadiyah Kunjungi PCIM Malaysia
“Kita semua diberikan tuntunan dari Allah untuk selalu siap menjelajah dunia. Dan di mana pun kita berada, kita harus istikamah dengan iman dan Islam kita,” ucap Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu dalam tausiahnya, dengan suara lembut namun penuh penekanan.
Ia kemudian membacakan Surah Al-Mulk ayat 15:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu kembali setelah dibangkitkan.”
Baginya, ayat ini bukan sekadar dorongan untuk menjadi diapora, tetapi juga pengingat bahwa setiap langkah merantau harus selalu tertambat pada tali iman.
“Malaysia ini adalah bumi Allah. Bapak-Ibu datang ke sini untuk mencari rezeki, dan Alhamdulillah, Allah membentangkan pintu rezeki di sini untuk kita semua,” katanya.
Baca juga: Di Kuala Lumpur: Abdul Mu’ti Motivasi Ratusan Murid SIKL dengan Tiga Kunci Sukses
Mu’ti mengakui, secara kewarganegaraan, orang Indonesia di Malaysia disebut sebagai ‘asing’. Namun, ia menegaskan, di hadapan Allah tidak ada istilah orang asing. Setiap insan berhak mendapatkan rezeki di bumi Allah selama mau berusaha dan tetap berada di jalan-Nya.
“Malaysia tempat kita bekerja, belajar, adalah rumah kita. Tempat di mana kita membangun hubungan sebaik-baiknya dengan siapa pun di negeri jiran ini,” lanjutnya, memancing anggukan para hadirin.
Mu’ti lalu mengingatkan, di mana pun merantau, umat Islam wajib merasa ‘feel at home’. Bukan hanya sekadar nyaman secara fisik, tetapi juga tenteram karena berpegang teguh pada hukum Allah.
Dia lalu membacakan sabda Nabi Muhammad Saw.:
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْـحَسَنَةَ تَمْحُهَا ، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Jika engkau berbuat kejelekan, susullah dengan kebaikan yang dapat menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (H.R. Ahmad dan Tirmizi)

PCIM Terbaik
Dalam lesempatan tersebut sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI tersebut sempat memuji eksistensi PCIM Malaysia yang dinilainya luar biasa. Menurutnya, Cabang Muhammadiyah di Malaysia layak disebut sebagai salah satu yang terhebat di dunia, baik dibandingkan cabang di dalam negeri maupun di luar negeri lainnya.
“Kebanyakan cabang di tempat lain tidak memiliki kantor sendiri, tapi PCIM Malaysia punya kantor. Ini patut dicontoh,” ujarnya sambil tersenyum bangga.
Mendikdasmen juga mendorong agar PCIM Malaysia suatu hari mendirikan Sekolah Internasional Muhammadiyah—atau jika disingkat, SIM. Mu’ti menyebut, jika hal ini terwujud, akan menjadi kebanggaan diaspora Indonesia sekaligus sarana dakwah dan pendidikan bagi generasi Muslim di Malaysia. (#)
Jurnalis Sholikan Abdul Halim Penyunting Mohammad Nurfatoni












