Feature

Menjadikan Sekolah Muhammadiyah Rumah Kedua: LLSMS 2025 Dimulai dari Banyutengah

72
×

Menjadikan Sekolah Muhammadiyah Rumah Kedua: LLSMS 2025 Dimulai dari Banyutengah

Sebarkan artikel ini
M, Fadloli Aziz (kedua dari kiri) dan M. Nor Qomari (kanan) mengikuti Senam Anak Indonesia Hebat di Banyutengah (Tagar.co/Mardiyatul Faizun)

LLSMS 2025 bukan sekadar lomba kebersihan sekolah. Ia telah menjadi gerakan kultural yang menyatukan pendidikan, lingkungan, dan kepedulian sosial—menyemai karakter dari Banyutengah hingga Pulau Bawean.

Tagar.co Suara musik ceria menggema di halaman Kompleks Perguruan Muhammadiyah Banyutengah, Panceng, Gresik. Para siswa yang berseragam bergerak lincah mengikuti irama Senam Anak Indonesia Hebat.

Di barisan depan, tampak pimpinan sekolah dan guru. Tak kalah bersemangat: Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik, M. Fadloli Aziz, bersama Sekretaris MLH, M. Nor Qomari, mengangkat tangan dan mengayun badan serempak bersama para siswa.

Senin pagi, 21 Juli 2025 itu, Lomba Lingkungan Sekolah Muhammadiyah Sehat (LLSMS) Ke-3 resmi dimulai. Bukan dengan seremoni formal atau pidato panjang, melainkan melalui senam bersama yang mencerminkan semangat dasar gerakan ini: hidup sehat yang menyenangkan, kolaboratif, dan membahagiakan.

“Kita ingin anak-anak merasakan bahwa hidup sehat dimulai dari hal sederhana yang dilakukan bersama. Keceriaan ini adalah bagian dari pendidikan karakter,” ujar Aziz seusai kegiatan.

Banyutengah Jadi Titik Awal

Tiga sekolah Muhammadiyah di Banyutengah—MI Muhammadiyah 5, MTs Muhammadiyah 6, dan MA Muhammadiyah 2—menjadi lokasi perdana visitasi tim penilai. Hadir sebagai juri M. Fadloli Aziz dan M. Nor Qomari.

Visitasi bukan sekadar pemeriksaan teknis. Menurut Aziz, tim datang bukan hanya membawa formulir penilaian, tetapi juga semangat pembinaan. “Kami ingin menyapa dan mendengarkan. Karena perubahan yang kami harapkan tidak lahir dari kompetisi, tetapi dari kesadaran kolektif,” tegasnya.

Baca Juga:  Sekolah Muhammadiyah Gresik Bawa Pulang 21 Medali dari Olympicad Makassar
Sambutan Tim Penilai LLSMS diwakili oleh Sekretaris Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gresik, M. Nor Qomari, S.Si. (Tagar.co/Mardiyatul Faizun)

Empat Wajah Sekolah Sehat

Ketua Panitia LLSMS 2025, Drs. Mohammad Nurfatoni, menjelaskan bahwa kegiatan ini menilai sekolah berdasarkan empat kategori utama yang mencerminkan wajah ideal lingkungan belajar yang sehat dan manusiawi:

1. Sekolah Terbersih dan Ternyaman
Menilai kebersihan ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, toilet, dan halaman. Kenyamanan dilihat dari ventilasi, pencahayaan, dan kerapian. Pengelolaan sampah terpilah, alat kebersihan, jadwal piket siswa, dan edukasi kebersihan juga menjadi bagian penting.

2. Sekolah Terindang
Mengukur penghijauan sekolah melalui keberadaan taman, pohon pelindung, tanaman toga, dan keterlibatan siswa dalam perawatan. Ketersediaan tempat duduk, keran air, serta slogan edukatif turut dinilai.

3. Kantin Terhigienis
Mencakup kebersihan dapur dan ruang makan, alat makan, kelayakan makanan, dan perilaku penjamah. Dilengkapi dengan poster jajanan sehat, pengelolaan limbah, serta edukasi gizi dan literasi kantin.

4. Toilet Terbersih
Meliputi kebersihan fisik, ketersediaan air dan sabun, tempat sampah, sistem pembuangan, serta kontrol kebersihan. Poster adab dan keterlibatan petugas kebersihan memperkuat nilai sanitasi sekolah.

:Tim juri dari dua majelis akan terjun langsung ke sekolah-sekolah di wilayah kota, utara, maupun selatan Gresik. Kami tidak melakukan penilaian berbasis laporan, tapi observasi langsung. Karena itu butuh waktu hingga tiga bulan,” jelas Fatoni, sapaannya.

Juri berfoto bersama dengan para guru Perguruan Muhammadiyah Banyutengah Senin, 21 Juli 2025 (Tagar.co/Mardiyatul Faizun)

Dari Gerakan Sanitasi ke Kepedulian Sosial

LLSMS bukan program instan. Sejak pertama kali digelar pada tahun 2018 dan 2022, program ini telah mendorong perubahan nyata di lingkungan sekolah Muhammadiyah. Banyak sekolah mulai memperhatikan kualitas sanitasi, menata ulang toilet, memperindah taman, dan menciptakan suasana belajar yang lebih sehat dan nyaman.

Baca Juga:  Rajin Ibadah Bisa Gugur Jika Lima Hal Ini Tak Dijaga

Dampaknya tidak berhenti pada aspek fisik. LLSMS juga menumbuhkan kesadaran sosial yang meluas di kalangan siswa dan guru. Dari sinilah lahir program Filantropi Cilik, yang menggerakkan siswa untuk menyisihkan sebagian uang saku demi membantu sekolah lain yang membutuhkan. Gerakan ini memperkuat karakter gotong royong, kepedulian, dan solidaritas antarwarga sekolah—menjadikan LLSMS bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga pembentukan nilai.

“Akhirnya hal itu kami komunikasikan dengan pihak Lazismu. Dan dari sana muncul program Filantropi Cilik, di mana kami menggerakkan kepedulian anak-anak sekolah Muhammadiyah untuk saling membantu—antara sekolah yang satu dengan sekolah lainnya, antara siswa yang satu dengan siswa lainnya. Mereka berkontribusi dengan menyisihkan sebagian uang sakunya,” jelas Aziz.

Dana tersebut digunakan untuk memperbaiki toilet, menyediakan tempat sampah, hingga pengadaan air bersih dan taman sekolah. Dari kepedulian itulah gerakan ini terus bergulir dan menjadi pelengkap jiwa LLSMS.

“Kami ingin anak-anak belajar menyisihkan, bukan sekadar memberi. Mereka belajar bahwa kepedulian bukan soal besar-kecilnya bantuan, tetapi tentang keterlibatan. Di situlah nilai gotong royong dibangun sejak dini,” tambahnya.

Penilaian Kelas di MTs Muhammadiyah 6 Banyutengah (Tagar.co/Mardliyatul Faizun)

15 Juri, 80 Sekolah, dan Berakhir di Bawean

Penilaian LLSMS 2025 melibatkan 15 juri dari Majelis Dikdasmen dan PNF serta Majelis Lingkungan Hidup PDM Gresik. Mereka dibagi dalam tim-tim kecil berisi dua hingga tiga orang, dengan komposisi yang bergiliran setiap hari. Penugasan mencakup seluruh wilayah Gresik, dari kota hingga desa dan kepulauan, dengan jadwal rotasi selama lebih dari 40 hari.

Baca Juga:  Teologi Kepemimpinan: Kepala Sekolah Tak Cukup Menjabat, Harus Meninggalkan Legasi

Penilaian akan ditutup di Pulau Bawean pada Sabtu, 6 September 2025. Pembagian ini dirancang agar setiap sekolah dinilai dari berbagai sudut pandang: pendidikan, lingkungan, dan kesehatan.

“Kami ingin memastikan bahwa semangat sekolah sehat menjangkau semua, termasuk saudara-saudara kita di Bawean. Tidak boleh ada yang tertinggal,” ujar Fatoni.

Sebagai bentuk sinergi antarlembaga, program ini telah dilaporkan secara resmi kepada Dinas Pendidikan, Dinas Lingkungan Hidup, dan Kementerian Agama Kabupaten Gresik. Selain itu, panitia membuka ruang kemitraan bagi dunia industri dan masyarakat umum untuk mendukung gerakan ini melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“Kami membuka ruang kolaborasi. Siapa pun yang peduli pendidikan dan lingkungan bisa bergabung. LLSMS adalah investasi masa depan, bukan sekadar kegiatan seremonial,” tutur Aziz.

Awarding Ceremony

LLSMS 2025 akan ditutup dengan Awarding Ceremony pada 22 November 2025, bertepatan dengan Milad Muhammadiyah dan Hari Guru Nasional. Direncanakan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Abdul Mu’ti direncanakan hadir dalam acara tersebut.

Namun panitia menekankan, yang terpenting bukan siapa yang mendapat juara, tetapi siapa yang mampu menumbuhkan budaya.

“Kami tidak ingin lomba ini berhenti di piagam atau trofi. Kami ingin budaya bersih, sehat, dan peduli lingkungan menjadi karakter yang hidup dan diwariskan,” kata Aziz. (*)

Penyunting Sayyidah Nuriyah